Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Non Binary Gender, Tidak Sesuai dengan Islam!


TintaSiyasi.com -- Masyarakat Indonesia cukup terkejut ketika viral video mahasiswa Unhas yang mengaku dirinya bukan laki-laki maupun perempuan, alias 'nonbiner', 'non binary', atau 'gender neutral'. Bila kita telusuri lebih jauh di media massa, bukan hanya mahasiswa tersebut yang berani “speak up” tentang identitas gender non binary. Beberapa chanel you tube sebelumnya telah banyak mengangkat kisah orang - orang yang memiliki identitas nonbiner ini. 

Dikutip dari detikhealth.com, terkait definisi non-biner, CSE officer Rutgers Sanyulandy Leowalu, SKM, M.Sexol mengatakan istilah tersebut merujuk pada seseorang yang tidak mengidentifikasi dirinya sebagai laki-laki atau perempuan. Berbeda dengan biner atau identitas gender yang merujuk pada jenis kelamin seseorang. "Biner atau non-biner ini adalah identitas gender seseorang, artinya bagaimana seseorang merasakan dirinya sendiri terhadap gendernya." 

Bila kita dalami lebih lanjut, ada 7 identitas gender selain non biner, hal ini sesuai dengan tulisan dari cnnindonesia.com. Berikut beberapa di antara identitas gender yang cukup dikenal di tengah masyarakat.

Pertama. Agender. Seorang yang menyebut dirinya agender berarti tidak mengidentifikasi diri dengan ide atau pengalaman memiliki gender.
Kedua. Androgini. Seperti dikutip dari Healthline, androgini adalah seseorang yang memiliki identitas netral gender atau memiliki dua karakteristik, baik maskulin maupun feminin.
Ketiga. Bigender. Orang yang mengidentifikasi dirinya sebagai bigender berarti dia memiliki dua gender. Seperti dikutip dari Medical News Today, orang bigender kerap menunjukkan peran budaya maskulin dan feminin.
Keempat. Genderqueer. Genderqueer menggambarkan seseorang dengan gender yang tidak dapat dikategorikan sebagai eksklusif laki-laki atau perempuan, atau eksklusif maskulin atau feminin. Orang genderqueer mengalami dan mengekspresikan gendernya dengan cara berbeda. Ada yang mencakup dua gender atau kombinasi laki-laki dan perempuan atau gender non-biner.
Kelima. Cisgender. Cisgender berarti identitas gender yang oleh masyarakat sesuai dengan jenis kelamin saat lahir.
Keenam. Genderfluid. Identitas gender ini menggambarkan seorang yang memiliki gender yang 'cair' (fluid). Orang genderfluid bisa berpindah dari gender satu ke gender lain dalam periode waktu tertentu, misal dalam hitungan hari, bulan, tahun atau dekade.

Perlu dipahami sekali lagi bahwa identitas gender itu berbeda dengan orientasi seksual. Orientasi seksual lebih kepada pembahasan Ketertarikan baik secara fisik, emosional, romantisme, dan atau seksual pada jenis kelamin tertentu. 


Mengenal Gender

Berbeda dengan jenis kelamin yang bisa diidentifikasi langsung dari ciri ciri primer dalam diri seseorang sesuai dengan pemberian “Pencipta”. Gender merupakan hasil konstruksi pembiasaan dari norma yang dianut keluarga, sekolah, media, masyarakat, tempat tinggal dan lain lain.

Dalam definisinya, gender adalah pembedaan peran, atribut, sifat, sikap dan perilaku yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Dan peran gender terbagi menjadi peran produktif, peran reproduksi serta peran sosial kemasyarakatan (sdgs.bappenas.go.id).


Menilik Lebih Lanjut Tentang Non Binary Gender

Chris Derek adalah seorang freelancer dan tutor Bahasa Inggris berusia 23 tahun. Reymi adalah content specialist berusia 22 tahun. Ian Hugen seorang seniman dan beberapa orang lainnya mengaku sebagai neutral gender (Non Binary Gender). 

