Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Pengamat: Perdagangkan Minyak Bumi Itu Sebuah Kemaksiatan


TintaSiyasi.com -- Pengamat Kebijakan Publik Dr. Erwin Permana menyatakan memperdagangkan minyak bumi adalah sebuah kemaksiatan.

"Dalam Islam memperdagangkan minyak bumi itu sebuah kemaksiatan," tegasnya dalam Perspektif PKAD: Bang Marwan Batubara Membongkar Mafia SDA oleh Peng Peng, Kamis (09/06/22) di kanal YouTube Pusat Kajian dan Analisis Data. 

"Luar biasa enggak itu? Artinya, minyak bumi itu milik kita semuanya," ungkapnya. 

Ia mengatakan, enggak boleh ada harga di situ. "Kalau paradigma minyak bumi itu punya kita, punya umat, maka tentunya tidak akan muncul masalah-masalah sedemikian rupa seperti hari ini," jelas Erwin. 

Menurutnya, dalam paradigma selain dari Islam memandang bahwa minyak bumi itu boleh diperdagangkan. Sehingga menyebabkan orang-orang berebut untuk memeperdagangkannya. 

"Karena itu aset yang ada di bumi, diperdagangkan maka mereka untung besar dari situ. Bisnis enggak ada ruginya, untung aja terus," bebernya. 

Ia mengungkap, yang penting modal regulasi aja, tinggal tahu sama tahulah, melakukan regulasi, tetapi bisa untung selama-lamanya. Karena paradigmanya adalah sesuatu yang diperdagangkan. "Ini harus kita ganti!" tegasnya. 

Lebih lanjut dia menuturkan, paradigma yang betul berkaitan dengan kepemilikan umum, di antaranya disebut oleh Nabi Muhammad SAW itu air, padang rumput, dan juga energi di antaranya meliputi batu bara, gas, termasuk juga minyak bumi ini semuanya milik umat. 

"Tugas negara adalah mengelola dengan regulasi. Jadi negara ini petugas umat untuk menjalankan hukum yang telah secara lengkap diwariskan oleh Nabi, harusnya itu paradigmanya," katanya. 

Mereka ini bukan petugas oligarki untuk menjalankan pesan-pesan oligarki. "Tetapi negara ini adalah menjalankan tugas yang diamanahkan oleh masyarakat untuk menjalankan hukum yang telah Allah turunkan untuk mengurus bumi, untuk menciptakan kesejahteraan untuk kita semua," pungkasnya.[] Munamah
Baca Juga

Post a Comment

0 Comments