Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Fenomena Ambisumer Korea Selatan, Rela Irit Makan Demi Barang Branded

Tintasiyasi.com -- Memang sulit untuk mampu menahan segala jenis hawa nafsu dunia,  apalagi mengejar urusan materi terlebih tatanan dunia saat ini dikuasai sistem kapitalisme. Dalam sistem ini nilai suatu kebenaran tidak diukur oleh agama melainkan kebebasan dan hawa nafsu.

Akibatnya orang yang hidup di sistem rusak ini tidak memilik pola fikir yang benar, karena mereka akan melakukan segala aktivitas berdasarkan naluri keinginannya, tanpa melihat halal dan haram. Tak terkecuali generasi milenial saat ini, potensi mereka tergerus arus yang salah, sehingga penampakan remaja saat ini bukan viral karena prestasi dan ketakwaannya melainkan viral karena sensasi.

Karena lemahnya berfikir yang benar, remaja saat ini cenderung berprilaku mengikuti  perasaan terlebih Industri hiburan saat ini dikuasai Korea Selatan. Cengkraman industri hiburan ini menjajal berbagai jenis hiburan, dari film, fashion, dan musik. Hal ini menyebabkan  generasi milenial umat Islam benar-benar terjerat secara penuh  dan menjiplak kebudayaan bangsa lain.

Tentu hal ini sangat berbahaya karena  bertentangan dengan syariat Allah.  Seperti adanya fenomena yang terjadi di Korea Selatan saat ini,   yaiitu  fenomena "ambisumer" istilah ini merupakan gabungan dari kata "ambivalent" dan "consumer" yang mengacu pada konsumen yang mempolarisasi konsumsi menurut nilai-nilai mereka.

Dengan kata lain fenomena ini adalah,  orang yang berani membeli barang-barang branded bernilai, namun dia harus menghemat biaya makan sehari-hari. Patut kita ketahui, saat  ini Korea Selatan sebagai kiblat hiburan dunia,   sehingga membentuk pola masyarakatnya menjadi hedon, mereka dipaksa  harus tetap "outstanding", walaupun penghasilan mereka pas-pasan, namun mereka rela menghemat makan demi membeli barang branded hanya untuk memenuhi gaya hidup.

Berdasar informasi dari menurut EuroMonitor,  yang dihimpun oleh Liputan 6 pada Kamis (26/04/2023), menuliskan bahwa, di Korea Selatan penjualan produk fashion mewah pada tahun 2022 naik secara signifikan. Di mana barang branded dengan nilai fantastis terbesar dunia dibeli oleh orang Korea Selatan. Tak hanya itu budaya flexing ternyata jauh lebih diterima secara sosial di masyarakat Korea Selatan, padahal di sisi lain masih banyak orang Korea Selatan yang hidup kekurangan.

Namun kondisi sosial seperti itu malah memaksa mereka hidup "cukup" dengan makan seadanya demi meningkatkan taraf hidupnya dengan membeli barang branded. Fakta  ini pun menjadi ironi, tingginya pemakaian barang mewah oleh masyarakat Korea selaras dengan pembelian dosirak, yaitu kotak bekal khas Korea yang umumnya dijual di minimarket dengan harga yang sangat murah.

Terdapat warga Korea berpakaian mewah justru membeli dosirak. Tentu pemandangan ini sangat jomplang berpakaian mahal tapi membeli makan dengan harga yang sangat murah. Hal tersebut memunculkan istilah "jjantekeu" yang merupakan gabungan dari jjandolie orang pelit dan jaetekeu investasi. Jadi mereka pelit membeli kebutuhan makan sendiri semata-mata untuk membeli barang branded sebagai investasi.

Seperti dihimpun Liputan 6 pada  Kamis (26/04/2023), Jeong So-yeon, peneliti senior di KB Securities mengatakan, “Dari perspektif jangka panjang ini menjadi polarisasi. Yaitu keadaan di mana mereka membelii barang mewah melambung, namun kebutuhan sehari-hari (makanan) mereka membelanjakan dengan harga yang murah dan ini  telah menjadi biasa.". Hal ini semata-mata untuk menaikkan gengsi.

