Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Begitu Sulit Menangani Banjir, Islam Punya Solusi


Tintasiyasi.com -- Bencana banjir melanda sejumlah wilayah di Indonesia, salah satunya di Jawa Timur tepatnya di Blitar. Dari pantauan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, lokasi banjir terparah berada di Wilayah Blitar Selatan. Sejumlah warga di wilayah tersebut dilaporkan masih terjebak di dalam rumah. (kompas.co.id

Begitu juga di Jawa Barat, banjir menerjang pemukiman warga di sejumlah RW di Desa Dayeuhkolot, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung. Banjir terjadi dengan ketinggian air mencapai 70cm. Berdasarkan kaji cepat petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung. Banjir merendam sekitar 8 RW, salah satu wilayah terdampak adalah RW 01 Kampung Babakan Sangkuriang dengan ketinggian air berkisar 10-70cm. (liputan6.com)
 
Sedangkan banjir yang terjadi di luar Jawa, yaitu terjadi di wilayah Kabupaten Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat. Banjir menyebabkan sebanyak 3.590 KK atau 11.419 jiwa yang tersebar di lima keamatan terdampak banjir. Pemerintah setempat telah menetapkan status tanggap darurat untuk merespon bancana tersebut (bnpb.go.id

Selain itu, bencana banjir juga terjadi di Sulawesi Selatan. Informasi awal Pusat Krisis Kesehatan terhadap bencana banjir yang terjadi di 4 Kecamatan, yaitu Kecamatan Lamasi Timur, Kecamatan Larompong, Kecamatan Walenrang, Kecamatan Walenrang Timur Kabupaten Luwu - Sulawesi Selatan pada tanggal 09/10/2022. Hujan dengan intensitas tinggi mengakibatkan banjir dengan ketinggian air 100m, sebanyak 124 KK / 496 orang terdampak banjir (pusatkrisis.kemenkes.go.id

Di Kota Sorong, Papua Barat, diperkirakan lebih dari 1000 keluarga yang tersebar di enam kecamatan terdampak banjir. Kepala Seksi Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Sorong Donatus Rahanau, saat dihubungi dari Jayapura, mengatakan bahwa banjir terjadi setelah hujan melanda mulai pukul 13.25 WIT sampai pukul 17.40. Selain itu, terjadi kenaikan air akibat pasang laut hingga 1,5m sekitar pukul 20.00.(kompas.co.id

Bencana banjir seringkali terjadi di Indonesia dan terus berulang. Maka ketika banjir itu suatu bencana yang terus berulang, harusnya saat banjir terjadi lagi bisa diantisipasi oleh pemerintah. Apalagi banjir di bulan Oktober 2022 ini, sebelumnya Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sudah memberikan peringatan dini cuaca ekstrem pada 7-9 Oktober 2022. BMKG dalam laman resminya melaporkan sirkulasi siklonik terpantau di sebelah barat Kalimantan Barat dan sebelah utara Kalimantan Tengah yang membentuk daerah pertemuan dan perlambatan kecepatan angin (konvergensi) memanjang dari Kalimantan Selatan hingga Kalimantan Tengah dan di Kalimantan Barat. Kemudian, daerah konvergensi lain terpantau memanjang di Aceh, dari Riau hingga Kepulauan Riau, dari Sumatera Selatan hingga Kepulauan Bangka Belitung, di Lampung, dari Jawa Barat hingga Banten, dari Jawa Timur hingga Jawa Tengah, di Laut Jawa, dari Sulawesi Tenggara hingga Sulawesi Barat, di Sulawesi bagian utara, Maluku Utara, Papua Barat dan Papua. (Bisnis.com

Meskipun sudah ada peringatan dini cuaca ekstrem dari BMKG, tetapi bencana banjir masih tetap terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia. Hal ini dikarenakan sistem yang bercokol di negeri ini adalah sistem Kapitalisme. Dalam sistem Kapitalisme, penguasa hanya berperan sebagai regulator saja. Di sisi lain standar yang digunakan dalam mengambil keputusan atau kebijakan adalah kemanfaatan dan materi semata. Hubungan antara penguasa dan rakyat didasarkan pada untung rugi, yang mana jika memberikan keuntungan akan dilaksanakan atau diperhatikan dan jika tidak memberikan keuntungan atau rugi maka diabaikan. Seperti itulah hubungan penguasa dan rakyat di sistem Kapitalisme yang hanya mencari keuntungan dan tidak peduli pada kepentingan rakyat. Sedangkan penguasa lebih peduli para pemilik modal yang mana pemilik modal bisa memberikan keuntungan sebanyak-banyaknya. Misalkan dalam pembangunan gedung yang tidak memperhatikan tata kelola kota, daerah resapan yang harusnya bisa meresap air malah dibangun gedung yang akhirnya air langsung menuju ke pemukiman warga, juga tidak mempertimbangkan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), yang jelas hal itu akan menyebabkan banjir. 

