Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Stop Desakralisasi Al-Qur'an, Umat Butuh Khilafah Islamiyah

TintaSiyasi.com -- Beberapa hari ini, jagad media sosial Twitter hingga YouTube dihebohkan dengan beredarnya video seorang muslimah yang sedang membaca Al-Quran. Warganet membuat cuitan yang mengungkapkan kekesalan peristiwa itu. Konon di dalam video itu terdapat perbuatan niradab, yakni perbuatan yang tidak dibenarkan oleh syariat. 

Qoriah Nadia Hawasy angkat bicara usai videonya disawer saat mengaji Al Quran viral di media sosial. Nadia mengaku merasa tidak dihargai dengan aksi sawer tersebut. "Saya merasa tidak dihargai," ujar Nadia dalam pesan singkatnya kepada Kompas.com, Jumat (6/1/2023).

Namun, dia tidak bisa marah saat itu karena posisinya sedang mengaji. "Tidak mungkin saya mau langsung tegur atau saya langsung berhenti dan turun dari panggung karena itu termasuk adab dalam membaca Al Quran," ungkap Nadia. (Kompas.com, 6/1/2023)

Begitupun perkataan dari da'i muda Ustadz Hilmi Firdaus menyampaikan cuitannya di akun Twitter. Beliau memohon kepada Majelis Ulama dan juga para asatidz setempat mengingatkan bahwa hal ini sangat niradab. Bukan begitu cara memuliakan para Qori/ah. Menurut beliau, kalau ingin memberi uang bisa dengan cara yg berakhlak. Ini Tilawatil Quran bukan dangdutan. 

Wajar apabila sang Qariah merasa tidak nyaman dan terhina sejatinya itu muncul dari nalurinya sebagai Muslimah. Perasaan itu muncul secara alamiah tatkala banyak yang melihat nya. Anggapan mereka membaca Al-Quran ini dengan tujuan hiburan seperti dangdutan yang layak disawer. Kendati demikian, bukan berarti Qiraah ini suatu hal yang gampang untuk dilakukan sebab Al-Quran yang dibacanya. Perilaku tak beradab ini tentu tak bisa dinilai sebagai 'kebiasaan'. Tidak bisa dimaklumi dengan bentuk apresiasi terhadap nada tinggi dan alasan ngawur lainnya. Intinya adalah adab ketika dibacakan Al-Quran tetap harus diterapkan, bukan hanya menghargai si pembaca, tetapi penghormatan kita pada Al-Quran. 

Perilaku tak beradab ini sudah menjadi hal yang lumrah dialami dalam sistem kapitalisme-sekulerisme. Sekulerisme telah sukses membius umat dengan tak lagi mementingkan agama. Sedangkan standar hidup kapitalisme adalah materi. Yakni kebahagiaan hanya dinilai dari banyaknya uang. Seperti yang dicontohkan dua pemuda yang menyawer qoriah. Anggapan mereka saweran itu merupakan suatu penghormatan dan penghargaan bagi sang Qoriah. Anggapannya sang Qoriah akan bahagia selayaknya biduan dangdut yang mendapat saweran.

Desakralisasi seperti ini sangat berbahaya. Umat akan terjauhkan dari petunjuk yang hak. Mereka tak akan menjadikannya sebagai panutan atau petunjuk hidup. Alhasil, kaum muslimin akan hidup dalam aturan bukan Islam. Parahnya, sisi gelap jahiliyah bisa kembali dan merusak umat muslim.

Sejatinya Qiraah adalah ketrampilan atau seni dalam membaca dengan suara merdu dan enak didengar. Adab membaca Alquran sendiri sudah diajarkan sejak dini didalam ban-bab fikih, bahkan saat kita tamat bacaan Iqro' nya. Tidak melakukan sesuatu yang bisa memalingkan hati dari mentadaburi kandungan Alquran. Tidak bermain-main dengan tangan, menggoyang kepala atau berdendang saat tilawah. Apalagi ini sampai ada ritual sawer menyawer yang dilakukan oleh panitia penyelenggara. Tentu ini sudah memalingkan hati, serta kekhusyukan dari mentadaburi kandungan Alquran. Astaghfirullah.

Dari Abu Sa’id maula Bani Hasyim, dari Abbad ibnu Maisarah, dari Al-Hasan, dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah saw. telah bersabda,
“Barang siapa mendengarkan suatu ayat dari Kitabullah, maka dicatatkan baginya kebaikan yang berlipat ganda. Dan barang siapa yang membacanya, maka ia mendapat nur (cahaya) di hari kiamat.”

Dengan menyimak bacaan Al-Qur’an, dan mencoba untuk memahami dan mentadaburinya, hati akan tenang. Apalagi jika memahami isi ayat itu, terdapat berita luar biasa yang dibawa olehnya. Rasulullah dan para sahabat misalnya, selalu menangis jika mendengar bacaan ayat suci Al-Qur’an.

Sebagaimana diriwayatkan dalam hadis, “Aku mendatangi Nabi saw. dan beliau sedang salat. Dan pada kerongkongannya ada suara seperti suara air di periuk yang mendidih. Yakni, beliau menangis.” (HR At-Tirmidzi, Ahmad, Abu Dawud, dan An-Nasa’i. Hadits ini sanadnya kuat)

Oleh karena itu, umat membutuhkan adanya  institusi pelindung yang akan menjaga kemuliaan Al-Quran dan pembacanya juga penerapannya secara kaffah dalam kehidupan. Hal ini hanya akan terwujud ketika umat memiliki negara yang memuliakan Al Qur’an yaitu Khilafah Islamiyyah. Wallahu'alam bishshawab []

Oleh: Lina (Ummu Dzakirah)
Aktivis Muslimah

Baca Juga

Post a Comment

0 Comments