Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Syirik Marak, Bukti Negara Tidak Totalitas Menjaga Akidah Umat


TintaSiyasi.com -- Beberapa minggu terakhir ini kita dihebohkan dengan munculnya sosok Pesulap Merah Indonesia. Pria yang ramai dibicarakan karena keberaniannya untuk membongkar praktik perdukunan berkedok agama tersebut bernama asli Marcel Radhival. Melalui konten You Tube-nya ia tidak hanya membongkar praktik dukun, tapi juga pernah mengungkap sisi lain dunia sulap. 

Sosok pesulap merah alias Marcel Radhival juga pernah diundang menjadi bintang tamu di YouTube Deddy Corbuzier, dengan berani terang-terangan ia membongkar trik tipu-tipu para dukun atau paranormal, salah satunya termasuk Gus Samsudin yang ternyata memiliki padepokan pengobatan spiritual di Blitar, Jawa Timur bernama Nur Dzat Sejati. Pesulap merah mengungkapkan kepada Deddy Corbuzier bahwa tujuan dari tindakannya membongkar tindakan tersebut adalah untuk memberi tahu dan mengedukasi masyarakat Indonesia bahwa itu hanyalah sekedar trik.

Belakangan diketahui awal mula Marcel mengenal dunia sulap yakni dari hobi. Ia bahkan pernah bergabung dengan Tangerang Hypnotist Community guna mendalami dan mengasah skill-nya dalam bermain sulap. Pesulap merah yang bernama Marcel itu memiliki lingkungan keluarga yang religius. Pasalnya, sang kakak diketahui merupakan seorang ustaz. Tak heran, jika tindakan yang dilakukannya semata agar masyarakat Indonesia tidak mudah ditipu dukun palsu berkedok agama.

Tak hanya mengungkap praktik perdukunan, diwartakan Tribunnews.com, Marchel juga mampu membongkar trik pawang hujan. Menurutnya pawang hujan itu bukan seseorang yang mengatur hujan, namun orang yang mengetahui tanda-tanda akan turunnya hujan. Dalam dunia magic pun ada ilmu untuk mempelajari bentuk awan. Ia pun menerangkan, niatnya membongkar trik pawang hujan adalah sebagai bentuk edukasi. Karena itu ia tak masalah apabila ada sebagian orang yang tidak terima atas pernyataannya. Baginya tujuan menjadi YouTuber, adalah membuat konten untuk membongkar hal-hal perdukunan yang menyesatkan.

Sungguh ironis, di negri yang mayoritas penduduknya beragama Islam tetapi masyarakatnya masih mempercayai praktik perdukunan yang sangat jelas bertentangan dengan syariat Islam. Dalam Islam mendatangi dukun, paranormal, ataupun mempercayai mahkluk lain selain Allah dapat dikategorikan sebagai syirik. 

Kondisi ini menjadi hal yang lumrah dan wajar karena sistem sekuler yang telah diterapkan di negeri ini. Sekularisme yang berarti segala aturan yang memisahkan agama dari kehidupan telah menyuburkan praktik syirik pada umat Islam zaman sekarang. Bahkan berbagai ragam media yang beredar di sistem ini juga menawarkan segala macam bentuk kesyirikan. Pun pemerintahan di sistem ini hanya mencukupkan menindak dukun dan praktik syirik yang menimbulkan keresahan, sedangkan yang lainnya tidak ada tindakan, seperti orang orang yang mendatangi dukun, (orang pintar), bersedekah di lautan, melakukan ritual ritual, dan masih banyak praktik praktik lain yang diluar nalar. 

Namun berbeda halnya dengan negara Islam. Di negara Islam, negara berkewajiban menanam akidah kuat pada umat, menutup rapat celah praktik kemusyrikan dan menindak tegas pelakunya meski tidak merugikan masyarakat secara materi. Walhasil ketika negara menerapkan hukum Islam secara sempurna, maka pelaku syirik akan dinasehati oleh masyarakat yang melihat. Hal ini dikarenakan kontrol masyarakat berjalan. Jika tidak mampu menasehatinya lagi, akan dilaporkan kepada negara.

Karena perbuatan syirik termasuk dosa besar, negara akan menjatuhkaan sanksi tegas bagi pelaku syirik yang enggan bertaubat. Bahkan jika negara mendapati pelakunya telah jatuh kepada murtad, hukuman mati adalah jawabannya. Sebab salah satu peran penting negara dalam Islam adalah memelihara akidah umat dari kerusakan. Begitu juga hukuman yang akan dijatuhkan kepada mereka yang bergelar paranormal.

Allah SWT berfirman dalam QS An-Nisa: 48, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik)”.

Maka hanya dengan penerapan Islam secara totalitas akidah umat akan terpelihara. Ketakwaan individu yang menyelimuti setiap jiwa, kontrol masyarakat yang membentengi setiap saat, dan penerapan sanksi tegas oleh negara akan membuat masyarakat terlindungi dari kemaksiatan dan dosa–dosa besar. []


Oleh: Rey Fitriyani
Sahabat TintaSiyasi
Baca Juga

Post a Comment

0 Comments