Begitu juga banjir yang terjadi di Kalimantan bukan hanya karena curah hujan yang tinggi, tetapi terjadi akibat dari tata kelola lingkungan dan eksploitasi sumber daya alam dan pembukaan lahan untuk perkebunan sawit di Kalimantan, sehingga menyebabkan rusaknya daya tampung air resapan dan daya dukung lingkungan terhadap keseimbangan alam karena berkurangnya hutan dan daerah aliran sungai. 
Bencana banjir terjadi akibat akumulasi dari bukaan lahan. Berdasarkan laporan tahun 2020 terdapat 814 lubang tambang milik 157 perusahaan batu bara yang masih aktif bahkan ditinggal tanpa reklamasi, dan perkebunan kelapa sawit yang mengurangi daya serap tanah (Suara.com

Dari sini, sangat terlihat bagaimana keberpihakan penguasa kepada para pemilik modal. Siapa pun yang memberikan keuntungan maka akan dijadikan kawan dan dipermudahkan kepentingannya. Kepentingan pemilik modal yang meskipun nantinya akan memberikan dampak buruk bagi rakyat, atau pun mendatangkan bencana yang sampai merenggut nyawa rakyat tidak berdosa, maka tidak akan menghentikan keberpihakan penguasa kepada para pemilik modal. 

Hal ini, sangat berbeda dengan penguasa dalam islam. Penguasa adalah roin (penanggung jawab), penguasa akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpin, atas segala tindakannya kepada Allah SWT. Kepemimpinan dalam islam adalah amanah, titipan Allah SWT, bukan sesuatu yang diminta, dikejar, apalagi seperti saat ini yang diperebutkan dengan cara saling serang, saling menjatuhkan pihak lawan. Tugas pemimpin dalam sistem islam adalah menjamin terlaksananya seluruh syariat islam dengan sempurna, menjalankan tugasnya dengan landasan ketaqwaan kepada Allah SWT, dan tujuan menjadi pemimpin dalam islam adalah meraih ridho Allah SWT.

Seorang pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpin. Dengan kesadaran ini seorang pemimpin akan benar-benar serius mengatasi bencana dan bahkan melakukan upaya pencegahan jika memang ada indikasi akan terjadinya bencana tersebut termasuk banjir. Memang bencana itu datang karena kehendak Allah SWT, tetapi kita perlu intropeksi dan berupaya untuk mengatasi banjir agar tidak terus terjadi. 

Butuh solusi tepat dalam penanganan banjir yang terjadi agar banjir tidak berulang, yaitu menggunakan teknologi penanganan banjir, seperti teknologi peresapan terbaik dengan memperbanyak penanaman pohon di lahan kosong terutama di daerah hulu. Juga membutuhkan teknologi untuk pembuangan debit air yang terlalu besar karena sungai tidak mampu menahan air, contohnya teknologi kanalisasi, dan pompanisasi. 

Dalam masa keemasan islam dibangun bendungan-bendungan dengan berbagai macam tipe, yang dibangun untuk mencegah banjir maupun keperluan irigasi. Misalkan di Provinsi Khuzestan, daerah Iran selatan yang masih berdiri kokoh bendungan yang dibangun untuk irigasi dan pencegahan banjir. Diantaranya adalah bendungan Shadravan, Kanal Darian, Bendungan Jareh, Kanal Gargar, dan bendungan Mizan. Kemudian, membuat kebijakan tentang master plan, di mana dalam kebijakan tersebut ditetapkan kebijakan terkait pembukaan pemukiman atau kawasan baru yang harus menyertakan variable drainase, penyediaan daerah serapan air, sehingga bisa mencegah kemungkinan banjir. Sedangkan ketika bencana ternyata masih terjadi meskipun sudah ada upaya pencegahan, maka negara akan segera bertindak melibatkan seluruh warga yang dekat dengan daerah bencana seperti menyediakan tenda, makanan, pakaian dan pengobatan yang layak.

Negara juga akan mengerahkan para alim ulama untuk memberikan tausiyah bagi korban agar mengambil pelajaran dari musibah yang menimpa mereka, juga menguatkan keimanan mereka agar tetap sabar, dan tawakal kepada Allah SWT. 
Tentu semua itu tidak akan terwujud ketika sistem Kapitalisme masih bercokol di negeri ini. Karena itu hanya bisa dilakukan dalam sistem islam yang diterapkan secara kaffah. Maka, sudah saatnya membuang jauh sistem Kapitalisme karena bukan berasal dari Pencipta. Kembali pada sistem islam yang berasal dari pencipta manusia yang akan membawa rahmat bagi seluruh alam.



Oleh: Safda Sae, S.Sosio
Aktivis Dakwah Kampus

Baca Juga

Post a Comment

0 Comments