Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Pemuda Ambillah Peranmu Menegakkan Peradaban Islam


TintaSiyasi.com -- Bung Karno berkata, ”Beri aku seribu orang tua niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya dan berilah aku sepuluh pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia.” Pepatah arab mengatakan: “Syubhanul yaom, rijalul ghad” artinya pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan. Ungkapan ini menunjukan dan mempertegas bahwa pemuda adalah sumber kekuatan karena mempunyai potensi fisik dan pemikiran yang dapat menciptakan realitas, bahkan keadaan yang lebih baik.

Saat ini, semua platform pembangunan di tingkat lokal-negara, regional, dan global, merasa harus mengajak, mencari dukungan, dan memberdayakan pemuda. Masalah yang tersisa adalah bagaimana pemuda memerankan dirinya, bekerja untuk sebuah tuntutan perubahan di era saat ini.

Bagi pemuda Muslim, idealisme perubahan bisa lahir dari keyakinan ideologi Islam dan bisa muncul dari pragmatisme - tuntutan rezim pembangunan saat ini yang tunduk pada arahan kapitalisme global. Baik Islam maupun kapitalisme akan menjadi inspirasi perubahan, karenanya, keduanya memiliki tuntutan aktivitas diberbagai bidang, mengoptimalkan potensi fisik, emosional, dan pemikiran pemuda (pemberdayaan).

Tapi, watak kapitalisme yang rakus dan berlawanan dengan fitrah manusia telah gagal membangun dunia. Pemuda Muslim harus membaca tatanan kapitalisme dengan detil untuk mengenali semua pemikiran, konsepsi, aturan dan gagasan perubahan, termasuk program pemberdayaannya, untuk segera keluar dari jeratannya. Dan, memperdalam wacana Islam hingga mampu mengambil peran yang tepat untuk perubahan dunia menuju peradaban Islam.


Pemuda di dalam Jerat Pembangunan Kapitalisme

Indonesia telah mengadopsi arahan global dan memasukkan arah pembangunan pemuda dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Pembangunan dengan sasaran pemuda yang berjumlah 63,82 juta orang atau hampir seperempat dari jumlah penduduk Indonesia (Data BPS, 2018 ). Peningkatan kualitas pemuda diukur dengan Indeks Pembangunan Pemuda (IPP). IPP merupakan alat ukur pembangunan pemuda di lima domain dasar yaitu pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan, lapangan dan kesempatan kerja, partisipasi dan kepemimpinan, serta gender dan diskriminasi. Implementasi program akan sangat luas, masuk dalam bidang-bidang penting, seperti pendidikan politik dan demokratisasi, Sumber Daya Ekonomi, kepedulian terhadap masyarakat, Iptek, olah raga dan seni budaya, isu lingkungan, pendidikan kewira-usahaan, kepemimpinan, dan kepeloporan.

Narasi pembangunan dan pemberdayaan pemuda oleh rezim saat ini hakikatnya adalah mandat kapitalisme global dalam memanfaatkan pemuda untuk menopang keruntuhan kapitalisme dan alat penambal borok kapitalisme. Berbagai program yang ada selalu dinarasikan “melibatkan pemuda dalam memberi solusi atas persoalan global”. Padahal, hakikatnya, pemuda hanya sebagai pelaksana dari program global yang telah ditetapkan lembaga-lembaga internasional.


Pemberdayaan Pemuda yang Kapitalistik Membajak Potensi sebagai Agent of Change

Pembangunan kapitalisme telah memunculkan krisis, dari krisis ekonomi hingga krisis lingkungan (perubahan iklim). Konsep pembangunan yang mengejar pertumbuhan ekonomi yang setinggi-tingginya telah membuat dunia ini menjadi rimba persaingan kerakusan para kapitalis. Mereka tidak peduli dengan nasib manusia yang hidup di dalamnya. Sehingga peradaban kapitalisme telah menimbulkan dehumanisasi. Mereka tidak peduli dengan nasib generasi muda ke depannya. Mereka justru menjadikan para pemuda sebagai tumbal ekonomi. Kapitalisme telah membajak potensi pemuda sebagai agent of change diarahkan hanya untuk menjadi bumper sistem ekonomi kapitalisme. Karakter berfikir kritis pemuda hanya diarahkan seperti pemadam kebakaran untuk menyelamatkan kapitalisme. Pemuda hanya diarahkan untuk berfikir di sektor hilir, yaitu menyelesaikan akibat, tanpa melihat asal penyebab masalah tersebut. Hal ini terlihat dari program Youth 20 (Y20) yang sedang bergulir saat ini.

Y20 Summit akan membahas empat area prioritas utama:

Pertama. Ketenagakerjaan pemuda. Area prioritas ini menawarkan solusi atas pengangguran di kalangan pemuda yang sudah ada, ditambah dengan kondisi pandemi yang menyempitkan peluang kerja.

Kedua. Transformasi digital. Kaum muda memainkan peran sentral dalam mengatur munculnya solusi digital, bahkan untuk masalah yang paling umum.

