Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Sistem Islam Menghadirkan BBM Milik Umat

TintaSiyasi.com -- Ada saja alasan pemerintah dalam menaikkan harga BBM, mulai dari naiknya harga minyak dunia hingga campuran bahan dalam proses pengolahan.  Idealnya, permasalahan ini hendaknya diatasi oleh pemerintah dan tidak dibebankan kepada masyarakat. 

 PT Pertamina (Persero) merilis harga bahan bakar minyak (BBM) jenis baru yaitu bioetanol kemungkinan lebih mahal dari Pertamax, karena merupakan campuran pertamax beroktan 92 dengan nabati etanol. 

VP Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Fadjar Djoko Santoso mengatakan BBM Pertamax akan dicampur 5 persen dari nabati etanol, sehingga Pertaminya menyebutnya dengan nama E5.

Lanjutnya, pihaknya belum dapat memastikan apakah harga bioetanol akan mencapai di atas Rp15 ribu perliter. Ia menegaskan Pertamina masih melakukan pengkajian.
“Masih dihitung dan sementara uji coba di Surabaya, Jawa Timur," lanjutnya.

Jika benar harga bioetanol di atas Pertamax, maka kisaran harganya ada di atas Rp12.500 per liter, mengingat harga BBM Pertamina dengan RON 92 itu resmi turun di Jawa dan Bali per 1 Juni 2023 dari Rp13.300 per liter ke Rp12.500 per liter.  

Kabar perilisan bioetanol mencuat dari Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati. Nicke mengungkapkan E5 akan diluncurkan Juni 2023 ini, dengan etanol yang akan digunakan berasal dari molases tebu. Ia menuturkan transisi energi bukan sekadar menurunkan karbon emisi, melainkan lebih penting lagi bagi Indonesia untuk mewujudkan kemandirian energi (CNNIndonesia.com/8/6/2023).

Produk Inovasi Teknologi tapi Memberatkan Masyarakat

Menurut Dosen dan Ahli Konversi Energi Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung (ITB),  Tri Yuswidjajanto Zaenuri, bioetanol alias E5 dinilai kurang stabil.  "Memang ada keuntungannya dengan menaikkan oktan. Jadi, ibaratnya bisa memanfaatkan nafta yang oktannya lebih rendah dari 92, ditambah dengan etanol akan menjadi 92," kata Yus. 

Secara keuntungan, lanjutnya untuk Pertamina lebih bagus, karena nafta yang lebih rendah kan harganya juga lebih rendah. Tapi, harga etanol juga naik turun, fluktuatif. Kalau misalnya harga etanolnya lebih tinggi dari bensin RON 92, berarti nombok.

Untuk kendaraan, etanol bisa menaikkan oktan. Tapi, ada sisi lainnya, yaitu sifat hidroskopis atau menyerap air, yang dimiliki oleh etanol. Sehingga, di tangki nantinya akan banyak air.  “Kalau airnya terserap ke dalam mesin, maka bisa mogok. Jadi, ada untung dan ruginya," lanjutnya. 

Yus menambahkan, etanol juga bersifat deterjen. Jadi, bisa sekaligus membersihkan bagian dalam mesin. Soal harga, menurut Yus, tergantung nantinya, bisa lebih mahal atau lebih murah. Sebab, bensin dan etanol punya pasarnya masing-masing. "Kalau etanol permintaannya lagi tinggi, harganya nanti juga akan naik. Sebab, ada hukum demand and supply. Jangan-jangan nanti seperti dulu lagi, etanolnya hilang atau mungkin kurang dari 5 persen," tambahnya (Kompas.Com/1/8/2023).

Pandangan Islam

Ketidakstabilan harga BBM akibat perubahan nilai dari proses produksi, memberikan dampak positif dan negatif, misalnya Bioethanol, bisa terjadi kemungkinan ethanol mengeluarkan emisi polutan beracun.yang sifatnya korosif. Walaupun kesannya diambil dari alam dan telah difermentasi.

Disisi lain menaikkan harga tentu saja menguntungkan para pembisnis untuk mengambil peluang besar dalam pengelolaan BBM jenis tersebut, sedangkan masyarakat dengan penghasilan terbatas dapat berdampak pada pengeluaran sehari-hari.  

Kebijakan ini tidak terlepas dari  sistem yang diadopi negeri ini yaitu sistem kapitalis-sekuler.  Sistem ini mengutamakan manfaat (modal serendah-rendahnya untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya). Wajar saja materi yang diutamakan karena agama dipisahkan dari kehidupan.  Agama tidak menjadi standar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Berbeda jika negeri ini menerapkan sistem Islam kaffah, tentunya akan tercipta kemakmuran.  Karena negara akan menerapkan hukum-hukum Allah SWT, yaitu pengelolaan sumberdaya alam (SDA) oleh negara bukan oleh swasta asing/aseng, untuk kesejahteraan masyarakat.

Pada sistem Islam, pemimpin yang hadir adalah pemimpin amanah yang menjalankan pemerintahan semata-mata untuk mendapatkan ridha Allah SWT, bukan materi.  Sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Tidaklah seorang manusia yang diamanati Allah untuk mengurusi urusan rakyat lalu mati dalam keadaan ia menipu rakyatnya melainkan Allah mengharamkan surga baginya.” (HR Bukhari)

Semoga sistem Islam kembali tegak, sehingga kebijakan pemerintah dapat mensejahterakan masyarakat, layaknya zaman kegemilangannya selama 13 abad.  Wallahu'alam bishshowab.[]

Oleh: Nasrawati Alwan
(Pegiat Literasi)


Baca Juga

Post a Comment

0 Comments