Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Sejarawan: Politik Nativisasi untuk Meredam Perlawanan Kaum Muslim di Indonesia


TintaSiyasi.com -- Dalam rangkaian acara Ekspo Rajab 1443 H bertajuk Ambruknya Kapitalisme, Tegaknya Peradaban Islam, Sejarawan Muslim Nur Fajarudin lugas menyatakan bahwa politik nativisasi yang dilakukan penjajah untuk meredam perlawanan kaum Muslim di Indonesia.

“Belanda, melalui didikan Prancis dan Inggris, melakukan politik nativisasi untuk meredam perlawanan kaum Muslim di Indonesia,” lugasnya dalam paparan Membongkar Strategi Penjajah dalam Membelokkan Sejarah Islam di Nusantara, Jumat (25/02/2022) secara daring di EkspoRajab.com.

Script Writer Film Jejak Khilafah di Nusantara (JKDN) itu menjelaskan, politik nativisasi adalah menggali budaya, sejarah, dan peradaban sebelum era Islam. “Ini dimunculkan dan dibikin narasi yang menarik, bahwa sebenarnya bangsa dan negeri ini dulu berjaya di era sebelum Islam mereka dan mereka mundur ketika Islam datang,” jelasnya.

“Inilah yang terjadi sampai hari ini dan diajarkan secara tidak langsung di sekolah-sekolah. Mengapa hari ini yang diagungkan di negeri kita adalah era Hindu Budha? Kalau kita runut memang bagian penjajahan,” ungkapnya.

Fajar mengatakan bahwa di abad ke-18, negeri Indonesia sempat dijajah oleh dua adidaya yang berhasil mengalahkan Daulah Islam melalui perang pemikiran, yaitu Prancis dan Inggris. Prancis dan Inggris inilah yang kemudian mendidik Belanda.

“Kita itu lebih mengenal Sriwijaya dan Majapahit. Kita dikenalkan Sriwijaya, tetapi kita tidak pernah dikenalkan dengan sosok Sri Indrawarman yang pernah mengirim surat kepada Khalifah Muawiyah bin Abu Sofyan. Kan aneh. Kita dikenalkan Majapahit, tetapi era Wali Songo, yang punya hubungan keluarga, itu enggak pernah disentuh dan diceritakan lama di sekolah,” tandasnya.

Keemasan Nusantara

“Kalau saya melihat seakan-akan memang di era kesultanan, kita itu banyak kesultananan, dari Sabang sampai Merauke. Tetapi inilah yang sejarawan Eropa mengatakan era keemasan Nusantara justru di era ini. Kenapa? Di era ini terjadi perataan kesejahteraan,” ungkap Fajar.

Sejarawan tersebut mengatakan, ia melihat seakan-akan memang di era kesultanan, banyak kesultananan dari Sabang sampai Merauke. Itulah yang sejarawan Eropa katakan sebagai era keemasan Nusantara, karena terjadi perataan kesejahteraan. 

“Saya menemukan dan melihat ini ketika melakukan penjelajahan JKDN. Sekarang, semua-muanya mengumpul di Jakarta. Teknologi dan informasi semuanya mengumpul di Jakarta. Tetapi zaman dulu, siapa yang kenal Pulau Penyengat, siapa yang kenal Tanoh Abee Seulimum Seulawah di Aceh, siapa yang tahu Pacitan atau Ponorogo, atau Lamakera di Nusa Tenggara Timur. Itu yang saya sebutkan pernah menjadi pusat pendidikan Islam di Nusantara. Kita enggak kenal hari ini. Itu wilayah terpencil di Nusantara,” bebernya.

Lanjutnya, ia menyayangkan hal itu tidak ada yang tahu. Belum lagi wilayah Kesultanan Buton. Ternyata, Buton memiliki peninggalan benteng yang bahkan bentengnya Muhammad Al Fatih kalah. Gowa Talo pernah punya sosok orang yang dikatakan paling cerdas se-Asia Tenggara. 

“Itukan pemerataan, kesejahateraannya rata. Hari ini kelihatannya disatukan, tetapi semua-muanya ngumpul di Jakarta. Inilah era Islam di Nusantara kita ungkap,” ujarnya.

Serius

Fajar menegaskan, “Orang-orang Barat penjajah yang memiliki nafsu menguasai negeri ini adalah sangat serius mempelajari sejarah kaum Muslim dengan upaya bisa membelokkan sejarah tersebut, bisa mengaburkan, bisa menguburkan.”

Ia menyarankan kepada umat Muslim untuk serius mengungkap sejarah Islam di negeri ini. Karena, yang wajib belajar sejarah Islam bukan hanya tanggung jawab Ustaz Salman (sejarawan dan filolog), Tim JKDN, tetapi juga tanggung jawab semua terutama para hamilud dakwah (pengemban dakwah).
“Supaya bangsa ini, kaum Muslim di negeri ini timbul rasa kepercayaan dirinya, timbul izzah-nya, sehingga mampu mewujudkan kembali izzul Islam walmuslimin di negeri ini,” pungkasnya.[] Reni Tri Yuli Setiawati
Baca Juga

Post a Comment

0 Comments