Menurut pandangan mereka memakai barang branded bisa sebagai investasi untuk menaikkan "strata sosial", terutama bagi generasi MZ (milenial dan Gen-Z) yang membuat mereka merasa lebih mudah percaya diri, mendapatkan koneksi pekerjaan, dan berbagai benefit lainnya secara sosial.

Apabila dicermati,  fakta di atas begitu ngiris. Tentu sebagai muslim budaya tersebut bisa menjerumuskan pada sikap hedon dan sia-sia. Ini merupakan ancaman bagi generasi Islam, karena tidak  menutup kemungkinan bahwa budaya tersebut bisa menjalar, mengingat saat ini dunia hiburan tengah berkiblat pada Korea Selatan, yang sedang menduduki raja  industri hiburan. Lantas peran apa yang bisa kita upayakan untuk membendung budaya tersebut?

Islam dan Harapan Jaminan Kebahagian Hakiki

Untuk mampu menjawab tantangan zaman di atas tentu Islam mempunya solusi yang hebat. Sejatinya Islam adalah agama yang sempurna yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Berbeda dengan agama yang lain, Islam tidak mencukupkan diri untuk menjalankan agama hanya pada individu saja. Islam adalah agama yang  harus dijalankan pada seluruh aspek kehidupan dalam bingkai negara, baik ekonomi, sosial, politik, pergaulan dan sebagainya. Islam sebagai asas negara adalah harga mati yang harus dijalankan, karena aqidah Islam, sebagai fillter segala jenis pemikiran yang bertentangan dengan syariat Islam.

Termasuk di dalamnya racun-racun pemahaman yang saat ini tengah menjadi pusat perhatian milenial. Sebagai bagian dari ajaran Islam, dakwah adalah kewajiban mulia yang Allah perintahkan kepada hambanya, peran dakwah adalah melakukan pembinaan kepada setiap individu, seperti  memahamkan akan pentingnya bersikap sederhana dan tidak berlebihan, Islam pun melarang melakukan  aktivitas yang sia-sia, seperti firman dalam ayat Al Qur'an Al-Mukminun ayat 3:

                              وَالَّذِيْنَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُوْنَ

“Dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna”.

Karena itu sejatinya, setiap perbuatan manusia akan dihisab di sisi Allah. Hal ini akan mendorong kesalehan individu untuk senantiasa taat kepada Allah. Islam adalah aqidah khas,  yang berbeda dengan ideologi lain, termasuk cara Islam memandang kebahagiaan yang bukan bersumber dari materi saja. Kebahagiaan dalam Islam harus meliputi dunia dan akhirat.

Kebahagiaan yang hakiki adalah kebagian tanpa batas, apabila seseorang selama di dunia taat menjalankan perintah Allah, maka taatnya akan menghantarkan dia ke surga-Nya, sebaik-baiknya tempat kembali adalah surga. Itulah kebahagiaan yang hakiki.

Dalam surat Al-Mukminun, Allah SWT menyebutkan kriteria orang-orang yang beruntung. Makna beruntung di sini adalah mereka yang mendapatkan kebahagiaan dunia akhirat.

وَأَمَّا ٱالَّذِينَ سُعِدُوا فَفِي اٱلْجَنَّةِ خَٰلِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَاٱلْأَرْضُ إِلَّا مَا شَآءَ رَبُّكَ ۖ عَطَآءً غَيْرَ مَجْذُوذٍ

“Ada pun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu mengehendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya”. (QS. Al-Hud: 108).

Maka  kebahagian bukanlah datang dari sudut pandang manusia, yang selama ini menitikberatkan kebahagiaan  meteri. Bahagia itu buah ketaatan kita kepada Allah, serta berharap kepada-Nya. Wallahu 'Alam bishshawab.[]

Oleh: Anastasia, S.Pd.
(Penulis)
Baca Juga

Post a Comment

0 Comments