Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Rusaknya Moral Adalah Bukti Hilangnya Fungsi Pendidikan

TintaSiyasi.com -- Seharusnya, bulan Ramadan adalah bulan yang bisa memotivasi kita untuk lebih banyak berbuat baik dari pada bulan-bulan yang lain. Namun miris, yang terjadi saat sekarang malah sebaliknya. Manusia tidak malu seakan hilang akal untuk melakukan tindakan keji pada saat bulan mulia ini. Minggu lalu terjadi fenomena penipuan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) palsu kotak amal masjid, Jakarta Selatan, Jawa Barat. Kasat Reskrim Polres Metro Jaksel, Kompol Irwandhy mengungkap bahwa pelaku, Mohammad Iman Mahlil Lubis telah berhasil menyapu rata masjid di sekitar Jakarta Selatan dengan aksi penipuannya. Adapun banyak korban terpaksa harus menerima kerugian atas perbuatan pelaku (tirto.id, 12/4/2023). 

Usut punya usut, Mohammad Iman Mahlil Lubis adalah seorang intelektual yang sudah riwa riwi bekerja di perusahaan ternama. Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya Kombes Pol, Auliansyah Lubis mengungkap bahwa tersangka merupakan seorang mantan karyawan bank BUMN dan Manager direktur PT. BRI (Www.liputan6.com, 12/4/2023). 

Bikin ngelus dada, kejadian ini menuai respon wakil presiden RI. Dalam kegiatan di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Ma’ruf Amin mengungkap bahwa pengelola QRIS perlu melakukan pemantauan dan pengontrolan guna menciptakan keamanan sehingga tidak terjadi penyalahgunaan lagi (www.kompas.tv, 13/4/2023). 
Namun, apakah hanya dengan pemantauan dan pengontrolan salah satu pihak saja dapat menciptakan keamanan tersebut? 

Kapitalisme: Merusak Moral adalah Jalan Ninjaku

Menyedihkan, terjadinya kasus seperti ini menjadi bukti bahwa ternyata bulan mulia tidak dapat lagi mencegah dan menghentikan kepribadian buruk menjadi baik. Latar belakang pendidikan yang bagus serta otak cerdas dan jenius juga tidak menjamin seseorang untuk memiliki kepribadian yang mulia. Justru dengan kepintaran dan kejeniusannya tidak jarang ada seseorang yang menfaatkannya untuk berbuat jahat dan curang kepada sesamanya. Potensi yang seharusnya dapat berguna bagi kebaikan serta kemajuan masyarakat dan negara malah disalahgunakan untuk suatu hal yang memalukan. 

Pendidikan tidak lagi berfungsi untuk menghasilkan generasi yang beradab dan berakhlak mulia. Sekolah juga hanya formalitas untuk memperoleh kerjaan yang elit, hal tersebut menyebabkan kemunduran taraf berpikir pada umat sehingga terjadinya kerusakan moral. Kerusakan moral adalah penyakit kronis yang telah mandarah daging dalam tubuh umat.

Seakan buta lantaran tidak dapat lagi membedakan baik-buruk, halal-haram hantam. Maksiat dilakukan secara terang-terangan, tidak ada lagi rasa malu dan takut untuk berbuat maksiat. Luas cakupan teknologi yang bebas diakses dimanfaatkan oknum tidak bertanggungjawab untuk melancarkan aksi kejinya. Tidak bosan merugikan diri sendiri dan orang lain hanya untuk memperoleh uang. 

Hal tersebut tentu saja tidak lepas dari sistem buruk yang sudah makin melekat pekat dalam jiwa umat sekarang. Dampak nyata sekularisme-kapitalisme dalam keseharian umat memang tidak dapat disembunyikan. Sistem mendidik umat menjadi budak dunia, senantiasa mengejar materi untuk kesenangan dan kepuasan nafsu semata. Harta kekayaan akan diperoleh dengan cara apapun, teknologi yang berada dalam tangan kapitalis juga digunakan untuk melakukan penjajahan. Seperti itulah sistem saat ini, pemisahan agama dalam kehidupan menjadi modal untuk menjauhkan umat dari kebangkitan. 

Adapun peningkatan keamanan yang ditawarkan pihak berwenang tidak akan terbangun tanpa disertai dengan pembentukan kepribadian yang mulia. Pelaku maksiat akan selalu melihat celah dan kesempatan untuk berbuat yang tidak benar. Maka dari itu, generasi yang beradab dan berakhlak mulia tidak akan pernah lahir dari sistem sekular-kapitalis. Kepribadian mulia hanya lahir dari sistem yang mulia, jika sekular-kapitalis bukan sistem mulia, maka sudah pasti ada sistem lain yang dapat memperbaiki kondisi umat saat sekarang. 

Islam: Generasi Emas Lahir dari Rahimku

Islam memandang bahwa adab dan akhlak adalah hal yang harus dipelajari lebih dulu sebelum ilmu. Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya perkara yang lebih berat di timbangan amal bagi seorang Mu’min adalah akhlak yang baik…” (HR. At Tirmidzi).

Kepribadian mulia adalah hal yang wajib dimiliki oleh setiap individu muslim. Dengan itu, Islam menjadikan sekolah sebagai ajang untuk memperoleh kepribadian yang mulia. Moral yang baik adalah tujuan utama dari lembaga pendidikan dalam Islam. Adapun mekanisme yang dimiliki oleh Islam yaitu membangun sekolah yang kurikulum serta visi-misinya berlandaskan pada Al qur’an dan As-sunnah. 
Hal tersebut dijalankan oleh negara, satu-satunya badan yang berhak untuk menetapkan kebijakan dalam sebuah wilayah. 

Syekh Taqiyyudin An-Nabani menjabarkan bahwa negara Islam menerapkan sistematika pembelajaran yang dibagi menjadi tiga, yakni membentuk kepribadian Islamiyyah pola pikir serta pola sikapnya sesuai dengan syari’at, menanamkan tsaqafah Islam, dan yang terakhir yaitu menggali potensi atau bakat dalam diri guna membantu mengharumkan nama Islam. Sebagaimana para intelektual jaman dahulu, Islam melahirkan generasi cerdas dan berakhlak mulia. Fatimah Al-Fihri, Ibnu Sina, Al Khawarizmi, dan lain sebagainya, tumbuh dan berkembang dalam sistem mulia yakni sistem Islam. 

Dalam kacamata Islam, kekayaan duniawi bukanlah segalanya. Standar kebahagiaan seorang muslim sejati adalah ridaNya, Allah berfirman, “Ingatlah kepada-Ku niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku” (QS. Al-Baqarah: 152). Dengan itu, prioritas seorang muslim bukanlah dunia melainkan akhirat. Senantiasa berlomba-lomba untuk memperbanyak amal akhirat, mengutamakan hal-hal yang mendatangkan ridaNya, dan  menjadikan syari’at sebagai poros hidupnya. Masyarakat seperti itu hanya akan terbentuk dalam sistem Islam, itulah yang akan akan membentuk kepribadian mulia pada masyarakat. Dengan begitu, tidak akan ada lagi penyalahgunaan teknologi dan keamanan dalam negara akan tercipta.

Oleh: Annisa Sukma Dwi Fitria
Penulis
Baca Juga

Post a Comment

0 Comments