Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Bullying, Realita Budaya yang Merusak


TintaSiyasi.com -- Sebagai seorang ibu, miris rasanya mendengar kabar seorang bocah laki-laki kelas 2 SD dikeroyok oleh kakak kelasnya hingga meregang nyawa, seperti yang diberitakan pada Tribuntanggerang.com, 21/05/2023. Korban adalah MHD, usia 9 tahun, warga Sukaraja, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. 
Peristiwa ini membuat warga, keluarga dan kerabat sangat terguncang. Korban dengan usianya yang masih muda telah mengalami kekerasan sampai seluruh tubuhnya kesakitan dan menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit.

Ada apa dengan negeri ini? Kasus bullying di atas hanyalah sebagian kecil yang muncul ke permukaan. Kasus bullying ini nyata adanya di hadapan kita sehingga menjadi realita budaya di tengah masyarakat. Makin membuat miris, peristiwa ini terjadi di sekolah yang seharusnya tercipta kondisi bahwa anak-anak fokus belajar demi meraih cita-citanya. 

Realita ini sejatinya menunjukkan sistem pendidikan saat ini telah gagal mewujudkan generasi yang berkepribadian baik dan memiliki iman juga ketakwaan. Lantas, apakah juga akan turut menghasilkan kepribadian yang berkarakter sesuai dengan apa yang tercantum pada UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional?

Dalam undang-undang ini disebutkan bahwa pendidikan karakter adalah bentuk kegiatan manusia yang di dalamnya terdapat suatu tindakan yang mendidik dan diperuntukkan bagi generasi selanjutnya. Tujuan pendidikan karakter adalah untuk membentuk penyempurnaan diri individu secara terus-menerus dan melatih kemampuan diri demi menuju ke arah hidup yang lebih baik. 

Selain itu, terdapat pola asuh yang salah di tengah masyarakat juga mempengaruhi watak anak. Pengasuhan dengan metode kekerasan, cacian, dan kebebasan bisa membuat anak tertekan, stres, depresi, bahkan ingin melampiskannya kepada orang yang lebih lemah darinya. Ditambah ketidakpedulian masyarakat akan perilaku sadis dan brutal ini menyebabkan aktivitas bullying semakin membudaya. Tayangan diberbagai media yang menampilkan adegan kekerasan dan perilaku bullying juga membuat generasi muda merasa hal tersebut sesuatu yang lumrah terjadi. 

Tentu semua ini tidak terlepas dari kerusakan sistem yang diterapkan saat ini. Ya, kapitalisme sekuler seakan-akan membiarkan terciptanya generasi yang rusak. Sistem ini bekerja dengan mengedepankan kepentingan di atas segalanya. Tak peduli meraihnya dengan cara yang baik ataukah dengan kekerasan. Slogan kebebasan yang diusungnya membuat manusia sulit sekali untuk diatur. Peran negara untuk membuang tayangan-tayangan kekerasan dan bullying pun seolah-olah tak berdaya. Bahkan para preman sengaja dipelihara untuk melindungi kepentingan orang-orang yang serakah. Na'uzubilah!

Sudah sepantasnya negeri ini beralih kepada sistem Islam. Sebab menyelamatkan kualitas generasi kita adalah perkara yang sangat urgent. Islam menjadikan keimanan sebagai dasar yang harus dimiliki oleh setiap warga negaranya. Keimanan inilah yang akan menjadi benteng utama untuk menghindari perilaku yang keji dan sadis. Bahkan Islam juga memiliki mekanisme yang sempurna dalam membentuk kepribadian warga negaranya dengan sistem pendidikannya. 

Proses pendidikan ini akan dimulai dari keluarga, masyarakat, sampai level negara, laki-laki maupun perempuan, tua maupun yang muda, semuanya diarahkan untuk menjadi individu yang beriman, berakhlak mulia, dan memiliki kualitas otak yang cerdas sehingga mampu berinovasi, kreatif, dan juga memiliki keterampilan yang dibutuhkan untuk memajukan peradaban dunia. Insyaallah! Selain itu negeri ini juga akan mendapatkan keberkahan dari langit dan bumi jika seluruh penduduknya menerapkan aturan-aturan dari Allah SWT secara sempurna. Masyaallah! []


Oleh: Meilani Sapta Putri
(Aktivis Muslimah)
Baca Juga

Post a Comment

0 Comments