Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Merindukan Sosok Pemimpin seperti Umar bin Khattab


TintaSiyasi.com -- “Sebaik-baik penguasa adalah yang dapat memakmurkan rakyatnya. Sebaliknya, seburuk-buruk penguasa adalah yang menyengsarakan rakyatnya.

Begitulah ucapan yang disampaikan oleh Khalifah Umar bin Khattab kepada salah seorang sahabatnya. Tentu bukan sekadar ucapan, terbukti pada masa Umar bin Khattab keadaan umat Islam mengalami kemajuan terutama dalam kesejahteraan. Baik yang kaya maupun yang miskin bisa menikmati berbagai fasilitas umum secara mudah dan gratis.

Kondisinya berbeda seratus delapan puluh derajat dengan hari ini. Kian hari kondisi kehidupan kian sempit dan sulit. Para penguasa hidup berlimpah sedangkan rakyat melarat hingga mati tanpa pertolongan.

Baru-baru ini terjadi kasus yang membuat pilu. Seorang bapak bernama Undang berasal dari kota Garut harus kehilangan rumah lantaran utang pada rentenir. Rumahnya dirobohkan saat dia dan keluarganya tengah mencari pekerjaan di kota Bandung.

Tak hanya itu, berita pilu pun datang dari warga Baduy Banten. Ada enam warga yang meninggal secara misterius, setelah dicek ternyata mereka terkena penyakit tuberkulosis. Sebagaimana dilansir oleh media kompas.com (16/09/2022), penyebab enam warga Baduy di Kabupaten Lebak, Banten, yang sebelumnya dianggap misterius akhirnya terungkap. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten dr. Ati Pramudji Hastuti mengatakan, keenam orang itu ternyata meninggal karena penyakit tuberkulosis.

Lebih mengejutkan lagi adalah dari hasil penelitian 50% penduduk Indonesia mengalami kelaparan tersembunyi (hidden hunger). Hal ini diungkapkan oleh Guru Besar Ilmu Gizi Fakultas Ekologi Manusia IPB University Drajat Murtianto. Hal itu disebabkan kekurangan zat gizi mikro berupa zat besi, yodium, asam folat, seng, vitamin A dan zat gizi mikro lainnya (mediaindonesia.com,18/09/2022).

Ibarat gunung es di lautan, fakta-fakta di atas adalah fakta yang terungkap. Sedangkan fakta lainnya berupa kepiluan, kemiskinan, dan kemelaratan begitu banyak melanda masyarakat. Bahkan banyaknya peminta-minta sudah menjadi pemandangan biasa. Padahal negeri ini berlimpah sumber daya alamnya.

Kemiskinan yang terjadi saat ini merupakan kemiskinan struktural. Sebab bukan hanya terjadi pada satu atau dua orang saja. Melainkan melanda sebagian besar masyarakat. Artinya bukan salah individu semata yang malas bekerja misalnya. Melainkan kemiskinan terjadi akibat sistem yang diterapkan saat ini. Bahkan negaranya sendiri menjadi miskin dan memiliki banyak utang.

Utang Indonesia saat ini sudah menembus 7000 triliun lebih. Besarnya utang ini hingga bayi yang baru atau belum lahir pun ibarat kata sudah punya beban utang. Entah sampai kapan utang itu bisa dilunasi. Namun yang pasti utang tersebut memiskinkan dan menyulitkan rakyat. Sebab pajak terus naik dan bertambah besar.

Semua terjadi akibat kapitalisme yang diterapkan di negeri ini. Sistem ini memberikan kebebasan pada para pemilik modal untuk menguasai sumber-sumber kekayaan alam. Lalu peran negara dimandulkan. Negara hanya sebatas sebagai regulator yang memuluskan kepentingan para kapital. Seperti Undang-Undang Minerba, Omnibus Law, dan lainnya.

Begitu pun dengan para penguasanya. Awalnya mungkin mereka bersih dan ingin memberikan yang terbaik untuk rakyat. Namun akhirnya mereka banyak yang tergadai dengan janji politik. Demi meraih dukungan dan suara terbanyak. Sehingga lupa akan niat dan tujuan awal berpolitik atau berada di lingkungan kekuasaan. Akhirnya seperti berada di lingkungan setan.

Berbeda halnya ketika umat Islam dalam kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab. Rakyat makmur dan sejahtera. Baik orang miskin maupun kaya bisa mendapatkan pelayanan secara mudah bahkan gratis. Bahkan kuda saja diperhatikan, kondisi jalan, dan lain sebagainya. Kekayaan negara atau harta-harta negara di simpan di Baitul Mal dan dipergunakan sesuai dengan pos yang sudah ditetapkan. Khusus pos zakat tidak boleh dipakai untuk yang lain. Pos ini hanya diperuntukkan untuk delapan golongan yang sudah ditentukan dalam Al-Qur'an.

Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Al-Amwal karangan Syekh Abdul Qadim Dzalum, "Semua harta fa'i dan harta-harta yang mengikutinya berupa kharaj, jizyah, usyur, dan lain-lain merupakan harta yang boleh diambil manfaatnya oleh kaum Muslim kaya maupun fakir. Harta tersebut disimpan di Baitul Mal dan dibelanjakan untuk memelihara keperluan-keperluan mereka dan dalam rangka mewujudkan kemaslahatannya.”

Kebijakan Khalifah Umar membuat kaum Muslim hidup sejahtera. Ini terlihat dari ucapan beliau "Tidak seorang pun dari kaum Muslim kecuali baginya terdapat bagian dari harta ini.” Umar membacakan ayat "Dan apa saja dari harta rampasan yang diberikan Allah kepada rasulnya dan penduduk suatu negeri hingga sampai dan orang-orang yang datang setelah mereka" kemudian Umar berkata ini merupakan pengertian kaum Muslim secara umum dan jika hal ini tetap maka pasti akan datang seorang penguasa dengan memasangkan mukanya yang kemerahan karena marah dan meminta bagian dari harta tersebut tanpa mengeluarkan keringat sedikit pun dari mukanya yang menakutkan itu.

Begitulah sosok pemimpin Umar bin Khattab. Tentu kita semua menginginkan adanya sosok seperti beliau dalam memimpin umat Islam. Tentu sosok ini tidak lahir dalam kapitalisme saat ini . Melainkan hanya ada dalam sistem Islam. Maka dari itu, sudah selayaknya kita campakkan kapitalisme dan mengambil sistem Islam sebagai jalan hidup. Sehingga kesejahteraan akan terwujud dengan nyata.

Wallahu a'lam bishshawab. []


Oleh: Verawati, S.Pd.
Pegiat Literasi
Baca Juga

Post a Comment

0 Comments