Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

LPG Melon Kembali Langka, Kok Bisa?

Tintasiyasi.com -- Emak-emak kembali resah. Pasalnya, tabung LPG 3 kg yang menjadi andalan mereka di dapur kembali langka. Kelangkaan ini terjadi di berbagai wilayah di Indonesia seperti Medan, Padang, Aceh, Kutai Kaltim, Morowali, Kendal, Magetan, Lumajang, Situbondo dan lain-lain.

PT Pertamina melalui Direktur Utamanya, Nicke Widyawati, menyatakan bahwa penyebab LPG 3 kg langka adalah karena adanya peningkatan konsumsi sebesar 2 persen sebagai dampak dari libur panjang beberapa waktu lalu. Pihaknya sedang melakukan recovery dari penyediaan distribusinya agar kembali normal (CNNIndonesia.com, 27/7/2023).

Hal ini senada dengan pernyataan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Tutuka Ariadji yang mengatakan bahwa salah satu penyebab kelangkaan LPG subsidi adalah karena persoalan distribusi. Skema pengaturan distribusi yang dibuat Pertamina tak tersosialisasi secara penuh sehingga masyarakat banyak yang tak dapat akses LPG subsidi (Republika.com, 31/7/2023).

Selain itu, banyaknya migrasi pengguna LPG nonsubsidi ke LPG subsidi juga menjadi masalah. Distribusi LPG dinilai masih belum tepat sasaran. Pemerintah pun mengimbau agar LPG subsidi diperuntukkan masyarakat yang kurang mampu. 

Kelangkaan LPG yang terus berulang merupakan masalah yang lazim dalam sistem kapitalisme sekarang ini. Dalam sistem ini, semua dikembalikan pada mekanisme pasar. Kebebasan kepemilikan menyebabkan siapa saja boleh menguasai pasar selama punya kapital. Semua orang bebas bersaing memperoleh sumber ekonomi tanpa campur tangan negara.

Sistem ekonomi kapitalisme neoliberal menyebabkan pasar dikuasai oleh mereka yang punya modal besar. Para kapitalis inilah yang mengendalikan jalannya pasar. Negara tidak boleh turut campur. Negara justru menjadi regulator bagi kepentingan kapitalis. Negara membuat kebijakan dan undang-undang sejalan dengan kehendak para pemilik modal.

Negara juga sebagai pengawas untuk memastikan mekanisme pasar berjalan lancar tanpa ada pelanggaran terhadap aturan negara. Negara pun berlepas tangan dari urusan rakyat, termasuk dalam pemenuhan kebutuhan pokoknya. Rakyat dibiarkan mengurus dirinya sendiri. 

Subsidi menjadi sesuatu yang dihindari karena bertentangan dengan prinsip ekonomi liberal. Sebab, subsidi dianggap sebagai campur tangan negara dan itu ‘diharamkan’ dalam sistem liberal ini. Selain itu, subsidi juga dianggap membebani keuangan negara. Tak heran jika subsidi akan terus dikurangi dari waktu ke waktu. Akibatnya, rakyat kecil akan semakin kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pokoknya. 

Padahal, sebagai barang kebutuhan pokok, LPG tentu sangat dibutuhkan masyarakat setiap hari. Jika keberadaannya langka atau sulit didapatkan, maka aktivitas masyarakat akan terganggu. Karena itu, sebagai penyelenggara urusan rakyat, negara bertanggung jawab menyediakan LPG dengan stok yang cukup.

Permasalahan seputar LPG yang terjadi dalam sistem kapitalisme sekarang akan bisa diatasi jika sistem ekonomi Islam diterapkan. Sebab, dalam Islam, negara wajib menyelenggarakan kebutuhan pokok rakyat dengan baik. Masalah energi juga termasuk dalam pengurusan negara. Ketersediaan energi untuk masyarakat menjadi kewajiban negara. Jangan sampai masyarakat kesulitan mendapatkannya. 

Negara akan mengelola sumber daya energi yang dimiliki untuk kepentingan rakyat. Mulai dari produksi hingga distribusinya dilakukan oleh negara sebagai bentuk tanggung jawab mengatur urusan rakyat. Negara sama sekali tidak diperbolehkan mengambil untung dari pengelolaan sumber daya alam tersebut. Barang kebutuhan pokok akan sampai di tangan rakyat dengan harga yang terjangkau, bahkan gratis. 

Sumber daya alam yang menjadi milik rakyat akan kembali kepada rakyat. Apa pun golongannya, semua rakyat bisa memanfaatkan harta bersama ini. 

Islam juga melarang adanya penguasaan sumber ekonomi yang menguasai hajat hidup orang banyak seperti halnya gas alam dan minyak bumi dimiliki atau dikuasai oleh individu. Swasta dan asing tidak boleh ada campur tangan dalam pengelolaan sumber energi. Hal ini bisa menyebabkan orang lain terhalang untuk mendapatkan manfaatnya.  

Kelangkaan terjadi karena distribusinya yang keliru. Sumber daya alam disediakan oleh Allah dalam jumlah melimpah dan mampu mencukupi semua kebutuhan manusia. Yang menjadikannya langka adalah karena distribusinya dikuasai oleh segelintir pemilik modal. Para kapitalis ini menguasai sumber-sumber ekonomi untuk kepentingan sendiri sehingga rakyat yang menjadi pemilik sesungguhnya menjadi kesulitan memperolehnya.

Adapun mengenai subsidi, itu juga merupakan hak seluruh rakyat. Subsidi bukan beban negara, melainkan tanggung jawab negara kepada rakyatnya. Rakyat dari golongan mana pun berhak mendapatkannya.

Dari mana dana untuk menyelenggarakan semua urusan rakyat? Tentu dari kas negara. Yakni Baitulmal yang sumber pemasukannya jelas dan pasti seperti dari hasil pengelolaan sumber daya alam. Sumber pemasukan Baitulmal berasal dari harta milik umum seperti pertambangan, minyak, gas, laut, sungai, perairan, mata air, hutan, padang gembalaan, dan aset-aset yang dilindungi untuk keperluan khusus. Selain itu pendapatan negara juga berasal dari fai dan kharaj yang terdiri dari ghanimah, status tanah (usyriyah), jizyah, dan dharibah serta sedekah/zakat. 

Pengaturan yang baik menurut syariat Islam seperti ini akan menghindarkan manusia dari masalah-masalah seperti halnya dalam kapitalisme. Ini sekaligus akan mampu menjamin terpenuhinya kebutuhan rakyat. Keadilan dan kesejahteraan hakiki bagi seluruh rakyat pun dapat terwujud.

Inilah kebaikan sistem Islam bila diterapkan secara sempurna. Bukan hanya materi terpenuhi, tetapi keberkahan juga melingkupi. Maka, memperjuangkan agar penerapan aturan Allah secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan merupakan tugas kita bersama. Aturan Allah itu bukan hanya untuk sekelompok saja, tetapi untuk semuanya. Sebagaimana kebaikannya pun akan dirasakan oleh umat manusia. Dengan penerapan Islam secara totalitas, maka Rahmat Allah Swt. akan tercurah untuk seluruh alam semesta. Wallahu a’lam bishshawwab.[]

Oleh. Nurcahyani
(Aktivis Muslimah)

Baca Juga

Post a Comment

0 Comments