Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Pudarnya Falsafah Hidup ABS-SBK di Minangkabau, Mengapa?


TintaSiyasi.com -- Gubernur Sumatera Barat mengungkapkan kegelisahannya. Pasalnya, telah pudar implementasi falsafah hidup ABS-SBK masyarakat terutama di kalangan anak muda. Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) memiliki makna yang mendalam yakni adat di minangkabau haruslah berlandaskan syariat Islam.

Di sini jelas bahwa Islam menjadi dasar dan konsep yang kokoh dalam membentuk karakter masyarakatnya seperti yang sudah ditetapkan para ulama dan pejuang terdahulu. 

Sangat setuju dengan ungkapan Pak Gubernur seperti dilansir dari sumbar.antaranews.com pada Senin (19/6/2023), beliau menuturkan soal beratnya tantangan saat ini, mulai dari aspek pergaulan yang bebas, penyimpangan prilaku seksual, penyalahgunaan obat terlarang, tawuran dan lain sebagainya begitulah sekelumit problematika masyarakatnya. 

Curahan hati Pak Gubernur tersebut, jika dicermati mengapa terjadi atmosfer keberislaman yang memudar di tengah masyarakat. Adalah karena konsep beragama umat hari ini telah terkontaminasi dengan paham lain yang bukan berasal dari Islam yakni konsep moderasi agama. Padahal jika membaca jejak sejarah, dahulu masyarakat minang teguh memegang konsep falsafahnya yang luhur.

Paradigma moderasi agama ini bertujuan untuk mengaburkan konsep Islam yang benar menuju Islam ala Barat. Kemudian mencampuradukkan agama, mendeskreditkan ajaran Islam dan mengikis akidah umat bahkan menjegal dakwah Islam kaffah.

Sederhananya moderasi agama adalah proyek Barat untuk membuat umat ini tidak saja kehilangan budaya, tetapi juga identitasnya sebagai seorang Muslim secara perlahan namun pasti. 

Di sisi lain, pemerintah sendiri yang menggalakkan narasi moderasi agama hingga memasukkannya ke dalam kurikulum pembelajaran, tetapi di saat yang sama juga mengeluhkan efeknya.

Beginilah efek yang terjadi karena pada faktanya umat yang telah tercekoki paham moderasi yang berasaskan pemisahan urusan agama dengan kehidupan membuat jauhnya masyarakat dari aturan Islam karena telah tergantikan dengan tata aturan dan paradigma barat. 

Walhasil, pergaulan bebas hingga perzinaan marak terjadi, prilaku menyimpang juga semakin mengerikan menyerang generasi dan kerusakan lainnya yang meliputi berbagai lini kehidupan. Kita menyadari, pergolakan antara yang benar dengan yang mungkar tidak akan pernah berakhir sejak dari masa Rasulullah hingga hari akhir nanti. Begitu juga yang dihadapi umat hari ini, tidak mengherankan paradigma yang keliru menjadi senjata untuk melawan paradigma yang berasal dari pemikiran Islam. 

Meskipun budaya dengan basis syariat Islam, masyarakat yang dahulunya masih kental dan melekat dengan nilai religius kemudian secara perlahan mulai rapuh lalu tercerabut dari akarnya. Begitulah paradigma barat ibarat racun pahit yang meracuni dan merusak sendi-sendi pemikiran umat. 

Oleh karena itu, perlunya solusi fundamental untuk mengembalikan aturan Islam ke tengah-tengah kehidupan. Pentingnya  sinergi para tokoh pemangku jabatan, alim-ulama, cendikiawan atau intelektual muslim agar mengajak masyarakat untuk mempelajari Islam mulai dari akidah, syariah, lalu menerapkan total aturan Islam dan mendakwahkan Islam secara kaffah untuk membendung arus moderasi beragama. Jika sudah demikian, otomatis budaya dan  falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) terang menderang melingkupi ranah minang tanpa memudar lagi, insyaallah. []


Oleh: Tenira, S.Sos.
Aktivis Muslimah
Baca Juga

Post a Comment

0 Comments