Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Mengatasi Kekeringan di Bawah Paradigma Kapitalis


TintaSiyasi.com - Air, sebagai sumber kehidupan yang tak ternilai telah menjadi pusat perhatian dunia. Kekeringan yang makin parah telah mengancam ketersediaan air bersih, serta merusak ekosistem dan kesejahteraan manusia. Minimnya upaya mitigasi kekeringan dan penyediaan air bersih menjadi tantangan yang memerlukan perhatian serius dari berbagai lapisan masyarakat, pemangku kepentingan, dan ilmuwan.

Berdasarkan prediksi Badan Meterologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) musim kemarau tahun ini sudah mulai berlangsung sejak Maret dengan titik puncak pada Agustus-September 2023. Kekeringan secara umum berdampak pada pemenuhan kebutuhan air bagi wilayah dengan tingkat intensitas hujan rendah misalnya Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Bali, Maluku, Sulawesi Selatan, dan Papua. Untuk daerah-daerah tersebut, Jarot Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengatakan membuat sumur bor dengan terlebih dahulu melakukan pengkajian potensi sumber air di sekitar, mengingat curah hujannya relatif sedikit sehingga cadangan air tanah terbatas. Selain pembangunan sumur bor, Kementerian PUPR juga mengoptimalkan fungsi tampungan air pada bendungan, situ, embung, dan danau. (pu.go.id, 08/08/2023).

Di sebagian wilayah kabupaten Bogor, Jawa Barat mengalami krisis air bersih akibat musim kemarau yang mulai berdampak pada kesehatan warga. Salah satu penyakit yang mulai dialami warga terdampak adalah diare. Untuk mengantisipasi menyebarnya penyakit tersebut, diperlukan kesadaran masyarakat atas kebersihan dengan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Hal tersebut dapat dicapai dengan melakukan 10 PHBS di rumah tangga. “Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan, memberi bayi ASI eksklusif, menimbang bayi dan balita, menggunakan air bersih, mencuci tangan dengan air bersih dan sabun, menggunakan jamban sehat, memberantas jentik di rumah, makan buah dan sayur setiap hari, melakukan aktivitas fisik setiap hari dan tidak merokok di dalam rumah,” katanya menjelaskan. Menerapkan PHBS di rumah tangga, akan menciptakan keluarga sehat dan mampu meminimalisasi masalah kesehatan. (republika.id, 13/08/2023).

Adapun di Pangasinan RT 1 RW 13, Dusun Girimulya, Desa Binangun, Kota Banjar, Jawa Barat, sudah puluhan tahun warga kesulitan memperoleh air bersih. Air sumur milik warga tidak bisa digunakan untuk minum karena terasa asin, sementara tidak ada pasokan air bersih dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Anom. Sebelumnya warga setempat juga mendapat bantuan dari pemerintah dengan menggali sumur bor sedalam 100 meter, namun air yang dihasilkannya tetap tidak layak konsumsi karena asin dan kotor. Memasuki musim kemarau, warga semakin sulit memperoleh air bersih. Selain mengandalkan air bersih bantuan dari BPBD (Badan Penanggulan Bencana Daerah) Kota Banjar, kini warga harus merogoh lebih dalam kantongnya untuk membeli air bersih. Sementara menurut Kepala Pelaksana BPBD Kota Banjar, Kusnadi, krisis air bersih warga Pangasinan itu bisa ditanggulangi dengan dua alternatif yakni membuat jalur pasokan air dari PDAM Tirta Anom dan memasang mesin penyulingan air bersih di sumur gali yang asin. Beberapa toren penampung air sudah dipasang di lingkungan setempat untuk memenuhi pasokan air bersih. Warga berharap krisis air bersih ini bisa segera ditanggulangi. (tvonenews.com, 7/8/2023).

