Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Bunuh Diri Pelajar, Potret Kegagalan Pendidikan Karakter Sekuler


TintaSiyasi.com -- Dunia maya kembali digegerkan dengan cuitan kasus bunuh diri. Seorang remaja perempuan yang tak lolos ujian Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di kampus impiannya U** di Yogyakarta, memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri.

Cerita ini dibagikan melalui akun Twitter @utbkfess pada Selasa (12/07/22). Di awal cerita, diungkapkan bahwa adik dari teman pengirim cuitan ini memiliki ide untuk bernazar ketika hendak mengikuti ujian masuk di sebuah PTN. Nazarnya adalah ketika ia lolos maka dirinya akan memberikan santunan kepada anak yatim dan ketika tidak lolos ia bernazar ingin melakukan bunuh diri (Suara.com).

Sungguh memprihatinkan, kasus bunuh diri ini bukan kali pertama terjadi. Kasus serupa pernah terjadi pada 2018 silam, seorang gadis benama Mimi Daniati (19) asal Desa Adu, Kecamatan Hu'u Kabupaten Dompu, NTB, nekat bunuh diri dengan menenggak racun serangga. Korban diduga stres karena tidak lulus di perguruan tinggi negeri di Kota Mataram melalui jalur mandiri (Detiknews).

Dikutip dari Galamedianews, WHO menyatakan bahwa setiap 40 detik terdapat satu orang yang meninggal bunuh diri atau setara dengan 800 ribu orang setiap tahun. Menurut data kepolisian di Indonesia, pada tahun 2020 dilaporkan terdapat 671 orang yang melakukan tindakan bunuh diri. Sedangkan BPS tahun 2020 mencatat, terdapat total 5.787 kasus bunuh diri dan percobaan bunuh diri. Bunuh diri juga menjadi penyebab kematian tertinggi kedua pada usia 15-29 tahun.
Kasus suicide atau bunuh diri dari tahun ke tahun mengalami tren kenaikan. Penyebabnya pun beragam dari mulai problem gagal ujian, bullying, keutuhan keluarga, ekonomi, hingga percintaan menjadi faktor kasus bunuh diri di kalangan remaja. 

Kita mengenal generasi remaja saat ini dengan istilah strawberry generation. Istilah ini ditujukan untuk generasi baru yang dianggap lunak seperti halnya strawberry. Sama halnya seperti remaja kini yang cepat sekali rusak dan goyah oleh perkembangan di sekitarnya. Mereka terlahir dari para orang tua yang membesarkan anak-anaknya di kondisi yang lebih sejahtera. Mereka terbiasa dimanjakan oleh fasilitas yang memadai, minim tekanan, sehingga membuat mental para remaja sekarang mudah sekali rapuh.

Keadaan tersebut diperparah dengan pendidikan sekuler yang hari ini diterapkan oleh negara. Yang mana sekolah terlalu berorientasi pada nilai, sehingga kurang optimal dalam membentuk karakter atau kepribadian siswa. Kurikulum yang diterapkan merupakan kurikulum sekuler yang pondasinya adalah memisahkan agama dari kehidupan (fasluddin anil hayah). Artinya, mata pelajaran pendidikan agama Islam didesain untuk menjadikan Islam sebagai pengetahuan belaka saja. Jam mata pelajarannya pun dirancang sangat minimalis. Agama tidak dijadikan pondasi dalam mendidik pelajar. Sehingga pelajar Muslim jauh dari Islam. Mereka tidak akan sampai pada pemahaman konsep keridhaan Allah SWT sebagai standar kebahagiaan tertinggi yang harus diraih.

Maka tak heran, pendidikan sekuler menghasilkan generasi yang gersang akan iman, mudah menyerah, tidak mampu mengelola diri, dan tidak bisa mengkomunikasikan sesuatu secara proporsional. Akibatnya ketika dihantam realitas hidup yang tidak sejalan dengan apa yang diinginkan, mereka kemudian memilih jalan pintas bunuh diri tersebut. Semua itu adalah bukti nyata pendidikan sekuler gagal membangun kepribadian yang kokoh pada pelajar.

Adapun dalam Islam, kurikulum pendidikan yang diterapkan berdasarkan pada akidah Islam. Dengan kurikulum itulah negara akan mencapai tujuan pendidikan yang hakiki, yaitu melahirkan individu-individu yang bersyaksiyah Islam (pola pikir dan pola sikap Islam) yang bertakwa. Penerapan sistem pendidikan Islam, menyibukkan pelajar untuk haus akan ilmu. Waktunya seakan habis untuk belajar, menghafal Al-Qur'an, menggali potensi diri, berbakti pada orang tua. Tidak ada ruang untuk mereka bermain-main dengan dorongan syahwat. Sebab mereka telah ditanamkan akidah yang kokoh sehingga terbentuklah generasi rabbani.

Dalam pendidikan Islam juga, segala sesuatu akan senantiasa menjadikan syariat Islam sebagai satu-satunya tolak ukur berperilaku. Agar segala tindak-tanduk itu mengikuti wahyu bukan hanya nafsu. Sudah waktunya kita berpaling dari sistem pendidikan sekuler, kembali pada Islam yang telah Allah jadikan sebagai solusi bagi setiap problematika umat Muslim.

Wallahu a'lam bishshawab. []


Oleh: Purnamasari
Sahabat TintaSiyasi
Baca Juga

Post a Comment

0 Comments