Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Kerasnya Sistem Kapitalis Menjadikan Pemuda Pelaku Kekerasan Makin Sadis


TintaSiyasi.com - Sungguh miris, makin ke sini eksistensi pemuda makin membuat tensi naik. Betapa tidak, pemuda generasi penerus peradaban yang akan menjadikan dunia menuju ke arah yang lebih baik, malah menjadi penyebab berbagai konflik. Jika dulu kekerasan dan kejahatan dilakukan oleh preman, begundal, dan begal, namun saat ini banyak pelakunya adalah pemuda bahkan ada yang masih berstatus pelajar/mahasiswa. Padahal dengan predikat tersebut, seharusnya memiliki taraf berpikir lebih dari masyarakat awam secara umum.

Hampir setiap hari pemberitaan tentang kekerasan yang dilakukan pemuda menghiasi media, baik televisi maupun media digital lainnya. Bukan hanya melukai, bahkan ada yang sampai menghilangkan nyawa. Yang lebih sadis lagi, setelah dibunuh, ada korban yang kemudian dimutilasi dan direbus untuk menghilangkan jejak. Astaghfirullahal adzim.

Bukan hanya di kota besar, kini sudah menyasar kota kecil bahkan pinggiran kota. Dikutip dari Kompas (14/08/2023), dua kelompok pelajar terlibat tawuran di depan Hotel Kencana Jaya, Jalan Raya Pangeran Kornel, Kelurahan Regol Wetan, Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Senin (14/08/2023). Akibat tawuran tersebut, seorang pelajar mengalami luka bacok pada tangan bagian lengan atas kiri. Menurut informasi yang berhasil dihimpun, kelompok pelajar yang melakukan aksi pembacokan tersebut, konvoi menggunakan sepeda motor dan mengacung-acungkan celurit. Setelah melakukan aksi pembacokan, para pelajar tersebut melarikan diri menuju arah Bandung. 

Ada apa dengan pemuda? Bonus demografi yang seharusnya menjadi nilai tambah bagi kemajuan negeri karena pemuda diharapkan mampu menyumbangkan jiwa raganya demi terwujudnya cita-cita luhur ibu pertiwi, malah menjadi penyumbang berbagai ketimpangan. Anehnya ini terjadi bukan hanya di sini, tapi di berbagai belahan dunia. Dan bukan hanya tahun ini, tapi bertahun-tahun yang lalu tetap seperti itu dan bahkan makin buruk.

Padahal banyak sudah solusi yang ditempuh. Di Indonesia, dengan gamblang dicantumkan dalam pembukaan UUD 1945, bahwa "kemerdekaan adalah hak semua bangsa...". Lalu apakah dengan berbagai kekerasan yang terjadi itu menunjukkan kemerdekaan? Dengan menganiaya orang lain, apakah itu yang disebut kemerdekaan? Bukankah ketika kemerdekaan itu adalah hak semua bangsa, semua individu, berarti menjadi kewajiban pula untuk memberikan kemerdekaan kepada semua bangsa, semua individu? Sudahkah terpenuhi kewajiban tersebut?

Bukan itu saja, berbagai kebijakan melalui undang-undang, kepres, perda, dll, tak mampu mencegah kekerasan yang terjadi. Bahkan sanksi pidana dan denda tidak membuat pelaku jera. Mati satu tumbuh seribu. Satu jera, muncul pelaku lain dengan modus lain pula. Begitu pun dengan upaya bagi korban kerap dilakukan, namun tidak menjadi penawar, yang ada hanya menghabiskan anggaran karena yang menikmati hanya sebagian korban yang melapor atau yang viral, itupun tidak di setiap tempat adanya. Rumah singgah, rumah sapa, dll, yang tempatnya dirahasiakan dengan alasan untuk keamanan dan kenyamanan korban, tetap tak bisa menghilangkan trauma. Bahkan agenda besar kota layak anak, nyata hanya sebuah perlombaan bagi pemerintah daerah. Hanya ingin mendapat julukan sebagai kota terlayak bagi anak, dengan pembungkaman melalui jalur damai antara pelaku dan korban agar beritanya tidak tersebar.

Kegiatan di kampus dan di sekolah juga sengaja dipadatkan untuk menyibukkan pelajar dan mahasiswa agar terhindar dari tindakan kekerasan, baik sebagai pelaku atau korban. Kurikulum pun terus diganti dengan alasan demi perbaikan. Moderasi agama diaruskan agar tertanam cinta damai diantara sesama. Tapi nyatanya tetap tidak menyentuh akar masalah. Yang ada malah makin menambah banyak masalah. 

Inilah buah sistem kapitalis. Seratus tahun tumbuh menghasilkan empat generasi seperti susunan buah pisang, makin ke bawah makin kecil. Begitupun generasi hasil didikan sistem kapitalis. Generasi satu memudar cahaya Islam dalam dirinya yang cahaya itu disampaikan pula kepada generasi kedua, begitu seterusnya. Maka wajar saja generasi sekarang sudah tanpa cahaya. Gelap. Sungguh kasihan. Sudah jatuh tertimpa tangga, dibombardir pula. Agama satu-satunya solusi malah dijauhkan dari kehidupan. 

Jika saja kehidupan saat ini memakai sistem Islam, dan sangat bisa sistem sekarang diganti dengan sistem Islam, maka cahaya akan menerangi setiap relung generasi dan memadamkan kobaran api kebengisan. Hanya sistem Islam yang mampu meredakan kekerasan dan membangkitkan semangat meraih ridha Allah. Mari tiap generasi mengkaji Islam secara kaffah dan menyebarkannya secara kaffah pula.
Wallahu a'lam bishshawab. []


Oleh: Imas Royani, S.Pd.
Aktivis Muslimah
Baca Juga

Post a Comment

0 Comments