Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Maknai Pesan di Balik Bencana Negeri


TintaSiyasi.com -- Bencana kembali melanda negeri ini. Mulai dari banjir hingga erupsi. Seperti dilansir kompas.com, Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi, Minggu (17/07/2022) pukul 08.47 WIB pagi tadi. Kejadian erupsi ini dikonfirmasi Koordinator Gunung Api di Unit Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Oktory Prambada.

Selain itu dikutip dari media online Merdeka.com, banjir yang melanda Garut pada Jumat (15/07) malam menyebabkan hanyutnya sembilan rumah. Selain itu, puluhan rumah mengalami kerusakan. Wakil Gubernur Jawa Barat, Uu Ruzhanul Ulum menilai, banjir yang terjadi di Garut tidak hanya akibat curah hujan yang tinggi. Lebih dari itu, banjir karena adanya pembabatan dan alih fungsi lahan di kawasan hulu sungai. Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga meminta warga yang selama ini tinggal di sempadan sungai untuk segera pindah. Mereka diminta untuk pindah ke tempat yang lebih aman agar kemudian tidak kembali menjadi korban saat banjir luapan air sungai. Seperti yang terjadi di Garut,di Karawang pun terjadi banjir yang di sebabkan intensitas curah hujan yang tinggi.

Terlepas dari semua bencana alam yang terjadi bertubi-tubi hingga memakan korban jiwa dan kerugian material, kita harus mentafakuri pesan dari bencana alam menurut Al-Qur'an, apakah ini sebuah ujian, ulah tangan manusia ataukah azab yang Allah SWT turunkan kepada kita. Dalam QS Al-Baqarah ayat 155-157, Allah menyampaikan bahwa salah satu ujian kehidupan manusia di muka bumi adalah berupa bencana atau musibah. Bencana alam salah satu musibah juga yang bisa kita alami.

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun (seusngguhnya kami milik Allah dan sesunnguhnya kami sedang menuju kemabali kepada-Nya). Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. Al-Baqarah ayat 155-157).

Bencana juga bisa terjadi karena ulah tangan manusia yang menebang pohon sembarangan, membuang sampah atau limbah sembarangan atau tidak menjaga kelestarian alam. Ayat-ayat Al-Qur'an yang menyebutkan bahwa bencana bisa terjadi karena ulah tangan manusia adalah dalam dua ayat berikut ini:

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS: Ar-Rum: 41).

Dan janganlah kamu menaati perintah orang-orang yang melampaui batas, yaitu mereka yang berbuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan" (QS: As-Syuara: 151-152).

Sedangkan ayat-ayat yang berkenaan dengan bencana adalah peringatan dan azab Allah SWT:

Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka diantara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan diantara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan diantara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan diantara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri” (QS: Al-Ankabut: 40).

Kami telah menghukum (Firaun dan) kaumnya dengan (mendatangkan) musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pelajaran” (QS. Al-A’raf: 130).

Itulah pesan dari bencana alam menurut ayat-ayat Al-Qur'an, yang salah satunya bisa sebuah peringatan atau azab, yang perlu direnungkan. Pada setiap bencana yang menimpa manusia terdapat ibrah, antara lain, pertama sebagai tanda peringatan Tuhan, bukankah manusia sering lengah dan lupa? Maka dengan bencana sebenarnya manusia diingatkan agar kembali ke jalan yang lurus.

Kedua, sebagai bahan evaluasi diri (muhasabah). Bencana mengandung pesan agar manusia mau melakukan introspeksi diri. Apa yang salah selama ini, jangan-jangan terdapat pandangan yang keliru tentang kehidupan yang fana ini. Manusia begitu cinta terhadap dunia, hingga lupa akan kehidupan akhirat. Padahal dunia ini sesungguhnya fana dan tidak abadi. Betapa ketika terjadi bencana gempa bumi atau tsunami misalnya hampir seluruh bangunan dan harta benda bisa lenyap dan luluh lantah seketika. Itu dapat dijadikan introspeksi agar manusia menyadari bahwa kehidupan dunia ini sementara dan fana. 

Ketiga, bencana mengandung pesan tanda kekuasaan Allah yang luar biasa. Manusia tidak boleh sombong dan pongah atas segala prestasi yang dicapainya dalam pentas kehidupan dunia ini. Mestinya manusia semakin tunduk dan tawadlu’ di hadapan Tuhannya, dan semakin pandai bersyukur atas segala fasilitas di dunia ini yang disediakan Sang Khaliq. Namun seringkali ketika manusia telah sukses, ia cenderung sombong. Sang Khaliq tidak rela kalau baju kesombongan-Nya diambil alih oleh manusia, sehingga bagi orang beriman, bencana dapat dimaknai sebagai pesan bahwa kekuasaan Allah sangat hebat. Dunia ini benar-benar dalam genggaman-Nya. 

Mari kita jaga diri, keluarga, juga lingkungan kita sesuai dengan tuntutan-Nya agar kita senantiasa terpelihara dari segala perbuatan yang mengundang azab-Nya. Caranya dengan menerapkan Islam secara kaffah, termasuk dalam pengaturan pemeliharaan lingkungan negeri ini. Hanya dengan Islam maka tidak akan ada kesemena-menaan dalam pemanfaatan alam, karena Islam adalah rahmatan lil'alamin

Wallahu a’lam. []


Oleh: Neng Sri Yunita, S.Pd.
Sahabat TintaSiyasi
Baca Juga

Post a Comment

0 Comments