Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Kasus HIV/AIDS Meningkat Akibat Negara Abai


TintaSiyasi.com -- Pada awal tahun 2022, sejumlah kasus muncul merundung Kabupaten Bandung. Jika sebelumnya pemerintah daerah sibuk dengan penanganan kasus narkoba. Sekarang nampaknya, fokus itu harus terpecah akibat berita terakhir tentang kasus HIV/AIDS yang mengalami kenaikan.

Seperti yang dikutip oleh tribunjabar.id, hari Selasa (06/09/2022), Kasus HIV/AIDS di Kabupaten Bandung yang meningkat paling banyak diakibatkan hubungan sesama jenis atau homoseksual dengan angka penderita sebanyak 29,26 persen.

Menurut Kabid Penyediaan Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung, Hanhan Siti Hasanah, setiap tahun di Kabupaten Bandung kasus HIV/AIDS meningkat. Padahal, seperti kita ketahui bersama bahwa HIV/AIDS sampai saat ini belum ada obatnya. Selama ini para pengidap HIV meminum obat untuk meningkatkan imun (daya tahan tubuh) yaitu antiretroviral (ARV). Penderita harus meminum obat dalam jangka waktu tertentu bahkan seumur hidup sehingga virus tersebut tidak menyerang sel darah putih hingga menyebabkan penderita mengidap penyakit Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS).

Ketika ditelusuri faktor penyebab HIV/AIDS yang paling mendominasi adalah perilaku seks bebas dan penggunaaan narkoba dengan jarum suntik. Namun, kasus yang mengalami peningkatan di Kabupaten Bandung adalah penderita HIV/AIDS yang diakibatkan oleh hubungan sesama jenis atau homoseksual.

Perilaku seks bebas termasuk hubungan sesama jenis serta narkoba merupakan perilaku yang timbul dari gaya hidup kapitalis sekuler. Yaitu gaya hidup yang menjadikan seseorang hanya memandang hidup dari sisi materi dan kesenangan duniawi semata. Maka tidaklah heran jika makin ke sini perilaku buruk di masyarakat berkembang. Semua ini buntut dari penerapan gaya hidup tersebut. Selain itu pun masih nyata pembiaran komunitas penyuka sesama jenis yang bertebaran di setiap daerah telah terbukti meningkatkan risiko HIV. Jika negara tetap membiarkan maka generasi akan terjerumus ke dalam bahaya besar yang berakibat buruk di masa yang akan datang yaitu merusak peradaban manusia. Penerapan sekulerisme tengah menabung keburukan yang akan merusak bangsa.

Hanya penerapan Islam kafah yang bisa atasi keburukan itu. Karena Islam memandang bahwa HIV/AIDS bukanlah semata-mata persoalan kesehatan (medis) tetapi merupakan buntut panjang dari persoalan perilaku. Sebab telah terbukti penyebab terbesar penularan HIV/AIDS adalah perilaku seks bebas, baik itu zina, homoseksual dan narkoba.

Selain faktor keluarga dan lingkungan yang menjadikan sesorang itu berperilaku homoseksual, ada negara yang abai akan hal ini. Karena negara mempunyai peran besar dalam meriayah rakyatnya. 

Ketika Islam diterapkan, maka ada beberapa mekanisme untuk menyelesaikan persoalan ini yakni:

Pertama, melakukan pencegahan munculnya perilaku berisiko HIV/AIDS dengan melakukan pendidikan dan pembinaan kepribadian Islam. Hal ini bisa dilakukan melalui pendidikan Islam yang menyeluruh dan komprehensif, di mana setiap individu Muslim dipahamkan untuk kembali terikat pada hukum-hukum Islam dalam interaksi sosial. 

Kedua, memberantas perilaku berisiko penyebab HIV/AIDS yakni dengan menutup pintu-pintu yang mengakibatkan munculnya segala rangsangan menuju seks bebas. Negara wajib melarang pornografi-pornoaksi, tempat prostitusi, tempat hiburan malam dan lokasi maksiat lainnya. Begitu juga dengan narkoba, hal-hal yang dapat membuat peredaran dan penggunanya makin luas akan ditutup.

Oleh karenanya negara membutuhkan sistem yang sahih dalam semua penerapan aspek kehidupan yang akan membawa kemaslahatan bagi seluruh umat, yaitu sistem Islam.  

Wallahu a’lam bishshawab. []


Oleh: Eviyanti
Pendidik Generasi dan Pegiat Literasi
Baca Juga

Post a Comment

0 Comments