Paradigma kapitalis sering kali mendorong pertumbuhan ekonomi yang tak terbatas dan fokus pada profitabilitas jangka pendek. Hal ini bisa mengarah pada eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya alam, termasuk air, tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap lingkungan. Fokus pada konsumsi dan produksi berlebihan, yang merupakan ciri kapitalisme, dapat menyebabkan pemborosan sumber daya air. Misalnya, pertanian berbasis kapitalis yang tidak memperhatikan praktik pertanian berkelanjutan dapat menguras sumber daya air secara cepat. Di dalam sistem kapitalis, privatisasi sumber daya alam, termasuk air, dapat mengarah pada kurangnya akses yang adil bagi semua orang. Pihak yang memiliki kontrol atas sumber daya tersebut mungkin cenderung mengoptimalkan keuntungan pribadi daripada memastikan distribusi yang adil dan berkelanjutan. Kapitalisme seringkali mendorong pertumbuhan urbanisasi dan industri yang cepat. Ini bisa menyebabkan peningkatan permintaan akan air untuk keperluan konstruksi, produksi, dan konsumsi di perkotaan, yang pada gilirannya dapat memperburuk masalah kekeringan. Kapitalisme sering fokus pada pertumbuhan ekonomi tanpa mempertimbangkan dampak lingkungan jangka panjang. Penggundulan hutan, perubahan iklim, dan kerusakan lingkungan lainnya dapat memperburuk masalah kekeringan.

Kekeringan bukan hanya masalah sepele. Dampaknya merambah dalam berbagai aspek kehidupan. Secara ekologi, ekosistem yang mengalami kekeringan mengalami penurunan produktivitas, hilangnya keanekaragaman hayati, dan kerusakan ekosistem yang merugikan. Pertanian juga terpukul, mengakibatkan gagal panen, kelaparan, dan peningkatan harga pangan. Kehidupan sehari-hari manusia juga terpengaruh dengan memicu konflik sumber daya dan ketidaksetaraan akses terhadap air bersih. 

Perubahan iklim memperburuk situasi. Pola cuaca yang tidak stabil menyebabkan kekeringan lebih sering terjadi, sementara curah hujan yang ekstrem kadang-kadang menyebabkan banjir, merusak tanah dan sumber air. Ini menciptakan tuntutan yang lebih besar terhadap infrastruktur air dan sistem manajemen yang ada. Situasi ini makin memprihatinkan karena kurangnya upaya mitigasi dan penyediaan air bersih yang efektif. Banyak daerah di dunia, terutama yang kurang berkembang, menghadapi hambatan teknologi, sumber daya finansial, dan kepemimpinan yang memadai dalam mengatasi krisis air. Selain itu, kurangnya pemahaman tentang pentingnya konservasi air dan pengelolaan yang berkelanjutan juga berkontribusi pada masalah ini.

Untuk mengatasi minimnya mitigasi kekeringan dan penyediaan air bersih, diperlukan pendekatan terintegrasi yang melibatkan berbagai disiplin ilmu, sektor, dan tingkat pemerintahan. Kolaborasi global menjadi kunci, di mana negara-negara bekerja bersama untuk berbagi pengetahuan, sumber daya, dan teknologi. Investasi dalam infrastruktur air, pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan, dan edukasi masyarakat tentang pentingnya konservasi air juga perlu ditingkatkan. Inovasi teknologi memainkan peran penting dalam penyediaan solusi berkelanjutan. Pengembangan teknologi desalinasi, pemulihan air limbah, dan teknologi pengumpulan air hujan dapat membantu melawan kekeringan. Sensor pintar dan sistem pemantauan dapat memberikan informasi real-time tentang kondisi air, membantu pengambilan keputusan yang lebih cerdas.

Dalam Islam, pemeliharaan lingkungan dan sumber daya alam adalah prinsip yang sangat penting. Konsep-konsep seperti amanah dan khalifah menunjukkan tanggung jawab manusia sebagai pengelola dan pelindung alam. Oleh karena itu, Islam memiliki pandangan yang kaya terkait dengan solusi untuk mengatasi minimnya mitigasi kekeringan dan penyediaan air bersih. 

Islam menekankan kewajiban bagi manusia untuk menjaga dan memelihara lingkungan. Dalam pandangan ini, pemeliharaan sumber air dan tanah sangatlah penting. Upaya menjaga keberlanjutan sumber air adalah bagian dari tugas manusia dalam menjalankan peran sebagai khalifah di bumi. Dalam pandangan Islam, solusi untuk minimnya mitigasi kekeringan dan penyediaan air bersih melibatkan kerjasama antara individu, komunitas, dan pemerintah untuk menjaga lingkungan dan sumber daya alam, serta memastikan keadilan dalam distribusi air untuk semua.

Wallahu a’lam bishshawab. []


Oleh: Istikomah
Aktivis Muslimah
Baca Juga

Post a Comment

0 Comments