Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Mencari Akar Kebencian Partai BJP terhadap Umat Islam di India

 
TintaSiyasi.com -- Berharap umat Islam bisa merasakan hidup tenang dan adil pada sistem selain Islam, bagaikan panggang jauh dari api. Fakta bahwa saat ini umat Islam bagaikan buih yang tidak memiliki kekuatan untuk melawan setiap ketidakadilan memang benar adanya, dari ujung Palestina hingga India, keadaan umat Islam tertindas dalam segala aspek. Salah satu negara yang saat ini tengah berjuang melawan segala bentuk diskriminasi serta gelombang kekerasan adalah India. Kekerasan yang didasari kebencian terhadap umat Islam di India bukanlah sesuatu yang baru, kita tahu India dengan penduduk mayoritas Hindu, yang mana dalam perjalanan sejarahnya sangat sulit untuk bisa hidup berdampingan dengan umat Islam. Hal yang menjadi alasan adalah karena umat Hindu hingga saat ini menyimpan kebencian yang mendalam. Umat Hindu memandang Islam sebagai ancaman yang dapat menghilangkan eksistensi Hindu di India. Padahal kita tahu, populasi umat Islam di India berada diposisi kedua, hal tersebut adalah wajar apabila kita melihat sejarah, bahwa wilayah India pernah menjadi bagian dari penaklukkan Islam. 


Akar Kebencian Partai BJP

Vinod Kumar dalam tulisannya bertajuk Indian Census and Muslim Populatuion Growth yang dikutip oleh Rebpulika pada Jumat, 18 September 2020, telah mengutip hasil sensus tahun 2001. Dari data tersebut diketahui bahwa laju pertambahan populasi Muslim satu setengah kali lebih besar dibanding pemeluk Hindu. Dalam istilahnya, perkembangan jumlah Muslim mengikuti deret geometri, sementara kaum Hindu deret aritmatika. Secara rinci pada awal tahun 1800-an, rata-rata pertumbuhan populasi Muslim masih sekitar 13 persen. Kemudian meningkat menjadi 16 persen pada tahun 1850-an serta melonjak hingga 20 persen pada era 1900-an. Bahkan, pada tahun 1947, peningkatan sekitar 24 persen. Saat ini, rata-rata pertambahan di beberapa wilayah bisa mencapai 30 persen hingga 33 persen, papar Kumar. 

Dari angka-angka itu menunjukan persentase peningkatan populasi kaum Muslim selalu lebih besar mencapai 50 persen dari pemeluk agama manapun di India. Sedangkan, pertumbuhan populasi kaum Hindu cenderung stagnan bahkan berkurang. Alasan inilah yang menghantarkan kekerasan dan sikap diskriminatif terhadap umat Islam di India, yang mana hingga detik ini tidak pernah berhenti. Sikap anti Islam di India terjadi begitu rapi dan sistematis, bahkan menjadi sesuatu yang legal. 

Kebencian terhadap umat Islam ini pun menjadi arah pandangan politik partai nasionalis Hindu Bharatiya Janta Party (BJP) dan Perdana Menteri Narendra Modi, yang mana partai tersebut menjadi partai penguasa. BJP partai yang dibentuk sejak 1980 adalah partai dengan halauan "Hindutva", sebuah ideologi politik yang mempromosikan "nilai-nilai" agama Hindu sebagai landasan masyarakat dan budaya India. Isu Hindutva yang terus-menerus diasah BJP secara agresif. Politisasi agama Hindu yang digalang BJP dalam beberapa tahun terakhir dengan kebijakan yang lebih agresif, yaitu memposisikan umat Hindu sebagai kekuasaan politik yang harus tetap eksis dan menjadikan umat Islam sebagai kelas kedua. 

