Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Kiai Labib Beberkan Kerusakan dan Kebatilan Akidah Sekularisme


TintaSiyasi.com -- Ulama Aswaja K. H. Rokhmat S. Labib beberkan kerusakan dan kebatilan akidah sekularisme.

"Nah, kalau kita lihat sebenarnya sekularisme adalah akidah yang batil dan kalau kita lihat kerusakannya apa hasilnya," bebernya di acara Kelas Eksekutif Ekspo Rajab 1443 H: Kritik Akidah Kapitalisme, tayang di EkspoRajab.com, Kamis (24/02/2022).

Ulama aswaja melanjutkan kerusakan akidah kapitalisme yaitu sekularisme ada beberapa poin.

"Pertama, aturan kehidupan diserahkan sepenuhnya kepada akal dan hawa nafsu manusia, akibatnya aturan yang berubah-ubah dan menjadikan manusia sebagai kelinci percobaan," sambung Kiai.

Kedua, ia menuturkan kehidupan manusia hanya berorientasi kepada materi dan kesenangan dunia.

"Kehidupan manusia tak ubahnya seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat," ungkapnya.

Ketiga, lanjut ulama aswaja, menentang dan memusuhi agama untuk mengatur kehidupan.

"Mereka yang berusaha untuk menjadikan agama untuk mengatur kehidupan ditentang dengan berbagai macam tuduhan, disebut sebagai intoleran lah, Radikal dan segala macam," ujarnya.

Menurut Kiai Labib, sapaan akrabnya, jika dilihat kebatilan akidah sekularisme, terdapat dua poin. "Pertama, akidah sekularisme tidak didasarkan kepada pemikiran," cetusnya.

Ia memaparkan bahwa sekularisme adalah solusi jalan tengah, kompromi dari konflik gerejawan dengan kaum para pemikir yang atheis.

"Harusnya dilakukan pengkajian mana yang benar, apakah kaum agamawan ataukah kaum atheis. Dengan begitu akan diketahui mana yang benar dan mana yang salah," bebernya.

Menurutnya, agama boleh ada, tapi tidak boleh mengatur urusan kehidupan. Sebaliknya negara boleh ada, tetapi jangan mencampuri urusan agama. Kalau perlu agama selalu mendukung kebijakan negara, sama-sama menguntungkanlah.

"Agama yang dimaksud adalah agama untuk mengatur urusan ibadah dan paling banter adalah urusan kehidupan personal. Katakanlah wakaf, nikah, talak, cerai, rujuk," jelas dia.

Kedua, lanjut Kiai Labib, adanya kontradiksi. Akidah sekularisme banyak kontradiksi, misalnya mengakui agama namun pada saat yang sama menafikkan agama dari kehidupan. Ini jelas kontradiksi.

"Misalnya begini, agama meniscayakan keimanan kepada Tuhan dengan segala sifat-sifat yang sempurna. Allah Maha Kuasa, Allah Maha Benar, Allah Maha Adil, yang berarti apa? Mestinya ketika dia meyakini Allah Maha Benar, Allah Maha Adil, Allah Maha Mengetahui, Allah tidak mungkin salah. Berarti apa? Konsekuensinya akan  meyakini pula semua hukum Allah pasti benar, tidak mungkin salah pasti adil dan segala macamnya," sambungnya.

Tetapi, pada akidah sekularisme, katanya, Tuhan tidak boleh mengatur di dalam kehidupan ekonomi, politik, pendidikan dan segala macamnya, itu kontradiksi.

"Makanya kalau kita lihat orang orang sekuler itu tidak dipedulikan lagi dia mengerjakan apa, pokoknya nanti kalau meninggal didoakan semoga baik-baik di akhirat sana. Padahal perilakunya jelas-jelas tidak baik, jelas-jelas menentang syariat," pungkasnya.[] Heni Trinawati

Baca Juga

Post a Comment

0 Comments