Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Harapan yang Tercipta menjadi Angan-Angan Semu

TintaSiyasi.com -- Beberapa hari lalu Presiden Indonesia, Joko Widodo menghadiri kegiatan Kick Off Keketuaan ASEAN-Indonesia 2023 di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta.

Jokowi menyampaikan asosiasi bahwa terdapat 11 negara di Asia Tenggara dalam organisasi besar ASEAN yang masih memiliki peran urgent bagi kesejahteraan dan kedamaian dunia atas kompleksnya situasi krisis yang terjadi saat sekarang. 

Selain itu, Jokowi juga sangat yakin terhadap kemampuan ASEAN untuk menciptakan solusi yang solutif dan relevan bagi segudang problematika rakyat. Dengan kontribusi ASEAN terhadap dunia diharapkan mampu menghidupkan kembali sektor pendidikan, ekonomi, kesehatan, keamanan di Kawasan Indo-Pasifik yang sempat tersendat selama pandemik berlalu (Nasional.kompas.com, 29/1/2023). 

Survei Pusat Penelitian Ekonomi yang diungkap oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat di tahun 2020 hingga minus 5,32 %. Ribuan pekerja terkena PHK lantaran kontraksi pendapatan dan keterbatasan ruang (Lipi.go.id, 23/8/2020).

Sekolah-sekolah terpaksa ditutup dan berlangsung secara WFH (Work From Home), sehingga berdampak pada pemahaman dan karakter anak yang jauh dari visi misi pendidikan. Dampak pandemik semakin melebar hingga berkurangnya pasokan tenaga kerja, meningkatnya angka pengangguran, dan tingginya angka kriminalitas di berbagai daerah. Dengan itu, tentu saja berpengaruh pada kesejahteraan rakyat yang kian menurun (Feb.untan.ac.id, 12/2020).

Setelah terjadi pandemik selama bertahun-tahun lamanya, seluruh dunia mengalami goncangan di beberapa sektor seperti ketahanan pangan, stabilitas keuangan, keprofesionalan pendidikan, dan isu kesehatan. Berharap kepada rezim sekarang yang disetir oleh sistem kapitalisme bukanlah tindakan yang tepat. Karena dengan begitu, sama saja kita menyerahkan diri kepada musuh.

Iming-iming yang ditawarkan tidak lain tidak bukan hanya taktik untuk membodoh-bodohi rakyat supaya luluh terhadap pemahaman yang mereka bawa. 
Di tengah sistem yang kian menghimpit, menciptakan perdamaian dan kesejahteraan bagi dunia bukanlah tugas yang mudah, banyak tantangan yang akan dihadapi.

Tidak heran jika masih banyak masyarakat awam yang menaruh segudang harap kepada rezim saat ini. Namun ternyata harapan untuk keluar dari berbagai penderitaan yang mengepung pada tiap sisi kehidupan berjalan ke tuan yang salah, sehingga pada akhirnya harapan tersebut hanya menjadi angan-angan semu.

Kebanyakan dari negara ketiga adalah negara yang belum mandiri. Negara yang masih menggantungkan kebutuhannya pada negara super power, yaitu negara-negara pendiri sistem kapitalisme. Maka tidak heran jika negara ketiga tersebut dijadikan alat oleh sistem guna melanggengkan hegemoninya. 

Gerak terstruktur berjalan sesuai dengan keputusan para kapitalis, sehingga tidak akan pernah mencapai mufakat atas berbagai permasalahan umat. 
Keputusan yang dibuat pun tentu saja menyesuaikan oleh kepentingan pemilik modal. Sesuai dengan asas yang mereka agung-agungkan, yakni asas kemanfaatan pada sektor manapun.

Senantiasa memisahkan agama dari kehidupan, sistem kapitalisme akan menggunakan cara apapun untuk meraih kesenangan duniawi. Para pejuang kapitalisme akan berjuang mati-matian untuk mendapatkan miliaran uang. 
Mengetahui potensi alam dan manusia dari negara pembebek itu cukup berpotensi bagi kepentingan mereka, tangan besi para kapitalis tidak tinggal diam.

Maka dari itu, dengan memanfaatkan belasan negara yang kaya sumber daya alam tersebutlah mereka mengeruk semua hasil alam dan sumber daya manusia di dalamnya. Mengekploitasi sumber daya alam demi keuntungan yang besar, mengeruk habis minyak dan batu bara guna menimbun harta sebanyak-banyaknya, dan merusak generasi untuk menunda kebangkitan Islam yang hakiki.

Sistem Islam, Ideologi Paripurna

Islam adalah ideologi paripurna bagi dunia, sayap-sayap Islam yang terbentang kokoh selama 13 abad lamanya telah menjadi bukti sejarah atas keharuman jejaknya. Peraturan komprehensif yang diterapkan dalam negara Islam berhasil menciptakan peradaban yang gemilang. Berlandaskan pada Al Qur’an dan As Sunnah Islam mampu menjadi ideologi bagi negara Islam yang kuat, mandiri, dan berdaulat.

Dalam negara Islam keputusan mutlak berkiblat pada syariat, bukan kepada manusia kepentingannya pun menyesuaikan oleh hukum syara’ untuk kebutuhan umat, bukan untuk kepentingan pribadi atau duniawi.

Adapun fungsi negara dalam Islam adalah mengurusi dan mengayomi umat. Dengan itu, Islam merupakan satu-satuya sistem yang ideal bagi kelangsungan hidup umat, di dalamnya mengatur bagaimana pendidikan, kesehatan, keamanan, adalah hak umat yang harus dipenuhi.

Sudah menjadi tanggungjawab negara untuk senantiasa mengikhtiarkan semaksimal mungkin berbagai kebutuhan rakyatnya. Pendapatan negara senantiasa diperoleh dan diolah secara mandiri melalui baitul mal. Terdiri atas beberapa pos yang bisa diandalkan, sehingga negara Islam akan sangat berhati-hati dalam berhutang.

Tidak seperti sekarang, negara Islam akan sangat menjaga interaksinya dengan negara asing, memperhatikan detail syarat-syarat dalam menjalin hubungan luar negeri. Selain itu juga tidak akan membiarkan negara asing dengan mudahnya masuk ke negara Islam, apalagi sampai memanfaatkan potensi wilayah yang berada dalam naungan negara Islam.

Sebagaimana termaktub dalam hadits Rasulullah Saw. “Setiap kalian adalah pemimpin (pengurus) dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban. Maka seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban.” (HR. Bukhari).

Jadi apa-apa saja yang menjadi keputusan negara akan Allah minta pertanggungjawabannya. Bagaimana cara negara mencukupi kebutuhan rakyatnya akan dimintai pertanggungjawaban pula.
Allah berfirman, “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-Baqarah: 30).

Hanya negara Islam yang dapat maksimal dalam mewujudkan kepentingan umat. Dengan itu, kesejahteraan dan perdamaian dunia hanya akan terwujud jika telah terjadi penerapan Islam kaffah di muka bumi ini.[]

Oleh: Annisa Sukma Dwi Fitria
(Aktivis Muslimah)
Baca Juga

Post a Comment

0 Comments