Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Mencetak Karakter Anak Bangsa Melalui Literasi

TintaSiyasi.com -- Kemajuan suatu bangsa dimensi yang paling menentukan ialah perihal literasi bangsanya. Dengan literasi yang baik maka akan tertanam dan terbentuk pola pikir serta kemandirian berpikir serta kebijaksaan emosional. Hal ini bisa diperhatikan dari kebanyakan negara maju saat ini yang terus menggalakkan pentingnya literasi untuk anak serta dampaknya untuk masa depan.

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Program For International Student Assessment (PISA)yang dirilis Organisazation For economic Co-operation and Development (OEDC)pada 2019, Indonesia menempati ututan ke 62 dari 72 negara di dunia. Dan laporan dari UNESCO menyebutkan minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001% yang berarti dari 1000 orang hanya da 1 orang yang mempunyai minat membaca.

Hal ini harus menjadi kekhawatiran bersama baik para tokoh masyarakat, para guru dan para pemangku kebijakan di negeri ini, bagaimana tidak dengan kekayaan alam yang sangat melipmah dari darat, laut dan udara memiliki simpanan yang melimpah untuk menghidupi rakyat indonesia yang saat ini berkisar 273,52 juta Jiwa dengan jumlah pertumbuhan 1,07 % pertahun.

Dengan kekayaan yang melimpah seharusnya indonesia mampu menjalani kehidupan bernegara dengan damai dan sejahtera tanpa harus mengalami kesulitan dalam ekonomi, namun faktanya oleh sebab tidak mampu mengelola kekayaan alam dengan baik sulit mengalokasikan setiap anggaran untuk belanja dan kebutuhan rakyat.

Esensinya akan dengan mudah memberdayakan semua insan yang memiliki kehebatan dalam bidang yang dibutuhkan negara saat ini, namun justru yang di dapat dari para ahli jika bekerja di dalam negeri tidak sebanding dengan bila bekerja di luar negeri atau swasta. Bukan perkara mudah untuk memperbaiki tatanan instansi yang saat ini sedang berjalan namun tidak ada kata terlambat untuk membenahi semua hal yang di rasa perlu untuk di restrukturisasi demi kemaslahatan bersama dan efisiensi pekerjaan.

Berpijak dari data yang dirilis oleh PISA diatas, maka bisa ditarik gambaran untuk proyeksi mendatang bagaimana menghadirkan minat baca anak- anak Indonesia melalui beragam hal. Saat ini terjadi miskonsepsi terkait dengan kebijakan pemerintah di beberapa daerah, yakni salah satunya tidak memperhatikan nasib perpustakaan dan sumber bahan bacaan untuk anak di daerah.

Hal ini menjadi catatan penting bagi pemangku kebijakan dan para tokoh masyarakat yang memiliki tanggung jawab moral menjaga keberlangsungan kehidupan anak bangsa di masa yang akan datang.

Evaluasi Kebijakan Daerah

Melalui observasi di lapangan ternyata ada banyak daerah yang tidak menghadirkan ruang dan tempat sebagai arena anak- anak bermain serta mendapatkan bahan bacaan. Kementerian terkait yakni Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan Riset Dan Teknologi harus lebih memprioritaskan anggaran untuk pembangunan dan pemgembangan perpustaakan daerah. Penelitian dan bahan bacaan yang mudah di akses baik secara offline maupun online akan memudahkan anak-anak menemukan minat bacaan nya yang sesuai.

Ekseskusi terhadap embel-embel giatkan literasi Indonesia tidak berbanding lurus dengan keadaan di daerah, pasalnya masih banyak daerah yang kesulitan mendapatkan buku-buku dan bahan bacaan yang dibutuhkan masyarakat. Bukan perkara mudah untuk menghadirkan minat baca di kalangan masyarakat awam, terutama para generasi penerus bangsa yang memiliki andil besar dalam mengisi wajah indonesia di masa yang akan datang.

