Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Jelang 2024, Mulai Muncul Kredit-Diskredit kepada Orang maupun Kelompok Tertentu


TintaSiyasi.com -- Jelang pemilu 2024, Cendekiawan Muslim Ustaz Ismail Yusanto menilai ada upaya pencitraan, kredit, diskredit, advantage, dan disadvantage terhadap orang dan kelompok tertentu. "Jadi saya kira apa yang sedang terjadi saat ini termasuk apa yang kemarin sedang ramai diperbincangkan itu tidak terlepas dari proses pencitraan, kredit diskredit, advantage dan disadvantage," jelasnya dalam Perspektif ke-45 Pusat Kajian dan Analisa Data (PKAD), Jumat (10/06/22) di YouTube Pusat Kajian dan Analisis Data

Hal itu ia sampaikan ketika melihat deklarasi dukungan terhadap Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan viral karena ada atribut bendera tauhid. Menyikapi ramainya perbincangan publik terkait adanya eks HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) dan eks FPI (Front Pembela Islam) di deklarasi dukungan terhadap Anies Baswedan itu, ia menyatakan, dalam kondisi normal tidak ada yang salah dengan khilafah, bendera tauhid, yaitu, Al-Liwa dan Ar-Rayah seperti di aksi tahun 2018 saat bendera itu berkibar begitu banyaknya. 

"Tidak ada yang mengatakan itu kelompok radikal atau itu jemaah HTI, tetapi sekarang sudah berbeda dari tahun 2018, periode rezim sekarang telah memposisikan secara paksa simbol-simbol berupa Al-Liwa dan Ar-Rayah itu sebagai simbol radikal dan radikalisme," jelasnya. 

Kemudian ia melanjutkan, radikal itu bisa bermakna negatif bisa juga positif seperti halnya pada masa Bung Karno yang pernah melontarkan pernyataan bahwa, "Kita membutuhkan sebuah partai yang memiliki spirit radikal dinamis." Maka, ia katakan, kata radikal tersebut mengandung makna positif. 

"Tetapi hari ini makna radikal itu telah menjadi bermakna negatif dan inilah yang disebut sebagai hegemoni makna dan hegemoni makna ini menurut para telekomunikasi AS (Amerika Serikat) akan sangat berpengaruh jika penguasa yang melakukan itu," paparnya. 

Maka, lanjutnya, hegemoni makna hari ini terjadi pada istilah radikal, khilafah, bendera tauhid. Pada saat ini terutama makna Al-Liwa Ar-Raya itu telah diubah sedemikian rupa oleh penguasa bahwa itu sebagai simbol kelompok terlarang. 

"Dalam kerangka seperti itulah mereka berusaha memanfaatkan sebagai sebuah faktor disadvantage dari calon tertentu dan di sini Anies Baswedan. Nah, yang ingin dikatakan oleh mereka pada rakyat adalah ini calon presiden yang didukung oleh kelompok terlarang, dengan berkibarnya kedua itu dalam acara tersebut," tutupnya.[] HN/Ika Mawarningtyas 
Baca Juga

Post a Comment

0 Comments