Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Pemuda Tawanan Sistem


TintaSiyasi.com -- Pemuda adalah aset besar bagi peradaban, mereka adalah manusia dalam fase terbaik. Mulai dari fisiknya, energinya, semangatnya, pola pikir, dan intelektualitasnya serta ambisinya.

Oleh karenanya, peradaban yang ingin mencapai kejayaan pasti ingin memiliki kelompok pemuda dalam jumlah besar. Dengan kualitas terbaik dan ambisi yang menggelora. Begitu pula peradaban yang ingin menghancurkan bangsa lain, mereka pasti akan membidik pemudanya, menjadikannya lemah rusak dan tak bisa diandalkan.

Indonesia diperkirakan akan menghadapi era bonus demografi beberapa tahun ke depan, tepatnya pada tahun 2030 hingga 2040 mendatang. Bonus demografi yang dimaksud adalah masa di mana penduduk usia produktif (15-64 tahun) akan lebih besar dibanding usia nonproduktif (65 tahun ke atas) dengan proporsi lebih dari 60% dari total jumlah penduduk Indonesia.

Momentum tersebut tentu saja harus dihadapi dengan perencanaan yang matang. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengatakan, pemerintah saat ini tengah menggodok berbagai program untuk mewujudkan Visi Indonesia Emas 2045 (Kominfo.go.id).

Sayangnya di tengah berita segar mengenai bonus demografi ini, tak sedikit pemuda yang justru terlibat dengan tawuran, pergaulan bebas, narkoba, sindikat penculikan, pemerkosaan, L68T, bahkan pembunuhan.

Pemuda seperti ini tentu jauh dari harapan kebangkitan. Jangankan berkorban dan mengerahkan tenaga untuk umat, untuk menghadapi tantangan diri sendiri saja sering kali mereka sangat rapuh dan mudah depresi.

Di sisi lain banyak juga kelompok pemuda yang cerdas dan unggul dalam berbagai bidang, mulai dari olah raga, sains, seni dan bahkan tak sedikit dari mereka yang berkesempatan untuk berbicara didalam forum-forum internasional, memenangkan beragam penghargaan diajang bergengsi dan menduduki kampus-kampus ternama di negara-negara Barat. Namun dari sekian banyak prestasi yang mereka capai, tak satupun kepentingan Islam keluar dari lisan mereka.

Potret pemuda masa kini sangat berbeda dengan pemuda pada masa Daulah Islamiyah. Pemuda pada masa Daulah Islam senantiasa memiliki ambisi yang luar biasa dalam menolong agama Allah. 

Seperti Usamah bin Zaid di usianya yang masih 18 tahun tidak menciutkan nyalinya untuk memimpin pasukan yang anggotanya adalah para pembesar sahabat seperti Abu Bakar dan Umar untuk menghadapi pasukan terbesar dan terkuat di masa itu.

Kemudian ada Al-Arqam bin Abil Arqam di usia 16 tahun. Beliau menjadikan rumahnya sebagai markas dakwah Rasul SAW selama 13 tahun berturut-turut. Ada pula Muhammad Al-Fatih di usia 21 tahun berhasil menaklukkan Konstantinopel ibu kota Byzantium. Dan masih banyak pemuda-pemuda lainnya dengan visi misi yang luar biasa dalam menolong agama Allah.

Namun pemuda saat ini justru banyak yang malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang Muslim. Sehingga mereka jauh dari nilai-nilai Islam dan tidak mau mengenal Islam. Inilah dampak dari penyesatan ideologi yang dilakukan melalui moderasi agama, deradikalisasi, serta pembajakan potensi intelektual dan ekonomi pemuda.

Pemuda seolah-olah sedang disandera bak tawanan perang. Di mana pemikiran mereka diperangi melalui berbagai upaya penyesatan akidah terutama yang paling masif melalui food, fun and fashion. Kemudian adanya kebijakan politik yang menjauhkan mereka dari Islam, salah satunya peraturan yang mengharuskan sekolah-sekolah untuk menerapkan kurikulum yang jauh dari nilai-nilai Islam.

Selain itu kebijakan HAM juga sangat merusak idieologi kaum muda, padahal sejatinya Allah telah menurunkan aturan hidup berupa penerapan hukum syarak yang spesifik dalam setiap aspek kehidupan. Dan penerapan hukum syarak ini tidak diserahkan kepada manusia untuk menentukannya. Sebab, jika diserahkan kepada manusia untuk menentukan sendiri perbuatannya, pasti dia hanya akan melihat dari aspek yang 'menguntungkan atau merugikan' bagi dirinya. Artinya, jika suatu hal itu menguntungkan akan ia anggap baik. Sebaliknya, jika suatu hal itu merugikan akan ia anggap buruk. 

Pada akhirnya para pemuda akan bertransformasi menjadi generasi yang individualistis, hedonis, pragmatis bahkan pesimis dalam segala hal. Sudah saatnya pemuda bangkit dari berbagai macam serangan pemikiran yang melumpuhkan potensinya dan melepaskan statusnya sebagai tawanan sistem.

Para pemuda dapat kuat dan bangkit hanya dengan Islam. Kunci untuk menjadi umat mulia adalah berpegang teguh pada Islam. Sebaliknya meninggalkan Islam akan mengantarkan pada kehinaan. Maka penting bagi seorang pemuda untuk terus mencari tahu tentang peraturan hidup dalam Islam secara kaffah dengan senantiasa mengikuti majelis-majelis ilmu, mencari sircle yang senantiasa menjaga dalam ketaatan, serta senantiasa beramar makruf nahi mungkar.

Sehingga arah pemberdayaan pemuda Muslim tetap berada dalam koridor “penggerak perubahan”. Kunci utamanya adalah pemuda Muslim harus mau melepaskan dirinya dari kungkungan ideologi sekuler kapitalisme (liberal) dan segera melekatkan dirinya dengan ideologi Islam.

Terbukti, saat umat Islam berpegang teguh pada ideologinya, dan menjadikan Islam sebagai asas pembangunan generasinya, termasuk sebagai asas sistem pendidikan dan asas bagi sistem-sistem lainnya, lahirlah generasi cemerlang yang mampu membangun peradaban yang juga cemerlang. []


Oleh: Marissa Oktavioni, S.Tr.Bns.
Aktivis Muslimah
Baca Juga

Post a Comment

0 Comments