Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Sumber Daya Alam Dikeruk, Wisata Berlabel Halal Jadi Solusi?


TintaSiyasi.com -- Objek wisata alam begitu dilirik oleh pemerintah karena pemasukan negara yang kurang, sehingga objek yang tidak strategis menjadi jalan untuk negara dalam mengatasi kemiskinan.

Dikutip dari Katadata.co.id (3/6/2023), Indonesia menjadi surga wisata halal dunia dengan meraih predikat Top Muslim Friendly Destination of The Year 2023 dalam Mastercard Crescent Rating Global Muslim Travel Index (GMTI) 2023 di Singapura. 

Senada dengan Republika.co.id (2/6/2023), Indonesia berhasil meraih peringkat tertinggi Global Muslim Travel Index (GMTI) 2023 dari Mastercard-Crescent Rating. Indonesia dan Malaysia berbagi tempat di puncak dengan sama-sama mengantongi skor 73. Sebelumnya, Indonesia juga sempat sama-sama berada di peringkat pertama GMTI bersama Malaysia pada 2019. 

Indonesia baru-baru ini mendapatkan penghargaan wisata halal, sebagai penduduk yang mayoritas Muslim, wisata halal memang menjanjikan pemasukan untuk negara, namun anehnya pemerintah lebih berfokus pada wisata halal ini yang sebenarnya pendapatannya tidak memakmurkan masyarakat. Adapun pemasukan yang besar sebenarnya berasal dari tambang, batu bara dan sumber daya alam lainnya yang tidak dikelola oleh negara secara benar, sayangnya SDA ini diserahkan kepada pemilik modal sehingga menyebabkan kerugian bagi masyarakat secara keseluruhan.

Kekayaan alam yang seharusnya menjadi milik rakyat malah diambil oleh asing yang dikorporasi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dan hanya memikirkan kepentingan pribadi. Sehingga terjadi kemiskinan yang sistematis di masyarakat sedangkan negara mengharapkan pemasukan dari sektor wisata yang hasilnya tidak mungkin dapat dijadikan modal mensejahterakan rakyat.

Kehancuran serta kemiskinan yang terjadi saat ini diakibatkan oleh penerapan sistem yang salah yaitu sistem kapitalisme yang berasaskan sekuler yaitu memisahkan agama dan kehidupan. Terlebih, kapitalisme lebih mementingkan urusan para pemilik kapital, sehingga mereka ini berlomba-lomba untuk memperkaya diri sendiri tanpa memperdulikan rakyatnya.

Berbeda halnya dengan sistem Islam yakni khilafah yang berasaskan yaitu akidah islamiyah yang berlandaskan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Khilafah akan mengelola seluruh SDA yang strategis untuk kepentingan rakyatnya.

Dalam khilafah, wisata bukan sebagai sumber pemasukan negara melainkan sebagai sarana dakwah. Wisata yang terdapat banyak pengunjung baik Muslim maupun non-Muslim, sehingga bagi yang beriman makin kokoh imannya dan yang non-Muslim akan ada proses dakwah dengan memanfaatkan objek wisata alam agar di dalam diri mereka muncul keyakinan dan keagungan terhadap Sang Pencipta. Objek wisata dalam khilafah akan dikelola dengan keindahan alam atau berupa peninggalan bersejarah dari peradaban Islam.

Negara khilafah tidak akan ada penghasilan negara dari wisata halal dan tidak ada dikotomi wisata halal, karena pemasukan negara berasal dari tiga sektor yaitu pertama pos kepemilikan negara yang berasal dari pengelolaan harta kepemilikan negara seperti harta ghanimah, kharaj dan lain-lain. Kedua harta kepemilikan umum yakni sumber daya alam seperti tambang, batu bara, emas dan lain-lain. Terakhir pos zakat yang berasal dari harta zakat fitrah, zakat mal, wakaf, shadaqah, dan infak. Inilah negara khilafah yang memiliki sumber pemasukan yang tepat sesuai dengan syariat Islam. []


Oleh: Armayani
Aktivis Muslimah
Baca Juga

Post a Comment

0 Comments