Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Pelecehan oleh Dosen, Sampai Kapan?


TintaSiyasi.com -- Pelecehan di Universitas Andalas (Unand) membuat heboh jagat maya. Dosen di Fakultas Hukum berinisial Z diduga melakukan pelecehan seksual terhadap mahasiswinya. Pelecehan dilakukan dengan cara menggoda dan mengambil foto yang membuat korban tidak nyaman (Tribunwow.com, 12/06/2023). Kedudukan sebagai dosen disalahgunakan untuk mencari kesenangan.

Inilah fakta bahwa kampus ternama nyatanya tidak menjamin pengajarnya untuk jauh dari perbuatan tercela. Sungguh mengerikan dan membuat geram, berapa banyak mahasiswi yang sudah menjadi korban. Menderita, berada diantara tekanan dan pertahankan kehormatan.

Kampus adalah miniatur masyarakat bahkan bagian dari masyarakat. Tidak ada bedanya apakah kampus itu ternama atau tidak, tetap berada dalam sistem yang sama. Maka tata aturan didalamnya akan sama juga.

Rasanya sudah tidak mengherankan, di zaman sekarang banyak terjadi kasus pelecehan. Berita serupa terus tayang di media massa. Karena memang begitu faktanya. Bahkan di lembaga pendidikan, pelecehan juga sering terjadi, baik di sekolah umum, sekolah Islam, maupun sekolah tinggi. Jika ini terus terjadi, lantas apa kabar nasib negeri ini?

Satu hal yang tidak layak dan memalukan, kejahatan terjadi di tempat yang hakikatnya mengajarkan kebenaran. Sekolah maupun kampus seharusnya tidak hanya berorientasi dalam hal penguasaan akademik, tapi juga untuk membentuk kepribadian yang baik pada pelajarnya. Maka jelas pengajarnya harus berkepribadian baik terlebih dahulu.

Yang menjadi bahan pemikiran adalah mengapa kasus semacam ini terus terjadi dan lestari? Padahal sudah ada penindakan, apakah tidak memberi efek jera? Kasus serupa terus bermunculan, seakan hilang satu tumbuh seribu. Mengapa negara yang memiliki kekuasaan penuh tidak mampu menyelesaikan ? Karena makin lama abai maka akan makin banyak korban. Masalah tidak selesai hanya dengan memangkasnya, tetapi harus dicabut hingga ke akar. Jika tidak, maka akan terus menjalar dan semakin runyam. Lantas apakah yang menjadi akar masalah?


Salahnya Orientasi Kehidupan

Pelecehan salah satu bentuk kejahatan. Seharusnya ada hukuman yang menjerakan. Bukan hukuman atas dasar pertimbangan, bahkan masih memberi peluang pelaku melakukan kesalahan.

Pelecehan terjadi disebabkan orientasi kehidupan yang dangkal. Menjadikan kesenangan jasmani sebagai tujuan tertinggi. Jangankan berstandar aturan Ilahi, mereka hanya mencari keuntungan diri. Tanpa peduli pada mereka yang tersakiti. Menghalalkan segala cara, melupakan kepatutan atau kemuliaan akhlaknya.


Rapuhnya Sistem Pendidikan

Kasus ini menunjukkan bobroknya sistem pendidikan, baik pendidikan formal maupun dalam keluarga. Pendidikan seharusnya menjadi pondasi yang kokoh. Dengan setiap aspek pendukungnya yang juga berkualitas.

Namun, nampaknya pondasi itu telah rapuh. Keluarga tidak mampu menjadi pertahanan utama. Lembaga pendidikan juga tak fokus dengan tujuan. Terlebih lagi lingkungan, pergaulan, dan aturan yang memelihara kebebasan. Menambah pemicu kemaksiatan dan kezaliman.


Orientasi Kapitalis

Tidak ada asap jika tidak ada api. Tidak ada akibat jika tidak ada sebab. Sebab itulah yang menjadi akar masalah yang senantiasa membuat kerusakan. Menghancurkan tatanan kehidupan dan generasi penggerak peradaban.

Masalah pelecehan terus berulang walaupun sudah ada penindakan. Tapi nyatanya ini tak membuat jera apalagi untuk menghentikan niat kejahatan pelaku lainnya. Maka ini jelas problem yang sistemik, yang melibatkan peran negara.

Perlu disadari bahwa sistem kapitasme yang diemban negara sudah menunjukkan kegagalannya. Bagaimana tidak? Sistem kapitalis memiliki orientasi materialisme. Menganggap berbagai aspek dapat dijadikan komoditas perdagangan. Begitu juga dengan pendidikan yang menjadi proyek besar para pemilik kapital.

Pendidikan disuguhkan seadanya, begitu juga dengan kualitas pengajarnya. Lembaga disibukkan dengan birokrasi. Hingga luput dari tujuan pendidikan hakiki.


Jadikan Islam sebagai Solusi

Sungguh miris negeri ini. Mayoritas penduduk muslim tetapi tidak menerapkan aturan Ilahi. Justru sistem pendidikan mengadopsi dari Barat, yang jelas-jelas jauh dari syariat.

Dosen harusnya membentuk generasi berkarakter unik yaitu sosok yang memiliki kepribadian Islam. Mempersiapkan agen of change yang berperan sebagai problem solver bukan problem maker. Sehingga untuk mewujudkan itu, dosen harus berkepribadian Islam terlebih dahulu.

Penerapan Islam secara kaffah oleh negara dalam semua aspek kehidupan, menjadikan umat hidup dalam kebaikan. Akalnya terpelihara, agamanya terjaga dan kehormatannya senantiasa mulia. Sistem sanksi sebagai penjagaan agar tidak terjadi penyimpangan. Ketegasannya mampu memberi efek jera dan pelaksanaan hukuman mampu menjadi penebus dosa.

Pendidikan dalam Islam bertujuan membentuk kepribadian Islam pada generasi. Hingga mampu menjauhkan dari perbuatan keji semisal pelecehan. Para wanita hidup mulia, para pemuda terus berkarya melakukan perubahan berlomba dalam kebaikan, dan anak-anak senantiasa dalam bimbingan.

Maka hanya kembali kepada Islam, jalan memutus mata rantai kekejian. Tinggalkan kapitalisme yang telah gagal dan membawa kerusakan. Hidup mulia di bawah naungan Islam Rahmatan Lil alamin.

Wallahu a’lam bishshawab. []


Oleh: Ai Qurotul Ain
Aktivis Dakwah
Baca Juga

Post a Comment

0 Comments