Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Anak di Bawah Umur Jadi Pelaku Kejahatan Seksual, Bukti Bobroknya Sistem

TintaSiyasi.com -- Belakangan ini sedang viral di media seorang siswi TK di Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto diduga diperkosa 3 bocah laki-laki SD yang baru berusia 8 tahun. Korban mendapat perlakuan tak senonoh secara bergiliran. Kasus itu masih dalam proses penyelidikan oleh pihak kepolisian setempat. Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Mojokerto Ajun Komisaris Polisi Gondam Prienggondhani membenarkan bahwa pihaknya menerima laporan kasus tersebut. "Sementara dalam proses penyelidikan," ujarnya, Jumat (20/1/2023). 

Kuasa hukum korban, Krisdiyansari menceritakan, peristiwa perkosaan itu terjadi pada 7 Januari 2023 lalu antara pukul 11.00 sampai 13.00 WIB. terduga pelaku merupakan tetangga korban dan teman sepermainan. Menurut Krisdiyansari, korban diduga diperkosa di sebuah rumah kosong. "Pelaku pertama memperkosa korban. Kemudian dia menyuruh temannya melakukan hal yang sama. Jika tidak, mereka diancam mau dipukul dan tidak dijadikan teman. Pengakuan korban, dua pelaku memperkosa, satunya mencabuli," kata Krisdiyansari kepada detikJatim, Rabu (18/1/2023).

Ibu korban mengadukan apa yang dialami putrinya ke P2TP2A Kabupaten Mojokerto pada Selasa (10/1/2023) pagi. Sehingga terhadap korban dilakukan pemeriksaan oleh psikolog. Pelaporan oleh ibu korban tentang dugaan pemerkosaan terhadap putrinya itu berujung pada pemeriksaan visum terhadap korban yang dilakukan atas rekomendasi Polres Mojokerto.
Proses visum terhadap korban itu dilakukan di RSUD Prof dr Soekandar, Mojosari. Hasilnya, menurut Pengacara Ortu Korban Krisdiyansari, visum itu menunjukkan memang ada luka akibat benda yang dipaksa masuk ke alat kelamin korban. "Hasil visum memang mengatakan ada luka akibat memaksakan benda masuk ke dalam alat kelamin korban," klaim Krisdiyansari.

Pada saat psikolog melakukan pemeriksaan terhadap korban, siswi TK besar itu pada akhirnya mengaku sudah 5 kali diperkosa salah satu terduga pelaku. Sedangkan 2 terduga pelaku lainnya hanya melakukan di tanggal 7 Januari 2023. "Yang 4 kali sepanjang 2022 di rumah salah seorang pelaku persis di sebelah rumah korban. Ketika kedua orang tua pelaku bekerja jualan sayur sehingga tidak ada orang di rumah," jelasnya.

Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak KemenPPPA Nahar menyatakan bahwa pihaknya masih melakukan pemantauan dan penyelidikan tentang latar belakang kasus itu. "Kami masih terus memantau dengan dinas pengampu isu perempuan dan anak di daerah sekaligus mencari tahu latar belakang kejadian tersebut," ujar Nahar dilansir dari detikNews, Sabtu (21/1/2023). 

Peristiwa ini adalah bukti generasi saat ini sudah rusak, anak di bawah umur yang belum baligh yang seharusnya hanya tau mainan saja tapi sekarang sudah menjadi pelaku dari kasus kejahatan seksual, sangatlah miris. Peristiwa ini adalah dampak dari penerapan sistem kehidupan saat ini yakni penerapan sistem sekuler kapitalis yang menjauhkan nilai-nilai islam dari kehidupan. Mulai dari lemahnya peran pengasuhan dimana kebanyakan peran ibu teralihkan, mereka memilih meninggalkan anak sendiri di rumah untuk pergi bekerja sehingga lalai dalam mendidik dan mengawasi anak-anaknya, rusaknya sistem pendidikan yang tidak dilandasi atas ketakwaan kepada Allah SWT dan lemahnya kontrol negara atas sistem informasi, tontonan media sosial saat ini sangatlah bebas tidak ada filter sama sekali, konten-konten dewasa mudah diakses di mana-mana. Sekularisme ini telah menyuburkan gaya hidup bebas tanpa aturan benar salah dan baik buruk dari agama, menganggap agama harus ditinggalkan dalam berinteraksi sosial, dan memprioritaskan kesenangan duniawi. Dengan paradigma seperti ini terciptalah suasanan atau lingkungan yang mendukung kebiasaan-kebiasaan masyarakat yang sukanya bersenang-senang memenuhi nafsu birahi dan sejenisnya. Selain itu ada juga misi liberalisasi yang tersistematis dan terorganisir oleh kafir Barat untuk merusak generasi muda Muslim, misi tersebut adalah menanamkan paham liberalisme dan hedonisme yang menjadikan generasi berprilaku bebas dan kebablasan sehingga sistem pendidikan, pergaulan, pengasuhan anak, dan sistem informasi berjalan di bawah paradigma sekuler-liberal yang didukung negara.

Fakta seperti ini tidak mungkin ditemukan pada sistem kepemimpinan Islam yakni Khilafah Islamiyah. Khilafah akan menjadikan ideologi Islam sebagai sandaran segala kebijakan dan aturan yang diterapkan dibtengah masyarakat. Pendidikan Islam bertujuan mencetak generasi yang bertakwa bukan hanya pintar dalam berteori tetapi pengetahuan dan  pemahamannya tercermin dalam amalnya, keimanan menjadi pondasi perbuatannya. Negaralah yang menjadi penanggung jawab utama, seperti sabda Rasulullah SAW, “Imam itu adalah pemimpin, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya” [HR.Al-Bukhari]. Negara bertanggung jawab menjaga stabilitas keluarga pada setiap warga negaranya, memastikan penanggung jawab keluarga yakni suami memiliki pekerjaan yang layak untuk mendapatkan penghasilan yang mencukupi kebutuhan keluarganya sehingga dalam keluarga istri memiliki waktu yang cukup untuk fokus menjalankan  perannya sebagai ibu yang mendidik,  mengasuh, dan mengawasi anak-anaknya karena seorang ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Untuk mencetak generasi tangguh negara juga bertanggung jawab menerapkan sistem pergaulan Islam, dengan penerapan sistem pergaulan Islam ini, akan membentengi generasi dari kerusakan, negara tidak akan membiarkan adanya pergaulan bebas antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram. Pendidikan keluarga dan sekolah harus sejalan dengan kehidupan nyata di masyarakat, maka dari itu negara berkewajiban membangun masyarakat yang dinaungi suasana keimanan yang kuat dan dibarangi dengan kepedulian serta menegakkan amar makruf nahi mungkar. Pendidikan yang baik juga tidak luput dari media massa, media massa harus mencerdaskan dan mengukuhkan tujuan pendidikan. Oleh karena itu hanya sistem khilafahlah yang dapat mewujudkan kepribadian mulia generasi.

Wallahu a'lam bishshawab. []


Oleh: Arini Fatma Rahmayanti
Aktivis Remaja
Baca Juga

Post a Comment

0 Comments