Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Mewujudkan Pendidikan bagi Peradaban Manusia


TintaSiyasi.com -- Pendidikan adalah upaya terstruktur dan sistematis untuk mewujudkan generasi selanjutnya. Kualitas generasi yang dihasilkan tergantung asas pendidikan yang ditetapkan oleh pemerintah. Asas pendidikan tidak boleh seenaknya ditetapkan berdasarkan pada kepentingan materi semata, karena sejatinya dia akan menentukan apakah output yang dihasilkan mampu menjadi manusia unggul atau tidak?!

Mengingat banyak permasalahan yang melingkupi dunia pendidikan di Indonesia saat ini, maka pendidikan alternatif bisa menjadi contoh untuk mengantisipasi bahkan menyelesaikan masalah pendidikan secara tuntas. Lebih jauh, pendidikan alternatif ini bahkan akan mampu mewujudkan peradaban yang gemilang. Raihannya tidak main-main. Imtak dan iptek sekaligus.

Mari mengenal pendidikan alternatif ini. Hal yang penting dalam pendidikan adalah mengetahui tujuan pendidikan. Dalam Islam tujuan pendidikan yaitu:
Pertama. Membentuk manusia bertakwa yang berkepribadian Islam dengan pola pikir dan pola sikap didasarkan pada akidah Islam.
Kedua. Mencetak ilmuwan, ulama, pakar yang kapabel dalam jumlah massal yang mampu memenuhi kebutuhan umat dan negara, serta membawa negara menjadi negara adidaya yang menyebarkan rahmat ke seluruh dunia.

Pendidikan bagi Islam memiliki urgensi besar dalam rangka menjaga ideologi dan tsaqofah umat. Sebab, keduanya (ideologi dan tsaqofah) merupakan tulang punggung keberadaan dan keberlangsungan sebuah umat yang khas. Tanpa memiliki suatu ideologi dan tsaqofah, maka dapat dipastikan eksistensi dan jatidiri sebuah umat akan sirna. Lebih dari itu, sebuah peradaban yang besar akan runtuh, ketika umatnya tidak mampu mempertahankan ideologi dan tsaqofah mereka.

Negara yang menerapkan pendidikan berbasis akidah Islam pernah meraih masa keemasan di bidang pendidikan setidaknya ditopang oleh dua faktor, yaitu:

Pertama, keberadaan akidah Islam sebagai asas bagi sistem dan kurikulum pendidikan negara. Tidak ada dikotomi antara agama dan ilmu pengetahuan. Bahkan syariat telah mewajibkan setiap Muslim untuk meninggalkan kebodohan, karena kebodohan adalah pangkal kekufuran. Islam mewajibkan keimanan diraih oleh seseorang dengan jalan memfungsikan akalnya untuk sampai kepada keimanan yang benar. Oleh karena itu, pendidikan Islam menerapkan dan menjaga proses berpikir rasional dalam pembelajaran sehingga ilmu ditransmisikan dari sumber yang benar. Islam juga memosisikan proses berpikir ilmiah sebagai bagian tak terpisah dari metode berpikir rasional serta menempatkan metode berpikir ilmiah pada tempatnya.

Kedua, totalitas perhatian negara terhadap penyelenggaraan pendidikan. Negara menyediakan semua instrumen dan kebijakan serta pembiayaan yang diperlukan bagi dunia pendidikan. Syariat telah mendaulat negara sebagai satu-satunya pihak yang bertanggung jawab memberikan jaminan pendidikan terhadap kaum Muslim dan warga negara kafir dzimmi yang tunduk terhadap kekuasaan Islam. Pembiayaan pendidikan seluruhnya diambilkan dari Baitul Mal dari pos fai, kharaj, dan milkiyah ammah. Negara juga membebaskan kafir muahid dan mustamin untuk mengenyam pendidikan di dalam kekhilafahan, gratis tanpa pembebanan karena syariat memerintahkan dakwah kepada semua manusia dan memperlakukan tamu dengan baik.

