Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Ulah Kapitalisme, Nyawa Seolah Tak Berharga


TintaSiyasi.com -- Oktober kelabu. Awal Oktober lalu, publik dibuat terhenyak oleh kabar duka dari Kota Malang. Sebanyak lebih dari 120 orang meninggal dunia dalam stadion Kanjuruhan Malang setelah polisi menggunakan gas air mata ketika terjadi kericuhan di stadion. Banyak yang menyesalkan tindakan represif ini. Karena penonton yang penuh sesak saat itu tidak bisa menghindari menghirup gas air mata, berdesakan hingga akhirnya hilang nyawa. 

Akhir oktober kabar duka kembali mengejutkan publik. Dalam pesta Halloween di Itaewon Korea selatan, sedikitnya 150 orang tewas, termasuk diantaranya 26 orang warga asing. Penyebab pasti masih dalam penyelidikan (Republika.co.id, 2/11/2022). Jalanan sempit yang penuh orang berkerumun merayakan pesta Halloween menjadi saksi bisu atas hilangnya seratus lebih nyawa malam itu. 


Kerumunan Berujung Kematian 

Antusiasme masyarakat dalam berbagai kegiatan off air belakangan ini memang terlihat meningkat. Setelah dipaksa “di rumah saja” saat pandemi lalu, kini masyarakat seakan menemukan waktu yang tepat untuk mencari bahagianya di luar rumah. Hal ini juga didukung dengan pelonggaran dari pemerintah dengan mengeluarkan izin keramaian. Mulai dari konser musik, festival, hingga penyelenggaraan pertandingan olahraga bisa terselenggara dengan mendatangkan jumlah massa yang banyak. 

Peristiwa di stadion Kanjuruhan Malang dan Itaewon Korea Selatan adalah gambaran masyarakat yang sedang mencari kebahagiaan. Meskipun berdesak-desakan, namun masyarakat mendapatkan kebahagiaan dari sana. Sangat disesalkan, kerumunan orang yang sedang mencari kebahagiaan harus berujung dengan hilangnya nyawa.

Sayangnya dalam kapitalisme, nyawa memang seolah tak berharga. Satu nyawa, ratusan bahkan ribuan nyawa hilang pun tak berharga. Setelah tragedi ini, kerumunan kembali terulang. Konser dan festival digelar kembali dengan jumlah massa yang banyak di lain tempat. Karena yang terpenting bagi para pemilik modal, bagaimana agar mereka tetap bisa mendapatkan keuntungan dari masyarakat. 


Jebakan Kebahagiaan Semu Kapitalisme

Kapitalisme telah melahirkan berbagai tekanan dan kesulitan hidup. Sebagian orang dipaksa untuk meraih capaian materi demi terdefinisi sukses. Sebagian lainnya hidup dalam tekanan karena harus bekerja ekstra keras untuk sekadar menghidupi diri dan keluarga. Sehingga orang berbondong-bondong mencari kesenangan untuk sesaat melarikan diri dari beban kehidupannya. Sayangnya, kapitalisme jugalah yang dijadikan penawar segala kesulitan. 

Kapitalisme menawarkan kebahagiaan dalam berbagai aktivitas fun, food, fashion, film, hingga free sex. Masyarakat didorong untuk mencari bahagia di antara aktivitas-aktivitas ini. Padahal sesungguhnya, para kapitalis sedang mendulang materi ketika masyarakat terlibat dalam berbagai aktivitas tersebut. Demikianlah kapitalisme menjebak masyarakat dalam kebahagiaan semu. Bagai lingkaran setan yang tak berujung, masyarakat terus berkutat dalam kesulitan dan kebahagiaan semunya. 


Nyawa Manusia Amatlah Berharga

Peristiwa di stadion Kanjuruhan Malang maupun peristiwa di Itaewon Korea Selatan bisa menjadi bahan renungan bagi masyarakat luas pada umumnya dan bagi umat Muslim pada khususnya. Nyawa manusia tak sepadan dengan aktivitas kebahagiaan sesaat. Dalam pandangan Islam, nyawa manusia amatlah berharga.

