Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Atasi Stunting Tidak Cukup Safari Gemar Ikan

TintaSiyasi.com -- Istilah stunting sudah tak asing di telinga kita. Ya, memang benar karena faktanya "Atasi Stunting Tak Cukup Safari Gemar Ikan" ini merupakan perkara serius yang sampai hari ini belum terselesaikan di negeri ini. Berbagai ide dilontarkan oleh pemerintah untuk mengatasinya. 

Terbaru adalah seruan untuk gemar makan ikan. Pemerintah melalui Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia (Menko PMK) lMuhadjir Effendy mengatakan, pemerintah daerah perlu terus menggencarkan kampanye untuk mengajak masyarakat gemar makan ikan guna mencegah dan menurunkan prevalensi stunting. “Ikan memiliki kandungan protein hewani yang sangat tinggi yang sangat diperlukan untuk mendukung perkembangan otak anak,” kata Muhadjir dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (12/3/2023) dikutip tirto.id. Senada dengan Menko PMK, Asisten Deputi Ketahanan Gizi dan Promosi Kesehatan Kemenko PMK. 

Jelsi Natalia Marampa juga menambahkan, Kemenko PMK bersama kementerian dan lembaga terkait terus memperkuat edukasi dan sosialisasi mengenai manfaat protein hewani guna meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat serta dalam rangka mendukung upaya percepatan penurunan prevalensi stunting. Serta mendorong puskesmas dan posyandu yang ada di setiap daerah untuk berperan aktif dalam melakukan penyuluhan, edukasi dan pendampingan bagi para calon ibu dan juga ibu yang memiliki balita.

Sementara itu, prevalensi stunting di Indonesia saat ini berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) adalah 21,6%. Pemerintah menargetkan prevalensi stunting bisa turun menjadi 14% pada tahun 2024 mendatang. Tentu untuk mencapai target tersebut memerlukan upaya dan inovasi dalam menurunkan jumlah balita stunting 2,7% setiap tahunnya. Mirisnya, ada beberapa daerah di wilayah Indonesia dengan sumber daya ikan lautnya yang melimpah justru masih ada kasus stunting, diantaranya daerah Ambon.

Oleh karena itu, saat ini pemerintah daerah mulai menggencarkan kampanye gemar makan ikan. Sebut saja, Pemerintah Kota (Serang) melalui Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kota Serang menggelar acara Safari Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) di Sentra Industri Kecil Menengah (IKM), Kelurahan Margaluyu, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Kamis (9/3/2023). Gerakan Gemar ikan sebagai ajakan kepada masyarakat untuk meningkatkan gizi sehingga dapat mencegah stunting pada anak.

Wakil Gubernur Provinsi Kepulauan Riau Marlin Agustina dalam sambutannya di hadapan warganya juga mengatakan, “protein dari mengkonsumsi ikan itu paling baik. Kita punya 96% laut yang did alamnya banyak ikan, tentu potensi ini harus dimanfaatkan guna mewujudkan generasi sehat dan cerdas”. Sebelumnya, Walikota Batam pun juga mengajak pengurus Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi (POGI) Provinsi Kepulauan Riau untuk membantu pemerintah mengatasi stunting dalam rangka mewujudkan Indonesia Emas tahun 2045.

Patut diacungkan jempol atas niat pemerintah dalam mencegah stunting pada anak. Bahkan tak tanggung-tanggung, pemerintah melalui Kemenkeu menganggarkan untuk persoalan stunting dengan anggaran 77 triliun tetapi hanya 34 triliun yang “masuk mulut bayi”. Selebihnya justru anggaran dipergunakan untuk “pembangunan nyeleneh” diantaranya pagar puskesmas. 

Pantas saja Menkeu Sri Mulyani kecewa atas laporan penggunaan anggaran ini. Namun, apakah gerakan atau kolaborasi yang dilakukan pemerintah benar-benar menyelesaikan permasalahan stunting atau hanya bersifat sementara ?

Seperti lupa bagaimana kondisi  masyarakat saat ini dalam mendapatkan protein hewani termasuk ikan.  Untuk membeli sembako saja sangat sulit diwujudkan karena faktor kemiskinan yang dialami oleh masyarakat. Dalam safari gemar ikan memang ikan disediakan, namun mencegah stunting perlu waktu yang cukup lama untuk  memberikan asupan gizi. 

Sementara itu, pada saat yang sama kondisi masyarakat jauh dari kata “sejahtera”. Dalam memenuhi gizi seimbang sehari-hari, masyarakat belum tentu mampu. Mereka harus bersusah payah mengais rezeki dari pagi sampai ketemu pagi lagi. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) per September 2022 tercatat tingkat kemiskinan Indonesia mencapai 9,57% atau sebanyak 26,36 juta orang dengan pendapatan kurang dari 535.547/kapita/bulan.

Oleh karenanya seruan apapun dalam memperbaiki asupan gizi masyarakat termasuk gemar makan ikan dalam persoalan stunting tidak akan menyelesaikan masalah hingga tuntas.

Sesungguhnya, Islam dengan berbagai mekanisme yang ada peduli terhadap generasi. Negara menjadikan generasi sebagai calon pemimpin umat sehingga negara menyediakan berbagai macam kebijakan untuk mencetak generasi berkualitas termasuk mencegah terjadinya stunting.

Islam telah mengatur terkait perihal makanan dan kesehatan, menekankan manusia untuk memperhatikan kesehatan dan makanan yang ia konsumsi. Islam telah secara jelas mengatur berkaitan konsep makanan yang halal dan tayyib (halal dan baik). Di dalam QS Al-Maidah ayat 88 mengatakan : 

“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya."

Dengan memakan makanan halal lagi thayib tentu akan membuat tubuh sehat dan gejala-gejala stunting bisa di cegah. Tapi, jika hanya mengandalkan keluarga saja tanpa ada campur tangan peran negara rasanya sulit untuk mencegah stunting terjadi pada anak.

Negara harus mengambil peran penting dalam memenuhi kebutuhan masyarakatnya, terutama kebutuhan pangan nutrisi seimbang setiap individu. Mekanisme yang dilakukan mulai dari meningkatkan kualitas produk pangan, kelancaran distribusi, menjaga stabilitas harga pangan serta ketersediaan pangan di pasar-pasar.

Namun, di era saat ini sangat sulit untuk memenuhi kebutuhan hidup yang semakin hari makin membengkak. Akibat diberlakukan sistem demokrasi kapitalisme yang melegalisasi pasar bebas. Memberikan kuasa korporasi asing untuk mengatur kebijakan pangan. Hingga kebijakan yang dihasilkan merugikan kepentingan hidup masyarakat, bahkan mempengaruhi tumbuh kembang generasi.

Hanya dengan sistem Islam-lah yang diterapkan dalam sebuah negara Islam, anak-anak tumbuh dengan baik karena seorang pemimpin yaitu Khalifah akan menjamin serta memenuhi kebutuhan gizinya. Agar keluarga mampu menjadi pilar peradaban gemilang. Wallahu a’lam bishshowwab.

Oleh : Eva Sanjaya (Komunitas Tinta Pelopor)

Baca Juga

Post a Comment

0 Comments