Namun hal semacam ini akan dengan mudah diatasi bila dikeluarkan kebijakan mengenai pengembangan dan keberlanjutan literasi di daerah. Berdasarkan laporan dari Deputi bidang Pengembangan Sumber Daya Pepustakaan, Perpustakaan RI(Perpusnas), Dedi Kurniadi (25/5/2022), menegaskan jumlah koleksi di perpustakaan daerah jika dibandingkan dengan jumlah penduduk indonesia Rasionya 1:90. Artinya 1 buku ditunggu oleh 90 orang, dan menurut standar UNESCO 1 orang itu menunggu 3 buku. Hal ini sangat memprihatinkan dunia literasi Indonesia yang tidak diperhatikan dengan baik. 

Kurangnya Sosialisasi Orang Tua

Dengan kehadiran sang anak dalam rumah tangga akan semakin menambah keharmonisan dalam mejalani kehidupan suami istri. Namun, akan menjadi problem bila sejak dini tidak diajarkan nilai-nilai yang luhur dalam berinteraksi dengan orang lain terutama dengan teman- teman sebayanya. Ada banyak sekali dampak yang diterima oleh sang anak yang tidak mendapatkan pengajaran yang baik perihal berperilaku yang sopan dan menghargai orang lain. Salah satu cara mendidik sejak dini ialah menampilkan hal- hal yang baik di hadapannya, baik secara visual, audio, maupun audio-visual.

Gerakan literasi indonesia terus digencarkan bila tidak didukung oleh orang tua yang melek dengan problematika saat ini akan justru memperunyam masalah. Sebagai gambaran, dengan memberikan perhatian yang serius pada sang anak yang memilki bakat yang unik baik di bidang olahraga, seni, teknologi, budaya, agama, politik, dan lain-lain. Maka lambat laun sang anak akan memahami arah tujuan hidupnya dan dengan memahami tinjuan yang jelas dari hidupnya akan menambah aset negara keahlian dalam satu bidang untuk mengelola kekayaan alam Indonesia.

Semua berawal dari unit terkecil dari peradaban manusia yakni keluarga. Pokok dari semua problematika yang terjadi juga berawal dari keluarga, bila banyak terjadi kekacauan dalam keluarga maka akan banyak problem yang harus diselesaikan oleh aparat penegak hukum. Oleh karena itu perlu ada penyegaran dan pendampingan dalam unit terkecil masyarakat di negeri ini untuk meningkatkan efektivitas dan kualitas generasi emas. Sebaliknya bila yang terjadi justru penyampaian yang salah dalam keluarga dan saling menyalahkan dalam internal masyarakat akan menimbulkan efek baru yakni anak-anak semaki merajalela berbuat sesuka hatinya tanpa diperhatikan oleh kedua orang tua dan masyarakatnya.

Kondusifitas Di Sekolah 

Semua hal terjadi di sekolah sudah barang tentu menjadi tanggung jawab para guru dan kepala sekolah. Termasuk mengatasi rendahnya literasi di kalangan anak-anak bisa digenjot melalui sekolah-sekolah, sebagai patokan sederhana dengan menerapkan 1 anak 1 buku perbulan. Maka dalam 1 tahun akan ada 12 buku yang dibaca oleh sang anak. Ini bila diterapakan 1 buku, bila dikalkulasikan dalam satu sekolah  perbulan ada kurang lebih 400 siswa maka akan ada 400 buku yang dibaca oleh siswa. Ini baru perkiraan 1 bulan 1 buku, mustahil rasanya 1 bilan hanya 1 buku terlebih lagi anak- anak zaman sekarang sudah lancar membaca dan sangat lihai dalam memperhatikan bahan bacaan.

Bila 1 anak bisa menuntaskan 1 buku 2 bahkan 3 buku akan terlihat dalam beberapa tahun yang akan datang, akan bermunculan anak-anak yang cerdas dan berprestasi yang akan membanggakan serta memberikan efek positif bagi orang tua, sekolah dan masyarakat nya. Bila semua pihak bekerja sama memberikan semua kekuatannya untuk membentuk karakter anak bangsa yang sesungguhnya, maka akan terlihat sempurna peradaban yang penuh dengan teknologi canggih, ilmu pengetahuan meningkat, serta kekuatan bangsa yang terstruktur berkat kehebatan menebarkan pesona literasi pada generasi muda.[]

Oleh: Sabarnuddin
(Mahasiswa Sejarah Universitas Negeri Padang)


Baca Juga

Post a Comment

0 Comments