Menurut mereka, sebelum mampu mengidentifikasi jati diri mereka sebagai non binary gender, mereka pernah mengalami gender dysphoria (perasaan tidak nyaman yang dialami seseorang yang identitas gendernya berbeda dengan jenis kelamin sesuai kelahirannya)
 Setelah akhirnya berbicara dengan hatinya sendiri, akhirnya mereka merasa menemukan jati diri sebagai non binary gender. Hal ini sebagai klaim atas kontruksi peran social yang ingin diekspresikan oleh dirinya. 
 
Dalam sistem kapitalis, klaim atas perasaan diri itu dilindungi oleh berbagai perangkat norma dan hukum. Isu kebebasan berekspresi (HAM) dan argument medis menjadi pembenaran atas kalim merek. WHO dalam ICD-11 (International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems (ICD-11), sebuah manual yang digunakan secara global untuk mendiagnosis penyakit) akan memberlakukan pada 1 Januari 2022 bahwa 'gangguan identitas gender' akan diganti dengan 'ketidaksesuaian gender' dan tercantum di bawah bab mengenai 'kesehatan seksual,' bukan gangguan mental. Hal ini mengokohkan dukungan system hidup kapitalisme sekuler pada permasalahan ragam identitas gender. 


Konsep Non Binary Gender Bertentangan dengan Islam

Islam adalah agama yang diturunkan Allah SWT, Pencipta alam semesta, manusia dan kehidupan kepada nabi Muhammad SAW. Berdasarkan hal ini tentu saja hanya Allah yang Mahatahu atas hakikat dan segala tentang manusia dan kehidupan. 

Allâh SWT telah mengisyaratkan hal ini dengan firman-Nya: "Apakah Allâh Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?" [Al-Mulk/67: 14].
 
Termasuk masalah jenis kelamin dan gender. Karena itu, Islam sudah memiliki tata aturan yang rinci mengenai system kehidupan berupa tata cara peribadatan, hukum syara praktis sebagai solusi atas permasalahan kehidupan. 
 
Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa (TQS Al Hujurat :13).
 
Dalam permasalahan peribadatan, jenis kelamin akan menentukan peran dalam shalat. Siapa yang berhak jadi imam dan makmum. Dalam masalah pakaian, telah jelas juga aturan yang berbeda antara laki laki dan perempuan. Hal ini sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra:

Ø£َÙ†َّ النَّبِÙŠَّ صلى الله عليه وسلم Ù„َعَÙ†َ الْÙ…ُØ®َÙ†َّØ«ِينَ Ù…ِÙ†َ الرِّجَالِ ÙˆَالْÙ…ُتَرَجِّلاتِ Ù…ِÙ†َ النِّسَاءِ

"Sesungguhnya baginda Nabi SAW melaknat para lelaki yang mukhannats (berperilaku seperti wanita) dan para perempuan yang mutarajjilat (berperilaku seperti lelaki)" (HR Al-Bukhari dan Abu Dawud).

Dalam relasi pernikahan juga rumah tangga, telah jelas Allah memberikan aturan peran apa yang menjadi kewajiban istri beitu pun kewajiban suami. 

Banyak lagi hukum syara lainnya terkait peran sebagai laki–laki dan perempuan yang dikaitkan jenis kelamin. Di antara alasan dan hikmah larangan atas menyerupai jenis kelamin lain adalah menyalahi kodrat yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Al-Munawi berkata di dalam karyanya, Faidhul Qadir:

Hikmah dari laknat terhadap orang yang berusaha menyerupai lawan jenis adalah mengeluarkan sesuatu dari sifat yang telah ditetapkan oleh Sang Maha Bijaksana (Allah SWT). (Lihat Zaid Al-Munawi, Faidhul al-Qadir, Beirut, Darul Fikr Al-Ilmiyah, cetakan kedua, 2003 M, jilid V, halaman 271).

Maka bila kaum Muslim mengadopsi konsep non binary gender, hal ini akan merusak tatanan aturan islam yang sudah jelas selaras peran sosial itu dengan jenis kelaminnya. Hikmah dari semua ini, semua peran akan sesuai dengan naluri dan kodrati dari Allah SWT.

Wallahu a'lam bishshawab. []


Oleh: Ekha Putri MS., S.P
Sahabat TintaSiyasi
Baca Juga

Post a Comment

0 Comments