Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Anak Jadi Pelaku Kejahatan Seksual? Mengerikan!


TintaSiyasi.com -- Bagai jamur yang tumbuh subur di musim hujan, begitu pula dengan angka kejahatan seksual pada anak di negeri ini. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengungkapkan, sebanyak hampir 5 ribu aduan yang masuk, kasus tertinggi ada pada klaster anak jenis kasus anak yang menjadi korban kejahatan seksual dengan jumlah 834 kasus.

Tak bisa dibayangkan seberapa banyak kasus yang terjadi, karena hari ini semua layaknya fenomena gunung es. Yang muncul ke permukaan (tercatat di KPAI) lebih sedikit daripada yang terlihat (sebenarnya terjadi). Pun menjadi lebih mengerikan, tatkala anak menjadi pelaku kejahatan seksual pada anak.


Kasus Mojokerto

Kasus Mojokerto terkait anak SD yang menjadi pelaku pemerkosaan siswi TK baru-baru ini ramai. Diceritakan, kasus ini terjadi pada 7 Januari lalu. Korban, siswi TK mendapat perlakuan tak senonoh secara bergiliran oleh ketiga pelaku.

Korban dengan kondisi baju kotor pulang ke rumah, esoknya sempat mengeluhkan sakit saat buang air kecil. Untungnya, pihak keluarga (bisa) mengetahui itu setelah salah satu teman korban menceritakan apa yang dialami korban kepada pengasuhnya.


Tipisnya Jarak Kita dengan Kejahatan

Pelaku kasus Mojokerto tersebut merupakan tetangga dan teman sepermainan korban. Bukankah harusnya menyentak kita, setipis apa tembok penghalang antara kita dengan kejahatan (seksual) dan pelakunya? Ya, teramat tipis dan sedekat itu.

Di kehidupan hari ini, bahkan setelah membayar mahal, keamanan agama, nyawa, kehormatan dan harta sukar didapat. Hal itu karena, individu bebas bertindak semaunya. Bukankah isi kepala tiap individu berbeda dan tidak seorangpun tahu? Apalagi negara yang merupakan institusi utama yang menjaga keamanan warga negaranya bagai diamputasi perannya.


Kejahatan Seksual Marak, Pendidikan Nihil Hasil?

Jarak kejahatan yang teramat dekat dengan kita membuat dilema, siapa yang "baik"? Karena "baiknya" orang bahkan tidak bisa ditentukan oleh titel yang mentereng atau usia yang masih belia. Sungguh, mereka bisa jadi pelaku kejahatan seksual.

Pun membuat kita dilema, di tempat mana kita akan aman? Karena pada faktanya, pelaku kejahatan seksual bisa berada di mana saja, di lingkungan tempat tinggal bahkan di rumah sendiri, di bandara, di angkutan umum dan mirisnya di institusi pendidikan.

Berbicara terkait pendidikan, ditambah sederet fakta bahwa korban dan pelaku banyak yang berasal dari atap institusi ini, membuat diri bertanya, apa sebenarnya tujuan pendidikan? Apakah tujuan pendidikan tersebut selaras dengan hasil yang diraih? Atau yang paling dasar, landasan pendidikan seperti apa yang dipakai hingga hasilnya seperti ini?

Sejatinya, bukan Islam menjadi landasan berjalannya sistem pendidikan hari ini. Lantas bagaimana mungkin mengharap baik hasilnya jika progresnya tak selaras yang Maha Mengetahui? Pun tujuan daripada pendidikan, yang terdengar gaungnya adalah membentuk insan yang bertakwa nyatanya jauh dari harapan.

Tujuan pendidikan di sistem ini adalah tidak lebih untuk memupuk materi belaka. Maka, lihatlah setumpuk fakta terkait pelajar yang krisis akhlak, juga tetek bengek permasalahan lainnya yang ada termasuk kejahatan seksual. Hal ini karena tidak menjadikan agama sebagai pengurusnya.


Ekonomi Juga Menjadi Sebabnya

Di kehidupan hari ini, menjamurnya kejahatan seksual tidak hanya didukung oleh buruknya sistem keamanan dan sistem pendidikan yang nihil hasil. Namun juga sistem ekonomi yang "memaksa" orang tua keluar rumah sepanjang hari untuk mencari nafkah. Ada yang memang untuk kebutuhan, ada juga untuk "memoles" diri.

Anak kemudian dititipkan ke pihak lain, pengasuh misalnya seperti di kasus Mojokerto. Kedekatannya dengan orang tua pun tersekat. Tak jarang, kejadian-kejadian yang dialaminya, mengerikan sekalipun, tak terdengar orang tua. Jikalau masyarakat yang tahu justru abai, bagaimana nasib si anak yang jadi korban kejahatan seksual itu?

Orang tua pada akhirnya layaknya buah simalakama. Ketika bekerja, anak akhirnya dikesampingkan apalagi pekerjaan hari ini banyak memforsir waktu. Namun ketika tidak bekerja, keadaan perut justru tak terurus, atau bisa jadi keinginan hidup hedon terhambat.


Media Sekuler

Media sekuler tak tanggung-tanggung memberi dampak luar biasa. Walau banyak aturan terkait pelarangan konten-konten tertentu, tak jarang banyak yang tembus untuk tayang. Hal ini akan sangat berdampak negatif bagi pengguna media, apalagi anak-anak yang adalah peniru ulung.

Menjadi paket komplit ketika akidahnya rapuh, sistem pendidikan tak berlandas Sang Pengatur, pengawasan orang tua yang minim bahkan nihil, serta masyarakat yang mendiamkan terjadinya kemungkaran. Akan sangat mungkin jikalau kejadian-kejadian seperti kejadian Mojokerto kembali terjadi.


Islam Kaffah, Solusi Tuntas

Jika kita mencermati bagaimana pengaturan sistem pendidikan, ekonomi, keamanan, media juga akidah hari ini yang tak membendung persoalan kejahatan seksual, bisa ditarik benang merah bahwa akar dari segala sistem yang ada hari ini, sekularisme adalah musababnya. Sekularisme yang melumpuhkan peran agama, wahyu dari Sang Maha Mengetahui. Padahal dengannya, terselesaikan hingga tuntas permasalahan yang ada.

Akidah akan ditanam sejak dini, di relung tiap individu. Sistem pendidikan akan berstandar pada akidah Islam, membentuk kepribadian Islam bagi tiap pelajar. Sistem keamanan Islam akan memelihara agama, jiwa, kehormatan dan harta. Sistem ekonomi Islam juga bukan layaknya hukum rimba, yang kuat adalah pemenang. Begitu juga sistem penerangan/media, memfilter agar konten-konten haram dan nirfaedah tidak tayang.

Dengan demikian, solusi tuntas persoalan ini pun persoalan-persoalan lainnya adalah dengan mengubah akarnya, sekularisme dengan Islam. Islam adalah the one and only yang memiliki aturan lengkap, menyelesaikan segala persoalan hingga tuntas.

Wallahu a'lam bishshawab. []


Oleh: Khaulah
Aktivis Back to Muslim Identity
Baca Juga

Post a Comment

0 Comments