Sejak BJP terpilih kembali ke tampuk kekuasaan pada tahun 2019, ketegangan antara umat Hindu dan Muslim meningkat, adanya seruan ujaran kebencian dan kampanye hitam terhadap Islam seolah menjadi sesuatu keharusan sebagai cara melindungi eksistensi mereka dari ancaman Islam. Adanya undang-undang kewarganegaraan yang disahkan pada tahun 2019 yang disebut Citizenship Amendment Act (CAA), misalnya mempercepat kewarganegaraan migran Hindu, Sikh, Jain, Parsi, Kristen dari Afganistan, Pakistan, dan Bangladesh yang tiba di India sebelum 2015, namun tidak bagi imigran Muslim. 

Di bawah kepemimpinan Partai BJP dalam sejarahnya tak ada anggota parlemen dari kalangan Muslim. Retorika anti-Muslim di masa Modi berada pada titik tertinggi sepanjang sejarah India, di mana intensitas intoleransi agama minoritas yang berkembang berkala menyebabkan kekerasaan terhadap umat Islam semakin tinggi. Bukan hanya itu penguasa India berusaha secara masif untuk menyingkirkan Islam dari sejarah India, yaitu dengan adanya seruan untuk menghancurkan masjid-masjid bersejarah umat Islam dan menggantinya dengan kuil, mereka mengklaim bahwa bangunan kuil lebih dulu dibangun dari pada masjid. Mereka berusaha keras menghilangkan situs-situs bersejarah umat Islam agar hilang dan tidak menjadi bagian dari sejarah bangsa India. 


Sejarah India Tidak Bisa Dilepaskan dari Islam

Islam masuk ke India bagaikan setitik cahaya yang mampu memberikan jalan kebenaran bagi siapa saja yang memeluknya. Sebelum Islam datang ke India, masyarakat setempat sudah hidup dengan konsep sosial Hindu yang membagi-bagi manusia ke dalam sistem kasta. Namun berbeda dengan Islam ketika datang ke India, Islam membawa konsep hidup yang lebih sempurna, menjadikan manusia sama di sisi Allah, siapa saja yang ingin mendapatkan derajat tinggi di sisi Allah, dia adalah orang-orang yang bertakwa. Konsep inilah menjadi sesuatu yang menarik di awal masa-masa kadatangan Islam ke India. Masuknya Islam ke India merupakan indikasi kuatnya aktivitas dakwah Islam ke berbagai belahan bumi. Sejarah masuknya Islam di India sendiri memiliki beberapa versi. Sebagian sejarawan menyatakan bahwa agama Islam masuk ke India sejak masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab (634-644). Selain itu, ada pula yang berpendapat bahwa Islam masuk India dibawa oleh Dinasti Bani Umayyah.

Pada tahun 644, setelah Khalifah Umar bin Khattab meninggal, pasukan Islam berhasil menaklukkan Makran di Baluchistan. Setelah itu dilanjutkan oleh Bani Umayyah di mana Islam berkembang pesat. Ekspedisi Bani Umayyah ke India dipimpin oleh panglima militernya yang bernama Muhammad bin Qasim yang mampu menguasai Sind. Pada beberapa periode sejarah umat Islam di India mengusai beberapa wilayah India, dengan mendirikan dinasti Islam dan mendakwahkannya kepada raja-raja Hindu. Hingga akhirnya dakwah Islam berkembang pesat. 


Menghentikan Kebencian terhadap Islam Hanya dengan Khilafah

Kebencian terhadap Islam terus berulang, nyata tidak ada satupun dari pemimpin umat Islam yang mampu memberikan jawaban, alih-alih melindungi mereka malah bekerja sama dengan penguasa kafir untuk membungkam kebangkitan Islam. Hanya khilafahlah yang terbukti dalam sejarahnya melindungi dan memerangi musuh-musuh Islam. 

Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّمَا الإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

Sungguh, seorang imam (khalifah) itu laksana perisai. Ia akan dijadikan pelindung dan orang-orang akan berperang di belakangnya” (HR. Muttafaq ‘alaih). 

Wallahu a'lam. []


Oleh: Anastasia, S.Pd.
Sahabat TintaSiyasi
Baca Juga

Post a Comment

0 Comments