Dari al-Barra’ bin Azib ra, Nabi SAW bersabda:

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ قَتْلِ مُؤْمِنٍ بِغَيْرِ حَقٍّ

Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibanding terbunuhnya seorang Mukmin tanpa hak” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al-Albani).


Merenungkan Kembali Tujuan Hidup

Sebagai umat Muslim, semestinya memahami hakikat penciptaan dirinya. Sehingga mampu memilih mana aktivitas yang layak dilakukan karena sejalan dan mana yang harus ditinggalkan karena tidak sejalan dengan hakikat penciptaan manusia oleh Allah SWT. 

Dalam surat Adz-dzariat ayat 56 Allah SWT berfirman, “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”

Allah SWT menciptakan manusia tidak lain hanyalah untuk beribadah kepada-Nya. Beribadah tidak hanya dalam artian melakukan aktivitas ruhiyah yang hanya ditujukan kepada Allah SWT. Namun ibadah juga berarti melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Perintah dan larangan Allah SWT mencakup segala aspek kehidupan. Bila dalam berpakaian seorang Muslimah memakai pakaian sesuai ketentuan Allah SWT, maka itu adalah ibadah. Bila seorang Muslim memilih makanan yang halal, maka itu ibadah. Bila seorang Muslimah tidak bercampur baur dengan laki-laki di ruang publik, maka itu juga ibadah. 

Setiap perbuatan manusia terikat dengan peraturan dari Allah SWT, Sang Pencipta. Segala perilaku, ucapan, pemikiran serta perasaan harus sesuai dengan ajaran Islam. Dalam hal perbuatan, setidaknya ada lima hukum perbuatan, yaitu wajib, sunah, mubah, makruh, dan haram. Sebagai seorang Muslim semestinya memahami dalam kategori hukum perbuatan mana, perilaku yang sedang atau akan ia lakukan. 

Segala yang wajib diupayakan agar segera terlaksana, karena perbuatan wajib mendatangkan pahala ketika dikerjakan dan mendatangkan dosa jika ditinggalkan. Kemudian diikuti dengan perbuatan sunah, karena meskipun tidak berdosa bila tidak dikerjakan, namun Allah berikan pahala bagi yang melaksanakan amalan sunah. Seorang Muslim tidak berlarut-larut dalam aktivitas mubah yang melalaikan. Sementara aktivitas haram, wajib untuk ditinggalkan demi terhindar dari dosa. 

Setiap manusia akan kembali pada Allah SWT dengan masing-masing bekal amal yang dimilikinya. Maka bila telah hadir kesadaran ini pada diri seorang Muslim, ia akan mencurahkan hidupnya hanya untuk berlomba-lomba meraih ridha Allah dengan melakukan aktivitas wajib dan sunah. Seorang Muslim yang memiliki kesadaran ini tidak akan mudah tergiur oleh rayuan kesenangan dunia yang sesaat. Ia paham betul, aktivitas kesenangan di dunia hanyalah mendatangkan kebahagiaan semu, sementara aktivitas ibadah mendatangkan pahala yang terbawa hingga ke negeri akhirat. 

Mengokohkan akidah Islam, menjernihkan kembali pemikiran umat Islam dalam memandang kehidupan sesuai dengan ajaran Islam, memerlukan proses yang intensif dan sepanjang hayat. Dimulai dari rumah dengan peran orang tua, sistem pendidikan yang melahirkan generasi bertakwa, hingga membutuhan peran masyarakat untuk sama-sama bisa saling mengingatkan dan saling menasehati. 

Segala kesulitan dan tekanan hidup disebabkan oleh penerapan kapitalisme dalam segala aspek kehidupan. Sudah selayaknya kapitalisme ditinggalkan. Mari sama-sama kembali pada Islam. Memahami Islam tidak hanya sebagai agama ruhiyah, tapi juga sebuah sistem yang mengatur kehidupan manusia. Hanya dengan Islam, manusia akan selamat di dunia dan akhirat. 

Wallahu a'lam bishshawab. []


Oleh: Tita Rahayu Sulaeman
Aktivis Muslimah
Baca Juga

Post a Comment

0 Comments