Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Islam Adalah Solusi Permasalahan Remaja Hingga ke Akarnya

TintaSiyasi.com-- Berbicara persoalan remaja memang tidak akan ada habisnya, terlebih di era sistem sekuler saat ini, hari berganti hari pemberitaan atas kasus yang dilakukan oleh remaja makin marak dan terus berulang. Realitas tersebut tentunya mendatangkan keprihatihan bagi kita semua. Karena Pemuda yang seharusnya menjadi ujung tombak kemajuan dan penerus peradaban yang gemilang, kini menjelma menjadi kelompok usia yang kerap mengundang keprihatinan karena sering menyebabkan tindakan kriminal yang meresahkan, mulai dari narkoba, seks bebas, LG8TQ, pencurian, pengeroyokan, tawuran, hingga pembunuhan.

Bahkan belakangan ini publik diramaikan dengan pemberitaan yang berkaitan dengan fenomena perang sarung. Perang sarung atau tarung sarung merupakan sebuah tradisi kebudayaan suku Bugis. Namun, seiring perjalan waktu, tradisi tersebut kini banyak disalahgunakan oleh para remaja yang kebanyakan merupakan pelajar. Para remaja utamanya, para Anak Baru Gede (ABG) menjadikan tradisi tarung sarung tersebut, sebagai ajang tawuran yang dilakukan selama bulan Ramadan. Hal ini dapat dilihat dari cukup maraknya kasus perang sarung yang dilakukan oleh para ABG di sejumlah wilayah Indonesia.

Salah satunya seperti yang terjadi di Kabupaten Tegal Jawa Tengah, perang sarung terjadi di Desa Randu sari Pagerbarang, dari kejadian perang sarung ini mengakibatkan korban meninggal dunia, korban tewas merupakan pelajar SMP, jenazah korban telah dibawa ke RSUD Soesilo Slawi untuk dilakukan autopsi. Hingga saat ini, pihak kepolisian masih terus melakukan penyelidikan dan mendalami kasus tersebut. (https://banyumas.tribunnews.com, 2023/04/11)
 
Tak hanya di tegal Jawa Tengah, jajaran polsek Rancasari juga menggalkan perang sarung antar kelompok anak-anak di Jalan terusan Saluyu Kecamatan Rancasari Kota Bnadung pada hari Selasa (4/4/2023) malam. Kapolsek Rancasari, Kompol Oesman Iman mengatakan kelompok anak-anak yang masih merupakan anak-anak di bawah umur itu langsung membubarkan diri saat ketahuan ada anggota yang sedang berpatroli. Beruntungnya kejadian perang sarung tersebut segera diketahui polisi dan perang sarung berhasil digagalkan. (https://jabar.tribunnews.com, 2023/04/05).
 
Fenomena perang sarung yang kian marak terlebih pada kondisi bulan Suci Ramadan cukup memprihatinkan. Mengingat, bulan suci Ramadan merupakan momentum untuk memupuk keimanan dan ketakwaan seharusnya diisi dengan kegiatan-kegiatan positif yang dapat mendekatkan diri kepada sang pencipta, tapi justru digunakan oleh para remaja untuk melakukan aktivitas yang negatif mengancam nyawa.

Sarung yang seharusnya digunakan sebagai perlengkapan ibadah malah mereka gunakan untuk perang dimana bagian ujungnya diisi dengan sejumlah benda keras, seperti batu atau kayu. Lalu, ujung sarung yang sudah terikat itulah yang mereka pukulkan ke lawan mereka disaat mereka melakukan tawuran. Mirisnya lagi, aktivitas membahayakan itu biasanya dilakukan ketika orang-orang tengah khusuk melakukan Salat Tarawih hingga menjelang waktu sahur. Kondisi ini tentunya tidak bisa terus dibiarkan. Harus ada pengawasan khusus dari para orang tua serta semua pihak agar anak-anak tidak melakukan aktivitas berbahaya tersebut.
 
Ketika berbicara  penganiayaan, tawuran, narkoba, bentrokan yang dilakukan para remaja, pastinya ini terjadi karena dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Pertama faktor internal berasal dari dalam diri anak atau pelajar sendiri, diantaranya karena krisis identitas dan kontrol diri yang lemah. Krisis identitas, maksudnya pelajar belum bisa memahami hakikat hidup dan dirinya. Tidak paham hakikat penciptaan, untuk apa sebenarnya dia diciptakan ke dunia ini. Jadinya  bingung bagaimana mengisi masa remajanya dengan baik dan efektif.

Dengan kata lain, ia gagal paham tentang untuk apa masa remajanya itu? yang seharusnya diisi dengan kegiatan yang bermanfaat, bukan dengan kegiatan yang merusak seperti tawuran yang ujung-ujungnya melukai orang lain. Apalagi dengan kontrol diri yang lemah, banyak  pelajar kurang bisa mengendalikan diri atas potensi kehidupan yang dia miliki, khususnya naluri mempertahankan diri (gharizah baqa).

