Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Arah Perjuangan Politik untuk Indonesia Lebih Baik


TintaSiyasi.com -- Pesta demokrasi masih 2 tahunan lagi. Namun, suhu politik sudah mulai terasa panasnya. Partai politik (parpol) sudah mulai ancang-ancang membuat strategi dan langkah agar bisa memperebutkan kursi tertinggi di negeri ini. Terdapat 18 parpol calon peserta Pemilu 2024 dinyatakan lolos verifikasi administrasi. 

Setiap parpol sibuk bermanuver menentukan kawan koalisinya. Bermunculan pula relawan politik dengan berbagai kepentingannya. Adu domba dalam partai tak terperikan. Upaya menjodoh-jodohkan tokoh partai politik pun dilakukan.

Beginilah hiruk pikuk persaingan merebut tahta kekuasaan tertinggi dalam alam demokrasi. Realitasnya, justru sistem demokrasi melahirkan aktivitas politik seperti berikut:

Pertama, politik oportunis, sebuah sikap politik yang berubah-ubah sesuai kepentingan sesaat dengan mengabaikan prinsip yang diusung. Adagium yang menunjukkan sikap politik oportunis ini "tak ada kawan atau lawan yang abadi, yang ada hanyalah kepentingan abadi". Maka tak heran, jika awal jadi lawan, pada akhirnya justru berkawan dan saling erat berangkulan. 

Demi kekuasaan, jalan apa pun dilakukan, tak peduli benar atau salah, halal atau haram. Bahkan jualan agama pun dijabani. Parpol jadi bersikap pragmatis, termasuk ketika berkoalisi. Asal ada manfaat dan bisa mendapat porsi kekuasaan. Tak peduli lagi jika hal itu bertentangan dengan idealismenya. Praktiknya saat ini justru dilakukan oleh hampir semua parpol.

Kedua, politik uang. Sudah menjadi rahasia umum jika mahar politik itu perlu biaya tinggi. Bisa dikatakan tak mungkin seseorang hanya merogoh kocek pribadi. Butuh dukungan dana dari para pemodal atau konglomerat. 

Terjadi simbiosis mutualisme antara politikus dan pemodal. Para konglomerat memodali para politikus. Jika politikus itu berkuasa, maka para pemodal itu akhirnya ikut menentukan kebijakan negara demi memuluskan kepentingan mereka.

Alhasil, kebijakan negara tak lagi berpihak pada rakyat. Rakyat dikorbankan untuk menerapkan kebijakan yang menguntungkan para pemodal dan elit politik. Misalnya kebijakan mengurangi subsidi dengan menaikkan harga BBM, gas, tarif dasar listrik, pengesahan UU Omnibus Law, Ciptaker, dan lain-lain. 

Ketiga, oligarki politik yang mengarah pada dinasti politik. Demi mempertahankan singgasana, didaulatlah anggota keluarga atau kerabat untuk melanjutkan tampuk kekuasaan. Bermunculan politisi dadakan dari jalur keluarga, meski minim rekam jejak. Praktik KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme) pun tak terelakan. Kepentingan rakyat makin terpinggirkan.

Itulah praktik perpolitikan dalam sistem demokrasi kapitalisme. Politik hanya dimaknai sebatas perebutan kekuasaan, sehingga berbagai cara apa pun dilakukan. Maka tak heran jika masyarakat jadi makin skeptis terhadap politik itu sendiri.


Perubahan Hakiki

Rezim selalu berganti, namun tak ada perubahan yang berarti. Kian hari masyarakat malah makin terpuruk dan sengsara.

Oleh karena itu, masyarakat harus memahami akar masalahnya. Semua hal ini berawal dari penerapan sistem kehidupan yang salah, yakni sistem sekuler kapitalisme, di mana demokrasi menjadi kendaraan politiknya. Jika menghendaki perubahan hanya dengan mengubah personal (rezim), tanpa ada perubahan sistem, niscaya perubahan yang terjadi hanya tambal sulam. 

Jika masyarakat menghendaki adanya perubahan yang hakiki, maka ikutilah arah perjuangan yang Rasulullah SAW contohkan. Arah perjuangan itu dengan aktivitas politik. 

Aktivitas politik dalam Islam adalah segala aktivitas yang berkaitan dengan pengaturan urusan umat. Adapun kekuasaan digunakan sebagai sarana mengatur pengurusan kepentingan umat berdasarkan aturan Allah SWT. Inilah, aktivitas politik yang Rasulullah SAW lakukan:

Pertama, Rasulullah SAW melakukan dakwah politik secara berjamaah. Bersama kelompoknya, beliau berdakwah di tengah masyarakat, membina masyarakat dengan akidah dan pemikiran Islam. Membongkar dan menyerang pemikiran, adat istiadat, serta hukum-hukum yang tidak berlandaskan aturan Allah. 

Kedua, Rasulullah SAW tidak pernah berkompromi dengan sistem jahiliah saat itu. Beliau terus melakukan interaksi dakwah kepada petinggi dan kabilah Quraisy dengan menjelaskan kerusakan sistem tersebut. Rasulullah SAW tidak tergoda dan tegas menolak tawaran-tawaran yang membelokkan fokus perjuangannya. Beliau tak rela menggadaikan idealisme dan prinsip perjuangan demi kekuasaan. 

Ketiga, Rasulullah SAW melakukan perubahan rezim dan sistem. Aktivitas dakwah beliau bukan semata mengajak orang kafir masuk Islam, tapi mewujudkan masyarakat Islam dan mengganti sistem jahiliah dengan sistem Islam. Hijrahnya beliau ke Madinah adalah untuk menerapkan aturan Islam secara kaffah dalam institusi khilafah. Setelah itu, beliau membebaskan negeri yang belum tersentuh dengan Islam dengan dakwah dan jihad.

Aktivitas yang Rasulullah SAW lakukan dalam meniti jalan perubahan ini hendaknya dijadikan refleksi bagi semua. Sudah saatnya umat, gerakan dakwah dan partai politik Islam mengevaluasi tujuan, aktivitas politik, dan arah perjuangannya kepada perubahan yang hakiki. Mengikuti jalan perubahan yang Rasulullah contohkan. 

Wallahu a'lam bishshawab. []


Oleh: Lussy Deshanti Wulandari
Aktivis Muslimah
Baca Juga

Post a Comment

0 Comments