Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Pesta Olahraga, Benarkah untuk Bangsa?


TintaSiyasi.com -- Perheletan pesta olahraga baru saja selesai digelar. Hiruk pikuknya masih terasa hingga saat ini. Mulai dari kilas balik perjuangan para atlet hingga kemenangan tim Garuda U-22 yang menghebohkan seantero negeri, setelah 32 tahun puasa gelar. Namun di balik hiruk pikuk pesta olahraga tersebut, pemerintah juga "mati-matian" menyiapkan sajian spesial untuk menghadapinya.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menyebut Indonesia menggelontorkan Rp852,2 miliar untuk keperluan mentas di SEA Games Kamboja 2023 (cnnindonesia.com). Dana digunakan untuk beberapa peruntukan mulai dari pembinaan atlet hingga bonus peraih medali. Dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melalui Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Sri mulyani juga memastikan bahwa APBN akan terus hadir untuk mendukung sektor olahraga Indonesia.

Kebahagiaan ini seolah menutup mata pemerintah bahwa kondisi Indonesia tidak sedang baik-baik saja. Mulai dari krisis generasi hingga krisis pangan sedang terjadi di negeri ini. Nyatanya kondisi tersebut seolah luput dari prioritas. Jikapun coba diselesaikan, nyatanya solusi yang diberikan tidaklah solutif.

Misalnya terkait krisis ketenagakerjaan. Meskipun dana yang dikeluarkan tidaklah sedikit, fakta di lapangan banyak dana yang tidak tepat sasaran ataupun program yang diberikan tidak lantas mengentaskan Indonesia dari krisis ketenagakerjaan. Bahkan solusi atas krisis tersebut membuka permasalahan baru seperti korupsi.

Demikianlah dalam sistem kapitalis, negara menganggap diri mereka adalah corporate yang akan berjual beli dengan rakyat. Negara bergerak atas kepentingan segelintir orang tanpa mempertimbangan erangan dari rakyat yang meminta pertolongan. Maka tidak heran, jika solusi yang diberikan oleh pemerintah bukanlah solusi untuk mensejahterakan rakyat, namun mensejahterakan para elit politik yang mengeruk keuntungan sebesar-besarnya atas namanya rakyat.

Dalam Islam negara akan bertindak sebagai perisai yang akan bekerja untuk kepentingan dalam mensejahterkan rakyat.bImam Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan hadis dari jalur Abu Hurairah ra, bahwa Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya seorang imam itu [laksana] perisai. Dia akan dijadikan perisai, dimana orang akan berperang di belakangnya, dan digunakan sebagai tameng. Jika dia memerintahkan takwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan adil, maka dengannya, dia akan mendapatkan pahala. Tetapi, jika dia memerintahkan yang lain, maka dia juga akan mendapatkan dosa/adzab karenanya.” [HR. Bukhari dan Muslim].

Dengan demikian, Islam akan memiliki prioritas dalam menyelesaikan permasalahan kesejahteraan umat. Sedangkan untuk olahraga, Islam memiliki pandangan bahwa seorang Mukmin harus memiliki fisik yang kuat agar mampu meninggikan kalimatullah dengan dakwah dan jihad. Sebagaimana hadis rasul, "Orang Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah, dari pada orang mukmin yang lemah."

Sehingga olahraga tidak diposisikan sebagai ajang untuk meraih popularitas di kancah internasional. Olahraga bukan untuk mendapatkan emas, harta, prestise dan alasan klise mengharumkan nama bangsa di mata dunia. Ini semua telah melalaikan umat dari masalah krusial negara seperti kemiskinan, moral, dan sebagainya. Maka, Islam adalah satu-satunya pilihan terbaik bagi kaum Muslim. Wallahu a'lam. []


Oleh: Yosi Eka Purwanti
(Pegiat Literasi Malang)
Baca Juga

Post a Comment

0 Comments