Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Ada Islamofobia Mendarah Daging di Eropa


TintaSiyasi.com -- Direktur Forum on Islamic World Studies Farid Wadjdi mengamati terulangnya pembakaran Al-Qur’an yang dilakukan oleh Rasmus Paludan mencerminkan islamofobia yang mendarah daging di Eropa. “Pembakaran Al-Qur’an jelas, mencerminkan islamofobia yang mengurat dan mendarah daging di Eropa dan negara Barat lainnya,” tegasnya dalam kanal YuoTube Kabar Petang Khilafah News: Butuh Aksi Nyata Sikapi Pembakaran Al-Qur'an di Swedia, Rabu (25/1/2023).

Farid mengatakan, apa yang dilakukan oleh politisi sayap kanan Swedia Rasmus Paludan ini, jelas mencerminkan kebencian yang sangat luar biasa terhadap Islam, karena bagaimanapun juga Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam. Terbukti pemerintah Swedia tidak memberikan sanksi apa pun terhadapnya. Malah mengatakan ini merupakan bagian kebesaran berekspresi. Bahkan North Atlantic Treaty Organization (NATO) dan Turki menjadi bagian di dalamnya yang tidak melakukan kecaman ikut mengatakan yang sama.

Ia melanjutkan, pembakaran ini dilakukan di depan kedutaan Turki. Rasmus Paludan bermaksud ingin mempermalukan umat Islam, dengan menodai Al-Qur’an dan membakarnya. “Sesungguhnya ini merupakan tamparan keras bagi negara Turki,” katanya. 

Sebab, “Kerap kali ia menunjukkan representasinya kepada umat Islam, dan bagi Rasmus Paludan, Turki tidak bisa apa-apa berhadapan dengannya. Karena ia akan dibela oleh negaranya,” jelas Farid dalam membongkar kedoknya.

Maka ia menyebut ada empat faktor hal seperti ini terulang kembali antara lain: Pertama, kebencian terhadap Islam yang sudah mendarah daging, mengurat bahkan berakar. Di mulai dari perang salib di mana negara-negara Eropa terhadap kekuasaan politik Islam yakni Khilafah ala minhaj nubuwah pada waktu itu luar biasa.

Kedua, mencerminkan apa yang disebut kekawatiran pengaruh Islam yang akan makin menguat di dunia menggantikan kapitalisme. Ketiga, menguatnya islamofobia yang tidak bisa dipisahkan dari kebijakan negara Barat itu sendiri, yaitu kebijakan war on terrorism dan war on radicalism. Dua kebijakan itu sesungguhnya jelas-jelas mengarah kepada Islam. Apa yang disebut teroris ataupun radikalisme itu adalah Islam dan kaum Muslim. 

Keempat, hal seperti itu terus berulang karena mempunyai pengaruh besar dalam politik internasional. Sebab sekarang ini tidak ada lagi negara Khilafah Islamiah yang menjadi perisai kaum Muslim. Itu hanya ada dan terjadi ketika umat Islam di masa kejayaannya ketika dahulu memiliki Khilafah.

“Jadi empat faktor itu yang membuat kemudian islamofobia makin menguat yang tercermin dari pembakaran terhadap kitab suci Al-Qur’an ini. Padahal, pembakaran Al-Qur’an jika menurut syariat Islam, perbuatan seperti ini jelas akan disikapi dengan sikap tegas,” katanya. 

Lebih jauh dijelaskan, negara menganggap semua ini sebagai perkara yang amat sangat serius apalagi terkait dengan Al-Qur’an. Sebab negara dalam Islam yang didasarkan kepada akidah Islam, menjadikan syariat Islam sebagai pedoman hidup mereka dalam segala pengaturan semua aspek kehidupan, baik itu dalam negara atau luar negara, “Mesti tegas terhadap negara-negara yang menghina Islam,” tegasnya lebih lanjut.

“Inilah juga yang ditunjukkan oleh para khalifah ketika ada nyawa umat Islam yang terancam, ada kehormatan dan kemuliaan umat Islam yang terancam. Kita tahu di masa akhir kekhalifahan Utsmani, meskipun pada waktu itu Utsmani sudah dalam keadaan mundur. Tetapi masih memberikan peringatan keras terhadap Eropa yang pada waktu itu hendak mengangkat drama menghina kaum Muslim, dengan mengancam jihad fisabilillah untuk memerangi Eropa. Pada akhirnya membuat pemutaran drama yang menghina Rasulullah SAW itu kemudian dihentikan," bebernya.

Di sisi lain ia menambahkan wacana, Imam Al-Mawardi juga mengatakan ada tugas pokok negara, yaitu menjaga agama ini. “Tugas khalifah adalah menjaga agama ini dan mengatur urusan-urusan kaum Muslim. Karena kemuliaan agama, menjadi hal yang sangat penting dalam pandangan Islam. Demikian juga dalam hal politik luar negeri,” kutipnya.

Negara Global

Ia menyampaikan wawasan, umat Islam membutuhkan negara global yang menyatukan negara-negara Islam, yaitu negara yang merepresentasikan umat Islam, kepentingannya, dan aspirasinya, untuk menghentikan penderitaan agar tidak berulang seperti ini.

“Negara yang berdasarkan Islam, maka Islam yang direpresentasikan oleh negaranya tidak akan membiarkan penghinaan ini terjadi, tetapi akan memberikan sanksi yang tegas, bukan hanya sekadar mengecam saja. Ini yang sekarang tidak kita lihat di tengah-tengah umat Islam,” bebernya.

Menurutnya, apa kiranya yang harus dipikirkan oleh penguasa negara-negara Muslim untuk menghentikan perbuatan ini? “Pemutusan hubungan diplomatik total dengan negara yang membiarkan penghinaan terhadap Al-Qur’an ini akan memberikan pelajaran kepada mereka, yaitu pemutusan dari segala aspek baik ekonomi, sosial, dan budaya,“ tuturnya. 

“Karena sesungguhnya negara Islam kalau bersatu adalah negara yang sangat kuat, sebab akan menggunakan kekuatan alam sebagai senjata politik untuk memberikan pelajaran kepada negara-negara yang memusuhi umat Islam,” imbuhnya.

Namun sayang, katanya, hal seperti itu tidak bisa kita bayangkan terjadi pada penguasa-penguasa negeri Islam sekarang. Karena mereka menjadi bagian dari boneka-boneka negara Barat dan itu tidak terbayangkan kalau itu dilakukan hanya sendiri. Karena di samping adanya penguasa yang berani menentang Barat, umat Islam juga membutuhkan negara global yang menyatukan negara-negara Islam.

Ada hal yang menarik dari diskusi aktivis Islam di Eropa, “Kenapa sekarang ini islamofobia menguat di Eropa? Tidak lain karena ini tidak bisa dipisahkan dari makin menurunnya pamor kapitalisme, bahkan di negara Barat sendiri rakyatnya melihat, bagaimana kapitalisme telah gagal memberikan kebaikan kepada mereka. Fakta ini yang kemudian menjadikan sebagian orang-orang Barat yang mau berpikir itu kemudian melihat Islam sebagai Ideologi alternatif,” pungkasnya. [] Titin Hanggasari
Baca Juga

Post a Comment

0 Comments