Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Muhasabah Akhir Tahun Bersama Pemuda


TintaSiyasi.com -- Muslimah Probolinggo, menyelenggarakan Muhasabah Akhir Tahun bersama komunitas Majelis Taklim Kaisha (Kajian Ibu Shaliha).  Suasana pagi itu berkawan hujan rintik, tetapi tidak menyurutkan semangat ibu-ibu untuk hadir di acara ini.

Hening dan khidmat begitu terasa. Para peserta pengajian antusias menyimak sapaan dari Ummu Fiqa selaku host acara.

Ummu Fiqa menjelaskan di tahun 2022 ini memang banyak peristiwa yang terjadi, khususnya yang menimpa generasi muda. Potret generasi muda saat ini benar-benar memprihatinkan, karena kerusakan pemuda begitu nyata di depan mata kita. Tentunya kita harus mengetahui apa penyebab dari kerusakan pemuda tersebut untuk kemudian berusaha menemukan solusinya.

Sesuai dengan konsep acara yaitu "Nobar", forum kemudian dialihkan menjadi online. Peserta fokus menyaksikan orasi dari para pembicara melalui video streaming.

Narasumber pertama, Ustadzah Dwi Hendriyanti, S.Pd. Beliau berprofesi sebagai pendidik,  memaparkan bahwa profil generasi saat ini jauh dari penerus bangsa yang mencerminkan moral dan akhlak. Ini karena proses pendidikan di sekolah belum mampu mewujudkan generasi muslim yang taat syariat. Ini sangat sulit, atau bahkan tidak mungkin. Bisa disimpulkan, fakta kerusakan generasi saat ini karena ada kegagalan pendidikan di sekolah,” jelasnya.

Beliau menambahkan, ada 3 faktor kegagalan pendidikan dalam sistem saat ini. Pertama, kurikulum yang senantiasa berubah-ubah. Kedua, faktor guru sebagai pendidik yang disibukkan dengan berbagai administrasi, dan ketiga  lingkungan yang kurang kondusif. 

Selanjutnya narasumber  yang kedua, Prof. Dr. Mas Roro Lilik Ekowanti, M.S., memaparkan adanya kebijakan makro atau internasional yang menginfiltrasi. Di mana sistem yang berkuasa sekarang adalah kapitalisme. Kapitalisme mendesain negara- negara jajahannya untuk menciptakan buruh atau tenaga kerja di sektor perusahaan, baik nasional maupun multinasional. Inilah Neoimperialisme. Meskipun lulusan PT bergaji tinggi, tetapi tetap statusnya pegawai, jadi jangan merasa bangga. Begitulah pesan beliau mengingatkan para pemuda.

Dari perwakilan mubalighah, narasumber yang ketiga adalah Hj. Tingting Rohaeti. Beliau menyatakan bahwa pesantren sudah hilang arah. Orientasi tidak lagi mencetak ulama dan santri faqih fiddin tapi mencetak ulama dan santri moderat. Kegagalan pendidikan pesantren dikarenakan ada dua regulasi. Yaitu, adanya upaya memoderatkan ajaran Islam serta mengalihkan perhatian ke permasalahan ekonomi dengan regulasi One Pesantren One Product. 

Narasumber keempat adalah aktivis muslimah yang sangat energik, Ustadzah Apri Hardiyanti, S.H. Beliau adalah Kornas Kohati periode 2018-2020. Dalam orasinya beliau menjelaskan bahwa pemuda sebagai agen perubahan telah dibajak dalam sistem pendidikan sekulerisme. Sistem ini mengedepankan pembinaan kemitraan kewirausahaan agar menjadi mandiri, sehingga tidak menjadi beban negara. Menghapus potensi pemuda sebagai pemimpin umat.

Mengakhiri rangkaian pemaparan narasumber, Ustadzah Ratu Erma selaku aktivis muslimah menyimpulkan bahwa di dalam sistem kapitalisme sekuler tidak ada ruang yang benar dan aman dalam pembentukan generasi muda muslim. 

Dengan penuh semangat beliau memaparkan, bahwa potensi pemuda Islam itu harus diarahkan kepada moral dan agama, seperti hadir ke kajian. Agar pemuda sadar akan potensi dirinya, bukan sebagai buruh meskipun bergaji tinggi. Tapi potensi generasi muslim adalah menjadi khalifah, pemimpin di bumi. Kemudian melakukan amar makruf nahi munkar. Inilah harus ditanamkan secara sadar. Agar Islam bangkit, maka butuh negara yang disebut Khilafah.

Acara kemudian dilanjutkan dengan mendengarkan testimoni dari para peserta. Mereka tampak sangat antusias menyampaikan testimonimya. Bahkan ada peserta yang sudah sangat sepuh, tak kalah semangatnya menyampaikan testomoninya kepada peserta yang lain yang lebih muda.

Acara kemudian diakhiri dengan mengajak peserta mengazamkan diri untuk selalu mengkaji ilmu agama untuk  dijadikan bekal menyelamatkan potensi pemuda agar tidak mudah dibajak oleh musuh-musuh Islam.
Wallahu a'lam bishawab. []


Oleh: Irma Hidayati, S.Pd.
Aktivis Muslimah Probolinggo
Baca Juga

Post a Comment

0 Comments