Dan bahwasanya tak terelakkan, kemandirian dan kekuatan visi negara menjadi faktor terpenting dalam menguasai ilmu pengetahuan dan mendesain sebuah sistem pendidikan yang berkualitas. Berikutnya, sistem politik yang diadopsi negara akan mengarahkan pengelolaan seluruh sumber daya negara dalam menggapai tujuan-tujuan politiknya. 

Di sisi lain syarat sebuah negara mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, yakni keberadaan riset yang mengarah pada penyelesaian berbagai problem yang dihadapi negara, berikut keberadaan industri yang mengaplikasikan hasil riset tersebut. Ilmu pengetahuan dan teknologi didedikasikan bagi peradaban manusia agar tetap dalam kemuliaannya. Bukan seperti dunia hari ini, kala sains dan teknologi di bawah payung ideologi kapitalisme yang menghasilkan climate change and poverty sebuah bencana besar bagi peradaban manusia.

Sejak Rasulullah SAW menerima wahyu dengan iqra-nya lalu beliau mengajarkan dan membina para sahabat dengan akidah dan syariat di rumah Arqam bin Arqam. Di Madinah, Beliau SAW membebaskan tawanan perang Badar dengan ganti setiap tawanan mengajarkan membaca dan menulis kepada 10 Muslimin. Pada masa Amirul Mukminin Umar bin Khatab membuat kebijakan gaji bulanan guru sebesar 15 dinar (setara 60,75 gr emas atau lebih dari 60 juta). Bagaimana Khalifah Harun Al-Rasyid memberikan 1000 dinar (4250gr emas kepada penghafal Al-Qur'an). Kemudian para khalifah memberikan penghargaan terhadap para penulis buku imbalan emas seberat buku yang ditulisnya.

Banyak Daar al Ilm didirikan abad 9 dan 10 Masehi di provinsi Timur dan Barat negara Khilafah. Khalifah Harun ar Rasyid memerintahkan setiap masjid harus memiliki sekolah. Abad ke-11 Wazir Nizam al Mulk mendirikan sekolah di seluruh wilayah termasuk Baghdad, Mosul, Basra, dan Herat. Hal ini diikuti oleh Khalifah Nuruddin pada abad ke-12 di Damaskus dan kota besar lain. Di Cordoba saja ada 70 perpustakaan. Pada suatu masa pemerintahan Islam terdapat 74 perguruan tinggi di Kairo, 73 di Damaskus, 41 di Yerussalem, 40 di Baghdad, 14 di Aleppo, 13 di Tripoli, dan masih banyak lagi di mana semuanya memberikan pendidikan gratis bagi puluhan ribu pelajar.

Ada Universitas al Mustanshiriah (1227 M) yang didirikan Khalifah al Mustanshir di kota Baghdad memberikan beasiswa 1 dinar dan biaya makan dan kebutuhan hidup bagi para siswa dan perawatan kesehatan gratis. Kehidupan keseharian mereka dijamin sepenuhnya oleh negara. Fasilitas sekolah disediakan, seperti perpustakaan beserta isinya, rumah sakit, dan pemandian. Juga universitas bergengsi lainnya yang dikenal dunia internasional, seperti Universitas Al-Qawariyyin di Maroko (859 M), Universitas Al-Azhar di Mesir (970 M), Universitas Sankore di Mali (abad 14 M), Universitas Istambul di Turki (abad 15 M), dan masih banyak lagi.

Jadi, bagaimana kita sanggup mengatakan tidak pada khilafah, padahal kemuliaannya berhamburan begitu rupa menghiasi peradaban manusia dalam rentang waktu yang tidak hanya sepintas, namun panjang terbentang dari masa ke masa. Maka sungguh, kebutuhan akan tegaknya khilafah makin nyata kita rasakan.

Allah SWT berfirman, "Kitab (Al-Qur'an) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran" (TQS. Saad: 29). []


Oleh: Ai Oke Wita Tarlina
Sahabat TintaSiyasi
Baca Juga

Post a Comment

0 Comments