Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Badai PHK Massal, Bikin Kesal!


TintaSiyasi.com -- Pencari nafkah di Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Pasalnya di tengah kesibukan menstabilkan perekonomian di negeri ini justru terjadi badai pemutusan hubungan kerja (PHK) massal. Banyak perusahaan yang memangkas karyawannya dalam jumlah besar tidak hanya puluhan melainkan hingga ribuan pekerja, bahkan satu perusahaan dalam setahun bisa terjadi PHK tidak hanya satu kali. Sangat disayangkan juga bahwa perusahaan tersebut merupakan start up yang diharapkan dapat menjadikan angin segar bagi terbukanya peluang kerja untuk masyarakat justru penyumbang terjadinya PHK masal ini. Perusahaan startup tersebut diantaranya adalah Shopee, Go To, Ruangguru, dan masih banyak lainnya. 

Banyak spekulasi bermunculan mengenai penyebab terjadinya gelombang PHK massal ini. Mulai dari alasan adanya resesi ekonomi, kondisi pasar global, dan tantangan makro ekonomi global. Namun jika kita melihat fakta didapati bahwa resesi belum terjadi di negeri ini, bahkan tantangan pasar global juga seharusnya telah disiapkan oleh perusahaan sebelum memutuskan untuk membangun usaha dan merekrut jutaan karyawan. 

Sebagai perusahaan yang telah dikenal oleh masyarakat sebagai raksasa digital tentu menimbulkan pertanyaan mengapa banyak sekali karyawan yang harus dirumahkan. Padahal kita bisa mengetahui bahwasannya start up saat ini dalam bisnisnya tidak berbasis ekonomi yang kuat berupa ekonomi riil, sehingga sejak awal berdirinya akan terdapat celah untuk rapuh dikemudian hari. Selain itu dalam sistem kapitalisme sekarang dalam berbisnis yang sangat dipentingkan adalah mendapatkan keuntungan materi yang sangat besar, tanpa peduli apakah akan banyak pihak yang dirugikan. 

Membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat hanyalah tipuan awal yang dilancarkan untuk mendukung berjalannya startup tersebut. Setelahnya jika sudah dirasa stabil maka konsumen yang menggunakan aplikasi mereka dan masih membeli barang atau menggunakan jasa melalui aplikasi tersebut tentu memutus jutaan pegawai merupakan perkara mudah. Hingga berakhir lonjakan pengangguran bukan justru menyelamatkan masyarakat dari keterpurukan ekonomi. 

Beginilah hasil yang bisa dipetik jika usaha menggunakan sistem ekonomi kapitalisme. Perusahaan sebenarnya tidaklah didukung dengan sistem yang kuat bahkan oleh pemerintah, terlebih dana yang digunakan juga tidak stabil. Dalam kapitalisme perusahaan bahkan hanya fokus untuk menambah jumlah konsumen serta pendapatan yang meningkat, sehingga kesejahteraan pegawai terabaikan. Belum lagi selain sistem pertahanan dan keuangan yang tidak stabil, apabila di pasar tidak diterima dengan baik dan kehabisan sumber dana maka, boom! Ambruklah start up satu persatu. 

Jangan lupakan juga penyebab goyahnya start up adalah aturan jual beli yang diterapkan banyak yang bertentangan atau melanggar syariat, hanya mengikuti cara berbisnis Barat tanpa melihat halal dan haramnya transaksi yang dilakukan. Maka sungguh ini merupakan usaha yang dibangun murni berdasarkan materi bukan untuk taat kepada pencipta-Nya. 

Badai pemutusan kerja massal ini seharusnya menjadi pengingat bagi kita bahwa Islam tidak diterapkan di tengah masyarakat, bahkan cenderung diabaikan. Keuntungan materi menjadi fokus utama, sehingga tujuan mensejahterakan masyarakat hanyalah tipuan untuk melancarkan bisnis mereka. Belum terlambat menyadari dan bertobat untuk kembali menggunakan Islam sebagai satu-satunya pedoman hidup. 

Penting juga peran pemerintah dalam mengayomi masyarakatnya. Tidak membiarkan start up banyak berkembang sesuai kemauan perusahaan mereka sendiri tanpa mementingkan syariat. Penyediaan lapangan pekerjaan bagi pencari nafkah juga merupakan tugas negara sehingga kemiskinan dan pengangguran bisa teratasi, masyarakat bisa sejahtera, tidak putus harapan saat bekerja sebab terjadinya PHK. 

Berbenah, dengan Islam kaffah. Itulah solusi sempurna dan mengakar yang ditawarkan oleh Islam. Sebagai umat Muslim sudah seharusnya kita mengambil solusi yang ditawarkan oleh Allah SWT. Ketidakpastian dalam bekerja mencari nafkah tentu bisa diselesaikan dengan sistem yang tepat yakni sistem Islam, pemimpin yang menjalankan juga memahami perannya untuk mensejahterakan masyarakat sesuai syariat, para pengusahanya pun memahami bisnis bukan sekadar keuntungan materi belaka atau bahkan hanya menggendutkan dompet pribadi saja, bahkan masyarakatnya siap menegur apabila terjadi kezaliman di tengah-tengah mereka. []


Oleh: Nida’ul Haq
Mahasiswi
Baca Juga

Post a Comment

0 Comments