Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Lakukan Dua Cara Ini untuk Memintasi Kapitalisme di Indonesia


TintaSiyasi.com -- Sejarawan Muslim Nur Fajarudin mengungkapkan dua cara untuk menanggulangi kapitalisme yang sudah terlanjur berpuluh-puluh tahun tertanam di Indonesia.

“Ada dua cara menanggulangi kapitalisme yang sudah terlanjur tertanam berpuluh-puluh tahun di bangsa kita," ungkapnya dalam JKDN Series: Perang Pemikiran di Era Kolonial dari Rafles hingga Hurgronje di YouTube Khilafah Channel Reborn, Kamis (16/06/2022).

Pertama, bangsa Indonesia harus mempunyai semangat untuk mempelajari dan memahami musuhnya. 

“Kalau musuhnya orientalis, maka bangsa Indonesia harusnya occidentalist. Jadi harus memahami betul ide-ide Barat dan mengetahui kelemahannya. Sehingga bangsa tersebut tidak sampe terjebak ke dalam permainan mereka,” sarannya.

Lanjutnya, "Masalahnya mereka itu sudah start lama, ibaratnya sudah mapan, pondasinya sudah kuat. Kita itu belum mengupas secara occidentalist. Jadi mereka itu untuk menaklukkan, mempelajari kita lebih dulu. Jadi kita menaklukkan mereka, maka harus mempelajari mereka juga, pemikiran dan kelemahan mereka apa," tandasnya. 

Sangat jarang ulama Islam, lanjut dia, yang memahami pola kehidupan Barat. “Mungkin saya hanya bisa menyebut satu nama seorang ahli occidentalism yang luar biasa yaitu Syekh Taqiyuddin An Nabhani, bahkan dia sampai bisa mengupas secara detail bagaimana aqidah pemikiran orang-orang Barat, termasuk kelemahan-kelemahannya. Kita bisa membaca karyanya di kitab-kitab yang dikarangnya," jelasnya

Ia melanjutkan, orang Barat itu merendahkan kaum Muslim, memandang peradaban Islam itu lemah, bodoh dan mereka datang menakut-nakuti juga. 

"Masalahnya kita itu banyak yang enggak paham. Ingin membangkitkan Islam, tetapi dengan cara orang Barat, ya gagallah! Karena orang Barat menggunakan cara itu untuk melemahkan kita. Ibarat main bola, kita harus tahu kan stategi musuh untuk bisa memenangkan pertandingan," ujarnya. 

Kedua, sebagai seorang Muslim harus percaya diri. "Percaya diri itu dibangun dari ketinggian tsaqafah dan ketika kita benar-benar memahami jati dirinya. Kita itu Muslim di Nusantara yang tahu sejarahnya. Karena sebenarnya kita itu Muslim yang luar biasa," terangnya.[] Rina
Baca Juga

Post a Comment

0 Comments