Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Qawwamah Hilang dalam Pusaran Kapitalisme


TintaSiyasi.com -- Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita. Dalam bingkai rumah tangga, sebagai seorang suami, ia merupakan pemimpin keluarga yang berperan besar dalam bahtera rumah tangganya. Namun hari ini, banyak kisah pilu terjadi, seorang suami sekaligus ayah yang semestinya melindungi justru jadi penghilang nyawa anak dan istri.

Dikutip dari liputan6.com (2/11/2022), seorang suami sekaligus ayah tega melakukan aksi kejam dan biadab terhadap istri dan anaknya di sebuah rumah di Kelurahan Jatijajar, Kecamatan Tapos, Kota Depok, Jawa Barat. Pelaku, yakni RN (31) tega menganiaya istrinya NI (31) dan membunuh anak perempuannya KPC (13) dengan menggunakan parang.

Sebelas duabelas dengan RN (31), viral video seorang suami yang tega memukul sang istri berkali-kali. Ironisnya, penganiayaan tersebut dilakukan sang suami di pinggir jalan di Pangkalan Jati, Cinere disaksikan sang anak yang masih balita dan warga sekitar (beritasatu.com, 6/11/2022).

Maraknya kasus KDRT yang dilakukan oleh suami, makin menambah panjang bukti kegagalan sekularisme kapitalisme dalam menjaga bangunan keluarga. Pemisahan agama dari kehidupan nyata melahirkan individu-individu yang sakit, rentan frustrasi, dan tidak sanggup menghadapi ujian hidup. Umat pun menjadi lemah, karena akidahnya terkikis sehingga mudah menyerah dan pasrah dalam urusan persoalan rumah tangga. Akhirnya aksi kejam dan biadablah sering kali yang menjadi jalan keluar.

Pemicu segunung problematika rumah tangga juga tidak terlepas dari sederet kebijakan ekonomi kapitalisme yang melahirkan masalah kemiskinan dan pengangguran. Tidak sedikit kepala rumah tangga yang menganggur sehingga goncangan rumah tangga akibat krisis ekonomi keluarga.

Makin jelas kebobrokan sistem sekularisme kapitalisme. Sejatinya, aturan yang dibuat oleh manusia tidak akan bertahan lama dan sangat lemah. Tidak mampu menyelesaikan persoalan dengan tuntas. Alhasil, hanya dengan kembali pada sistem Islam yang diterapkan secara kaffah dalam institusi negara, niscaya semua permasalahan akan terselesaikan dengan tuntas. 

Sistem Islam yang bersumber dari Al-Qur'an dan As-Sunnah niscaya akan melahirkan generasi yang berkepribadian islami, yakni generasi yang menjadi syariat Islam sebagai standar dalam berpikir dan bersikap, termasuk dalam berumah tangga.

Dalam sistem pendidikan Islam, kaum laki-laki akan diberikan pendidikan bagaimana bertanggung jawab dalam membina rumah tangga sebagai qawwam. Sebab, kurikulum pendidikan dirancang untuk melahirkan calon pemimpin mulai dari level keluarga hingga dunia.

Dalam ranah keluarga, anak laki-laki dididik sesuai fitrahnya sebagai pemimpin. Ia dibekali ilmu dan pemahaman yang baik bagaimana menjadi pemimpin yang sesuai koridor syarak. Sebagaimana firman Allah SWT, "Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya" (TQS. An-Nisa: 34).

Dengan demikian, ia akan paham benar bahwa laki-laki haruslah menjadi qawwam yang bertanggung jawab; beradab dan berakhlak baik; dan menjadi laki-laki penyayang pada keluarganya, istri, dan anaknya. 

Peran laki-laki sebagai qawwam ini pun akan berjalan baik, jika mendapat dukungan dari negara. Untuk itu, wajib bagi negara mengurus dan menuntaskan problematika rakyat dengan maksimal. Salah satunya contohnya dengan membuka lapangan pekerjaan untuk setiap laki-laki warga negaranya.

Negara sebagai penjaga, juga akan menerapkan sanksi yang tegas dan membuat jera bagi para pelaku KDRT. Sehingga para pelaku tidak berulah kembali. Inilah solusi Islam yang niscaya membawa kebaikan bagi seluruh umat manusia. 

Wallahu a'lam bishshawab. []


Oleh: Suanah, S.Ag.
Aktivis Muslimah
Baca Juga

Post a Comment

0 Comments