Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Negara Darurat Kekerasan, Peran Negara Minim?

TintaSiyasi.com -- Negara darurat kekerasan. Mungkin inilah sepenggal kalimat yang dapat menggambarkan kondisi masyarakat di negara dengan julukan zamrud khatulistiwa ini. Kekerasan seolah-olah telah menjadi menu harian masyarakat saat ini. Tiap menit ada saja kasus kekerasan yang terjadi, pemberitaan di media massa pun seakan tak lepas dari kedua berita tersebut. 

Kasus terbaru dan cukup mengagetkan publik, menimpa seorang bayi berusia lima bulan yang harus meregang nyawa karena dibanting dan dipukul oleh pelaku yang tidak lain ibunya sendiri. Stres diduga sebagai pemicu pelaku dengan tega menghabisi nyawa putranya tersebut. Kejadian ini cukup membuat kita sedih dan mengelus dada. 

Kasus KDRT yang berujung maut juga marak terjadi. Suami menganiaya istri, istri menganiaya suami, anak menganiaya orang tua dan sebaliknya menambah deretan kasus kekerasan yang ada. Anehnya, pelakunya penganiayaan tersebut tak lain orang terdekat korban. Pelaku kekerasan juga dapat menimpa siapa saja, anak-anak, remaja, dewasa, orang tua, agamawan, bahkan orang yang mempunyai jabatan bahkan memiliki pendidikan tinggi sekalipun.

Kekerasan yang sifatnya komunal seperti tawuran antar pelajar dan mahasiswa, perundungan dan penggeroyokan juga tak terhitung jumlahnya. Tragedi Kanjuruhan yang melibatkan aparat keamanan dan penonton bola yang merupakan masyarakat sipil adalah kasus terbaru.

Sebagaimana data yang dihimpun Simfoni-PPA per 1 Januari 2022 menyebutkan terdapat 20.992 jumlah kasus kekerasan di Indonesia, dengan 3.381 korban laki-laki dan 19.225 korban perempuan (kekerasan-kemenpppa.go.id). Jumlah ini dipastikan akan terus bertambah mengingat tindakan kekerasan telah dianggap hal biasa oleh sebagian kalangan dan menjadi solusi instan dalam memecahkan persoalan kehidupan.

Fenomena kekerasan yang terjadi saat ini tidaklah terlepas kehidupan sekuler kapitalistik saat ini yang mengikis rasa empati dan kasih sayang antarsesama. Stres sosial karena tekanan hidup yang keras turut memperparah sikap tersebut. Akibatnya, ketika terjadi gesekan antarindividu, amarah dan emosi sebagai penyelesaiannya. Dialog dan penyelesaian secara kekeluargaan tak lagi dikedepankan.

Selain itu, sifat individualis juga menjangkiti mayoritas masyarakat hari ini. Institusi keluarga yang diharapkan mencetak generasi  bertakwa kepada Allah swt dan peduli sesama dinilai gagal dalam memproteksi arus globalisasi yang ada, walhasil generasi minim agama dan akhlak sebagai buah dari sistem yang ada tak bisa dihindari.  Minimnya peran negara sebagai pelindung umat dari kerusakan dan kekerasan saat ini seolah tak mampu  menjamin rasa aman warganya. 

Begitu pun halnya dengan sistem pendidikan seolah tak mampu untuk mencetak sosok-sosok generasi yang beriman kepada Allah swt, berbudi pekerti yang luhur, mandiri dan bertanggung jawab, justru sebaliknya menghasilkan generasi cuek, rapuh, mudah stress dan lebih cenderung menghabiskan waktu di media sosial daripada kehidupan nyata. Maka tak heran, ketika dihadapkan kepada masalah maka penyelesaiannya ke cara-cara instan seperti kekerasan dan hal-hal negatif lainnya.

Kebebasan bermedia sosial yang kebablasan juga berefek tak baik bagi masyarakat utamanya generasi. Media sosial berseliweran konten yang mengajarkan kepada kekerasan, pornografi, pelecehan dan tindakan kriminal lainnya. Inilah salah satu faktor yang menambah angka kekerasan dan kriminalitas makin tinggi. 

Untuk itu, diperlukan proteksi mumpuni yang mampu mengatasi maraknya kekerasan yang ada saat ini. Proteksi tersebut hanya berasal dari sistem Islam yang sejatinya mengatur secara menyeluruh tingkah laku manusia dan bagaimana interaksinya. Sistem Islam dalam bentuk Khilafah senantiasa berperan dalam mengurusi segala permasalahan dan melindungi umat dari hal-hal yang merusak dan segala perbuatan yang menjurus ke arah pelanggaran hukum syariat Allah swt. 

Negara pun berkewajiban membentuk umat agar menjadi sosok yang baik, bertakwa dan senantiasa beriman kepada Allah swt Tuhan semesta alam. Suasana dakwah atau nasehat-menasehati dalam masyarakat pun berjalan dalam suasana mengharap keridhoan Allah swt semata.  Negara benar-benar menjalankan fungsinya sebagai pelindung dan pengurus urusan umat. Wallahu a’lam.


Oleh: Zuharmi
Pemerhati Sosial
Baca Juga

Post a Comment

0 Comments