Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Kiai Labib: Gelorakan Dakwah Sampai Umat Sadar bahwa Pangkal Kerusakan karena Tidak Diterapkan Sistem Islam


TintaSiyasi.com -- Ulama Aswaja K.H. Rokhmat S. Labib menyatakan agar menggelorakan dan menyampaikan dakwah di tengah umat secara terus-menerus, sampai umat sadar bahwa pangkal kerusakan karena tidak diterapkan sistem Islam

“Mari kita gelorakan dakwah, sampaikan dakwah di tengah umat secara terus-menerus, sampai kemudian umat sadar bahwa sebenarnya pangkal kerusakan ini karena tidak diterapkan sistem Islam,” ujarnya dalam acara Tarhib Ramadhan 1443 H: Ramadhan Berkah dengan Syariah Kaffah, Ahad (27/03/2022) secara daring di ramadhan.drip.id

Kiai Labib mengajak untuk menyerukan dakwah kepada individu, dan yang paling penting level negara, yaitu negara yang saat ini tidak berdasarkan Islam. “Kuncinya adalah diterapkan Islam oleh negara, yang dalam fikih Islam disebut khilafah. Berkah dengan syariah kaffah dalam naungan khilafah,” lugasnya.

Penguasa dan Ulama

“Ketakwaan tidak hanya bisa berlangsung secara individu. Di samping dorongan individu (internal), perlu juga ada dorongan eksternal. Dorongan eksternal paling kuat adalah negara,” ujarnya.

Ia mengutip apa yang dikatakan oleh Al-Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin, “Kerusakan rakyat itu disebabkan oleh kerusakan raja (penguasa). Rajanya rusak, buruk, menghalangi orang berbuat kebaikan, mempromosikan kesyirikan, ya rakyatnya akan ikut. Apalagi pada saat yang sama, orang yang baik ditangkapi, dikriminalisasi segala macam, ya rusaklah gitu.”
  
“Jadi, rakyat rusak disebabkan kerusakan penguasa. Mafhum mukhalafah-nya (pemahaman kebalikan) apa? Kebaikan rakyat itu berarti juga disebabkan oleh kebaikan penguasa,” imbuhnya.

Penguasa yang dimaksud adalah penguasa yang menerapkan aturan. Bisa aturan dari penguasa sendiri, bisa juga aturan yang dibuat DPR, dan segala macamnya. “Berarti, kalau ingin memperbaiki rakyat tadi, maka sistem yang buruk yang menciptakan keburukan harus diubah menjadi sistem yang menciptakan kebaikan. Nah, ini tentu saja perlu dakwah,” tandasnya.

Selanjutnya, ia menambahkan, Al-Imam Al-Ghazali mengatakan kalau kerusakan penguasa karena rusaknya ulama. “Kenapa begitu? Dia (ulama) tidak akan melakukan amar makruf nahi mungkar. Dia akan mendiamkan, membisu ketika penguasa bermaksiat, mendukung, membela, dan memberi dalil kerusakannya. Misalnya BPJS untuk rakyat, dicarikan dalilnya. Utang yang jelas-jelas riba, dicarikan dalilnya,” bebernya.

“Maka penguasa akan tenang, bahwa penguasa tidak melakukan kerusakan dan keburukan, karena ulama mendukungnya. Jadi kalau ada yang menyatakan penguasa tersebut salah, maka akan dikatakan, ‘Siapa kamu? Ini ulama di belakang saya.’,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, rusaknya ulama itu disebabkan cinta kedudukan dan harta. Ulama itu pintar, mengerti dalil, bahasa Arab, tafsir, hadis, dan sebagainya. “Kalau tidak punya ilmu, itu bukan ulama. Tetapi, kok dia mendukung itu (penguasa rusak), berarti aqliahnya bukan dari kerusakan aspek dalil, tetapi aspek nafsiah. Disebabkan dikuasai kecintaan kedudukan dan harta. Jika sudah cinta harta, maka yang halal menjadi haram, yang haram menjadi halal,” ujarnya. 

“Kita bisa balik maknanya. Kalau penguasa baik, itu juga disebabkan ulama. Artinya apa? Kalau ulamanya baik, menasihati yang mungkar, membetulkan yang salah, dan seterusnya. Penguasa ini akan mengikuti. Kalau dia tidak mau mengikuti, mungkin rakyat akan protes bahkan kemudian menggantikan penguasa yang tidak taat pada Allah dan Rasul-Nya,” paparnya.

“Dan itu (penguasa) baik ketika apa? Dia tidak tergoda, tidak bisa dibeli dengan dunia. Dia hanya takut kepada Allah Subhanahu wa Taala, hanya mengharap ridha Allah saja,” tegasnya.

Pemahaman Islam

“Kalau ingin bertakwa, (harus) punya keimanan, punya tekad yang kuat. Tetapi, semuanya yang tidak kalah penting adalah punya pengetahuan dan pemahaman tentang Islam,” tuturnya Kiai Labib.

Jika seseorang mau terikat dengan Islam, tetapi kalau tidak punya pemahaman tentang Islam, tentu dia tidak akan bisa terikat dengan semua ajaran Islam. “Maksudnya, kalau dia terikat dalam dalam perkara ibadah saja, tentu dia akan terikat dalam ibadah saja. Tetapi, kalau dia punya pemahaman bahwa Islam bukan hanya mengatur soal ibadah, tetapi juga mengatur akhlak, soal pendidikan, muamalah, sampai kemudian daulah (kenegaraan), tentulah dia akan terikat dalam seluruh aspek kehidupan yang diatur oleh Islam tadi,” ulasnya.
 
“Maka, disamping meningkatkan keimanan, pada saat yang sama meningkatkan pengetahuan pemahaman tentang Islam. Bahwa Islam adalah dinun kamilun, agama yang lengkap yang menyeluruh,” pungkasnya.[] Reni Tri Yuli Setiawati
Baca Juga

Post a Comment

0 Comments