Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Dana Abadi Pendidikan, Pembiayaan ala Kapitalis


TintaSiyasi.com -- Baru-baru ini Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) meluncurkan Dana Abadi Pendidikan yang merupakan salah satu kebijakan dari program Merdeka Belajar yang dicanangkan oleh Mendikbudristek Nadiem Makarim. Apa sih “Dana Abadi Pendidikan” itu?

Menurut Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2019 Tentang Dana Abadi Pendidikan bahwa dana abadi pendidikan adalah dana yang bersifat abadi untuk menjamin keberlangsungan program pendidikan bagi generasi berikutnya yang tidak dapat digunakan untuk belanja. Lalu sobat, dari mana ya “Dana Abadi Pendidikan” ini diperoleh?

Dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2019 disebutkan bahwa ada 3 sumber perolehan Dana Abadi Pendidikan yaitu Dana Pengembangan Pendidikan Nasional (DPPN), pendapatan investasi, dan sumber lain yang sah. Nah dijelaskan juga nih “Pendapatan Investasi” merupakan hasil dari pengembangan Dana Abadi Pendidikan. Apakah sama halnya dengan “laba“ di pelajaran ekonomi ya sobat?

Universitas Padjajaran menyinggung mengenai Dana Abadi bahwasannya Dana Abadi merupakan dana investasi yang diperoleh dari donasi para alumni dan simpatisan. Dana abadi bersifat simpanan yang akan dikembangkan dan hasilnya akan dimanfaatkan untuk meringankan beban biaya pendidikan yang harus dibayarkan mahasiswa dalam menempuh studinya, mengembangkan riset, serta melakukan pengabdian pada masyarakat. 

Waduh-waduh berarti nih, perguruan tinggi diberikan modal lalu modal tersebut dikembangkan sehingga surplusnya bisa dimanfaatkan. Terkesan seperti investasi di perusahaan ya. Gimana menurutmu sobat?

Memang di zaman saat ini, ideologi kapitalisme yang mendarah daging sampai-sampai dana pendidikan dibuat seperti investasi di perusahaan. Tak lain dan tak bukan karena mempertimbangkan untung dan ruginya. Tak heran jika seperti itu, karena memang kapitalis hanya mementingkan dari segi materi saja. Dan yang diperhatikan adalah bagaimana untungnya? Apakah ada manfaatnya? Lain halnya dengan Islam, hal yang diperhatikan bukanlah demikian, tapi apakah Allah ridha? Apakah sesuai syariat Islam? 

Mengutip dari mediaindonesia.com, bahwa dengan adanya dana abadi yang diberikan kepada PTNBH (Perguruan Tinggi Berbadan Hukum) diharapkan dapat mendorong kemandirian PTN mengenai sumber pendanaan. Kemandirian dalam sumber pendanaan inilah yang diharapkan dapat memunculkan inovasi-inovasi dalam kegiatan belajar mengajar mahasiswa. Hal tersebut memungkinkan PTNBH untuk berperan lebih besar dalam menjalankan program pemerintah, salah satunya yaitu Kampus Merdeka. Sehingga bisa mendorong peningkatan kualitas lulusan dengan harapan siap bersaing di dunia kerja dengan keterampilan dan kompetensi yang memadai. 

Eitswait wait wait, kuliah kan mencari ilmu ya sobat, tapi kok endingnya diharapkan bisa bersaing di dunia kerja? Sebenarnya, apakah kita belajar dari kecil, hanya untuk mencari kerja sobat? No no no.

Esensi dari pendidikan sebenarnya yaitu mencari ilmu agar hidupnya lebih mulia dan bisa bermanfaat untuk umat. Akan tetapi tidak demikian pada zaman sekarang ini, melainkan mencari ilmu agar bisa sukses dalam artian memiliki kehidupan dengan perekonomian yang baik dan tidak kekurangan dalam segi materi. Wajar jika hal tersebut sudah tertanam dalam benak masyarakat karena kehidupan saat ini berpangku pada sistem kapitalisme. Di mana poros kebahagiaannya berasal dari materi yang berupa harta, benda, dan segala hal yang bersifat duniawi saja. Berbeda dengan Islam, poros kebahagian dalam Islam yaitu saat kita mendapatkan ridha Allah. Yaitu dengan tunduk sempurna pada aturan-aturan Allah. Dalam pendidikan ala kapitalisme ini, semua hal yang terkait pendidikan pun berdasar pada asas materi mulai dari kurikulum, sarana, hingga biaya pendidikan.

Pendidikan memang hal yang penting untuk seluruh masyarakat, khususnya bagi generasi muda bangsa. Di dalam Islam pendidikan dilakukan mulai dari lahir hingga akhir hayatnya yang merupakan perjalanan panjang untuk meraih ilmu. Dikutip dari muslim.or.id bahwa Imam Ahmad ra pernah ditanya ketika rambut beliau sudah tampak memutih.

 إلى متى وأنت مع المحبرة 

Sampai kapan Engkau masih bersama dengan wadah tinta?

Maksudnya, orang tersebut heran ketika Imam Ahmad ra tetap bersama dengan alat-alat untuk mencari ilmu seperti kertas dan wadah tinta, padahal usia beliau tidak lagi muda. Oleh karena itu, mencari ilmu dan selalu belajar tidak akan mengenal usia. Lalu bagaimana sih sistem pendidikan menurut Islam? Loh, memangnya Islam juga mengatur pendidikan ya?

Eits, iya dong sobat, Islam mengatur seluruh aspek kehidupan kita termasuk pendidikan juga. Dalam Islam, pendidikan tidak dikenakan biaya sepeser pun. Entah itu pendidikan waktu kecil atau hingga level perguruan tinggi. Sehingga tanpa adanya beasiswa pun, semua anak bangsa bisa mencari ilmu dengan nyaman karena tidak ada tuntutan untuk mengembangkan dana pendidikan seperti halnya 'Dana Abadi Pendidikan' ya sobat. []


Oleh: Elinda Budinarianti
Sahabat TintaSiyasi
Baca Juga

Post a Comment

0 Comments