Pada dasarnya, sejatinya setiap diri pelajar memiliki kebutuhan jasmani yang harus dipenuhi. Jika tidak dipenuhi, maka fungsi biologis tubuhnya akan terganggu. Contohnya, kebutuhan minum. Jika dalam waktu sekian lama ia tidak minum, maka tubuhnya bisa dehidrasi dan bisa menyebabkan kematian. Selain kebutuhan jasmani, pelajar juga diberikan potensi oleh Allah Swt. berupa naluri. Naluri manusia ada tiga yaitu naluri beragama (gharizah taddayyun), naluri berkasih sayang (gharizah nau’) dan naluri mempertahankan diri (gharizah baqa’). Ketiga naluri ini dipicu/dirangsang dari luar diri pelajar.Yang paling dominan dari segi remaja adalah naluri mempertahankan diri (gharizah baqa’) pada diri pelajar inilah yang harusnya diatur pemenuhannya dengan mengalihkan pada kegiatan fisik lain yang positif. Pelajar perlu dibekali cara menahan dan mengendalikan diri saat rangsangan dari luar dirinya terjadi seperti ejekan teman atau bullying misalnya.

Selanjutnya, faktor kedua penyebab tawuran pelajar adalah faktor eksternal yang utamanya berasal dari lingkungan. Lingkungan ini bermacam-macam bisa berasal dari pengaruh teman sebaya, tayangan media dan kurangnya pengawasan orang tua. Sekuat-kuatnya pelajar menjadi orang baik, ia tetap butuh dukungan dari faktor eksternal yang positif dan baik. Pengaruh lingkungan ini sangat besar pengaruhnya kepada pembentukan karakter diri pelajar.

Tawuran maupun kekerasan yang dilakukam pelajar itu masalah sistemis, jadi untuk menyelesaikannya ya butuh solusi sistemis juga. Masalah pelajar ini, kalau kita pelajari secara mendalam, terjadi karena efek penerapan sistem sekuler kapitalisme. Imbasnya sangat luas terhadap kehidupan pelajar.

Hasil pendidikan sistem sekuler menghasilkan akhlak murid yang tidak lagi memperhatikan adab sopan santun kepada guru, anak makin ngelunjak kepada orang tuanya, diingatkan anak menjadi makin kasar, mudah terpancing emosinya, kata-katanya kasar, dan seterusnya. 

Jelas solusi satu-satunya adalah kembali kepada sistem Islam. Islam bukan hanya sebatas agama ritual saja, ia adalah sebuah sistem yang mempunyai solusi untuk menyelesaikan semua permasalahan hidup, tak terkecuali dalam permasalahan remaja ini. Islam memberikan pedoman bagaimana  bertingkah laku, adab dan akhlak yang baik. Islam memberikan aturan yang jelas tentang cara menjadi orang baik. Sebagai sistem yang kafah (menyeluruh), tentu Islam memiliki solusi hingga ke akar masalahnya. Termasuk untuk permasalahan tawuran remaja ini, adanya Tim Patroli Presisi dari kepolisian saja tidak cukup untuk menyelesaikan masalah tawuran pelajar. 

Beberapa poin yang harus kita cermati bersama  yakni:

Pertama, Islam memberikan petunjuk tentang cara membentuk karakter pelajar yang baik. Dalam hal ini, butuh dukungan dari keluarga. Orang tua berperan penting mendidik anak dengan panduan Islam, dan ini  harus dipahami oleh anak sehingga anak paham hakikat kehidupan dan tujuan hidupnya.

Kedua, lingkungan sosial yang positif seperti saling support antar tetangga dan antar orang tua siswa. Media sosial tidak boleh menayangkan kekerasan fisik/nonfisik yang bisa dicontoh anak, seperti bullying dan seterusnya. Semua elemen kompak dan saling support. Batas kesopanan dan adab bukan ditentukan oleh pendapat individu. Ini karena antar orang itu berbeda-beda pemikirannya. Syariat Islam telah menentukan batasan baik/buruk itu, juga tentang halal/haram yang semuanya sudah jelas, tidak boleh sembarangan.

Ketiga, negara dalam sistem Islam kafah menerapkan aturan tegas dan sistem sanksi yang bisa memberikan efek jera sehingga kejadian tersebut tidak akan berulang.

Maka, sudah jelas Islam dengan tegas melarang kekerasan, menyakiti orang lain dan melakukan kejahatan baik verbal maupun fisik. Remaja juga harus tahu bahwa kejahatan (jarimah) dalam sistem Islam kafah itu memiliki sanksi yang tidak main-main. Sanksi dalam Islam bisa memberikan efek jera supaya tidak ikut-ikutan tawuran salahsatunya.

Sanksi tersebut bisa menjerat remaja karena usia remaja dengan batasan baligh berarti sudah pasti dia adalah sudah menjadi manusia dewasa, tentu ia sudah terkena taklif (terbebani oleh aturan Islam). Dan yang pasti sistem Islam kafah juga akan bisa mendekatkan jiwa manusia kepada Sang Khalik, Allah SWT.  Dengan ini akan mencegah remaja terjerumus kepada hal-hal yang tidak sesuai aturan agama. Wallahu'alam bishshawab.[]

Oleh: Wina Apriani
(Aktivis Muslimah)

Baca Juga

Post a Comment

0 Comments