Ketiga. Pemuda, sebagai agen di bumi, memiliki peran penting dalam diskusi tentang keadaan planet. Sebab, keadaan planet akan mempengaruhi kesejahteraan kita. Untuk itu, diperlukan transformasi pada ekonomi utama, mulai dari sistem pangan, sistem energi, sistem perkotaan, dan sistem produksi/konsumsi.

Keempat. keberagaman dan inklusi. Meningkatnya ketidaksetaraan merupakan masalah yang dihadapi oleh para pemuda, seperti gangguan pendidikan, berkurangnya pasar kerja, dan meningkatnya intoleransi. Hal ini membuat pemuda, terutama mereka yang terpinggirkan dan rentan, berisiko tereksploitasi.

Dari progam prioritas Y20 ini makin terlihat bahwa kapitalisme telah mengarahkan pemuda Muslim untuk mempertahankan kerakusan industrialisasi kapitalisme. Pemuda didorong untuk mempertahankan dirinya sendiri di tengah krisis ekonomi dan perubahan iklim. Sehingga seakan-akan itulah langkah nyata yang harus dilakukan pemuda saat ini untuk bertahan dan menyelamatkan dunia. Di sisi yang lain pemuda Muslim dipaksa untuk meninggalkan identitas Islam dengan dalih keberagaman dan inklusi dengan menjadikan HAM sebagai dasarnya. Tentu saja akan berakibat pada hilangnya kesempatan pemuda Muslim untuk mendapatkan maklumat perubahan yang berasaskan Islam karena sudah dicap radikal.

Oleh karena itu, pemuda harus mengambil perannya di era milenial ini menuju peradaban baru, pemuda butuh arah pemberdayaan baru yang mengembalikan arah berpikir kritis pemuda sebagai agent of change. Arah pemberdayaan ini harus lahir dari proses berpikir yang paradigmatik ’ideologis’ bukan pragmatis. Sehingga kekuatan berpikir paradigmatik itulah yang akan menjadikan potensi pemuda terpandu untuk merealisasikan solusi bagi persoalan negara ini, sekaligus mampu mewujudkan cita-citanya menjadi negara besar, kuat dan mandiri.


Jalan Baru Pemuda untuk Perubahan Dunia Menuju Perabadan Islam

Munculnya negara yang besar, kuat dan mandiri selalu terkait dengan kepemimpinan sebuah konsep ideologi di tengah umat manusia. Islam sebagai mabda (ideologi) yang shahih akan menggantikan kapitalisme yang batil dan renta. Tumbuhnya mabda Islam akan mengubah wajah pemahaman , standar, dan penerimaan di tubuh umat di negeri-negeri Muslim (termasuk Indonesia). Tumbuh dan berkembangnya mabda mengharuskan adanya partai politik Islam ideologis sebagai institusi pemikiran berasaskan ideologi Islam. Partai ini, memiliki visi untuk mengembalikan kehidupan Islam dan menyebarkan Islam keseluruh dunia melalui tegaknya institusi politik ‘negara’.

Negara adalah satu-satunya lembaga terkuat, mampu mengakumulasikan semua sumberdaya yang ada untuk merealisasikan tuntutan ideologi Islam. Aturan yang bersifat berkelanjutan untuk dipakai menyelesaikan persoalan rakyat, menjadikan masyarakat dan negaranya ‘bangkit’. Bahkan, negara Islam di Madinah telah menjelma menjadi kekuatan superpower dunia berabad-abad, mengalahkan adidaya Romawi dan Persia. Inilah warisan Rasulullah SAW yang harus dihidupkan.

Berkembangnya ruang perdebatan pemikiran Islam vs kapitalisme harus dimenangkan oleh Islam. Ini akan menjadi mega proyek bagi umat Islam dan bahkan umat manusia yang menginginkan kemuliaan hidup. Inilah jalan baru umat, termasuk pemuda Muslim untuk ikut dalam arus besar ‘merubah dunia menjadi tempat tinggal yang lebih baik dengan Islam”. Pemuda Muslim harus menjadi katalisator dalam memenangkan Islam sebagai tatanan baru. Tentu saja, modal untuk bisa ikut memenangkan pertarungan ini adalah kecukupan bekal mabda Islam. Oleh karena itu, para pemuda muslim harus membuka diri pada wacana Islam politik yang diusung oleh partai Islam ideologis.

Jalan baru ini menuntut pemuda Muslim untuk beraktivitas:
Pertama. Belajar mabda Islam bersama partai Islam ideologis, dan kesadaran akan ideologi Islam menjadi bekal dalam membangun opini di tengah-tengah masyarakat di manapun dia beraktivitas.
Kedua. Aktif menjadi bagian integral partai, mengambil peran kunci pada setiap aktivitas politik partai dalam memandu umat untuk perubahan menuju khilafah.

Inilah peran sesungguhnya yang harus diambil pemuda muslim, mencurahkan pemikiran dan semua pengetahuan dan pengalaman hidupnya, mewujudkan jangkar ‘kekuasaan Islam’ untuk melahirkan tata dunia baru dengan khilafah.

Wallahu a’lam. []


Oleh: Mimi Husni
Aktivis Muslimah
Baca Juga

Post a Comment

0 Comments